“The Power of Prayer”

October 12, 2015 - kesaksian

 

 Oleh John Nobel Korompis

Suatu kesaksian yang dikirimkan pada tanggal 6 Pebruari 2003,  pada waktu  Max Lucado bersama Presiden Bush. Masa-masa ini adalah masa yang genting setelah peristiwa 911 atau September 11.

 

Max Lucado adalah seorang penulis Kristen yang sangat populer dengan  buku-bukunya yang baik mengenai Tuhan.

Minggu itu di bulan Pebruari, Max Lucado diundang  bersama beberapa tokoh pengkhotbah Kristen yang terkenal di Amerika untuk bersama-sama makan siang di White House dengan Presiden Amerika Serikat George W. Bush Jr.

Pertemuan mereka diadakan pada hari Kamis. Setelah para pendeta-pendeta yang diundang sedang duduk untuk siap makan siang dan sambil menunggu Presiden George W. Bush Jr. masuk di ruangan makan, Max Lucado berkata, saya sedang membayangkan di mana yang pasti Presiden George W. Bush Jr., akan masuk ke ruang makan dengan muka yang kecapean, serius, dan depresi. Tetapi ketika Presiden itu masuk, justru semuanya terbalik dan sangat berlawanan, justru yang dilihatnya adalah raut muka Presiden yang sangat energetic, gembira, dan sangat fokus dengan semua pembicaraan bersama para pendeta-pendeta yang hadir pada waktu itu.

 

Kemudian Max Lucado bertanya kepada Presiden Bush, bagaimana Presiden bisa kelihatan sangat tenang dan damai sementara berada di tengah-tengah malapetaka dan tragedi-tragedi yang sedang melanda Amerika Serikat?

Kemudian Presiden menjawab “Justru sekarang saya merasa lebih kuat dan teguh dibandingkan dengan kehidupan saya sebelumnya.” Mengapa demikian? Alasannya ialah bahwa setiap orang yang berada di Amerika Serikat sedang mendoakan saya. Dan ketika saya sedang bertelut dan berdoa, di situlah saya mendapat kuasa dan kekuatan.”

 

Inilah yang disebut kuasa. Suatu hal yang perlu kita tiru sebagai umat Tuhan sekarang ini, andalkan kekuatan doa yang sungguh-sungguh kepada Tuhan. Secara manusia sebetulnya Presiden Amerika Serikat sudah memiliki kekuatan di mana dia bisa mengandalkannya, tetapi sebaliknya, bukan itu yang dia andalkan, tetapi doa yang sungguh-sungguh kepada Tuhan. Sebagaimana raja Yosafat, di dalam buku 2 Tawarikh 20:3 ketika dia mendengarkan berita yang buruk akan bani Moab dan bani Amon yang siap datang berperang melawan Yosafat bersama-sama sepasukan orang Meunim. Hal yang pertama yang raja Yosafat lakukan, bukan menyiapkan semua kekuatan-kekuatannya yang dia sudah siapkan bertahun-tahun lamanya, tetap dia malahan dalam buku 2 Tawarikh 20: 3, menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari Tuhan. Datang kepada Tuhan di muka pelataran rumah Tuhan dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Itulah titik letak kekuatan kita.

Kemudian para pendeta-pendeta menanyakan kepada Presiden doa yang bagaimana yang Presiden inginkan kami doakan baginya. Dan bagaimana nantinya jemaat-jemaat kami akan mendoakan Presiden? Kemudian Presiden mengatakan; “pertama tolong doakan saya pribadi supaya saya bisa mendapatkan kemurnian dan kejernihan pikiran saya, supaya saya bisa membuat suatu keputusan yang bijaksana.”

Suatu contoh yang baik untuk kita tiru, di mana seperti raja Salomo, bukan harta yang dimintakan, atau kekuatan pasukan yang dimintakan atau kemegahan kerajaan yang dimintakan, tapi kebijaksanaan yang dimintakannya.

Hal yang kedua yang diminta oleh Presiden adalah doa khusus untuk istri dan kedua anak perempuannya di mana dia sangat prihatin akan keamanan mereka.

Suatu hal yang sangat baik untuk direnungkan, kesetiaan akan istri dan anak-anak.

Saya bukan seorang pendeta tetapi saya yakin dengan kesaksian ini, bisa membawa kekuatan iman kita kepada Yesus. Doa yang sungguh-sungguh ini bisa membawa kekuatan (power) kepada masing-masing kita. Bahkan andalan satu-satunya yang perlu kita miliki di zaman ini. Ingat, Yesus sendiri mengunakan andalan yang sama pada waktu Dia berada di muka bumi ini dengan misi menyelamatkan kita.

 

“Weeping may go on all night, but in the morning there is joy” PS 31:4b

Commit to the Lord whatever you do, and your plans will succeed. Proverbs 16:3

 

› tags: power / prayer /

Leave a Reply