“Tiga Pilar” Kekuasaan

Politik dan ekonomi itu kembar, para pemimpinnya biasanya saling memanfaatkan karena saling membutuhkan. Para politisi memerlukan dana pengusaha untuk mendukung kegiatan politiknya dan para pengusaha membutuhkan politisi untuk membuat peraturan yang menguntungkan kegiatan usahanya. Bahasa kerennya kolusi dan itu lumrah di dunia yang sudah semakin mementingkan diri ini. Tetapi fondasi dari gabungan keduanya belum terlalu kuat, oleh karena itu sering terjadi demonstrasi dari rakyat yang menjadi korban permainan mereka. Namun kalau kerjasamanya berdiri di atas tiga pilar maka kedudukannya menjadi lebih kokoh.
Pilar ketiga adalah agama yang mengikat para politisi dan pengusaha. Tidak heran kalau satu hari sebelum pertemuan penting para pemimpin G-8 pada tanggal 8 Juli 2009 yang lalu di Roma, tokoh yang bergelar ‘Bapa Suci’ mengeluarkan satu seruan penting kepada para pemimpin negara G-8 melalui buku ensiklikal ”Caritas in Veritate” (Love in Truth) di mana Paus menanggapi krisis ekonomi yang melanda dunia. Paus Benediktus XVI mengatakan: “To manage the global economy; to revive economies hit by the crisis; to avoid any deterioration of the present crisis…. there is an urgent need for a true world political authority…. and such an authority would have to be regulated by law and would need to be univesally recognized and to be vested with the effective power to ensure security for all.” Lebih lanjut dikatakan: “Obviously it would have to have the authority to ensure compliance with its decisions from all parties, and also with the coordinated measures adopted in various international forums. Without this, despite the great progress accomplised in various sectors, international law would risk being conditioned by the balance of power among the strongest nations” REUTER, 7 July 2009 – Pope calls for a “global authority” on economy.
Seruan Paus kali ini terasa berbeda dari berbagai seruan yang sebelumnya diberitakan. Memang selama ini Paus sering berbicara untuk kesejahteraan umat manusia, seperti mengingatkan negara-negara besar akan perlunya mengurangi dampak pemanasan global. Dia juga sering menyerukan dihentikannya perang bahkan perlunya dialog yang konstruktif antar agama untuk mengurangi kesalahpahaman dari banyak orang. Tetapi kali ini Paus berbicara akan perlunya satu badan resmi dunia yang khusus yang dibutuhkan manusia untuk mengatasi krisis yang dihadapi dunia. Lho, bukankah ada PBB? Ini menjadi menarik, karena Paus sendiri mengatakan perlu dilakukan reformasi terhadap PBB dan berbagai institusi ekonomi dan keuangan dunia. Lalu siapa yang akan memimpin badan khusus tersebut?
Gambarannya mungkin dapat terlihat dari bagian pernyataan Paus selanjutnya yang terkesan menyerang sistem politik dan ekonomi AS yang pemimpinnya, Barack Obama bertemu dengan Paus tiga hari setelah berakhirnya pertemuan G-8 pada tanggal 10 Juli 2009. Paus Benediktus XVI mengatakan: “The conviction that the economy must be autonomous, that it must be shielded from ‘influences’ of a moral character, has led man to abuse the economic process in a thoroughly destructive way.” Siapa lagi yang dimaksud Paus kalau bukan sistem ekonomi bebas AS yang dituduh menjadi penyebab krisis ekonomi saat ini. Paus mengklaim kalau saja selama ini para pelaku ekonomi mau mendengar himbauan moral dari para pemimpin agama tentu krisis yang sekarang terjadi dapat dihindari.
Melalui himbauan ini Paus mengingatkan dunia bahwa lembaga politik (baca: PBB) maupun lembaga ekonomi dan keuangan (baca: berbagai forum kerjasama ekonomi dunia) ternyata tidak mampu menghindari krisis ekonomi yang sekarang. Kedua pilar di atas gagal menyelamatkan manusia dari kehancuran ekonomi. Oleh karena itu mereka harus direformasi. Dunia membutuhkan pilar ketiga. Yang menjadi menarik adalah karena jika harus dicari siapa yang akan memimpin badan khusus itu, tentu sudah jelas mengarah ke mana. Siapa lagi di dunia sekarang ini yang pada saat yang bersamaan mempunyai posisi sebagai pemimpin dari ketiga pilar di atas?
Paus adalah kepala negara Vatikan dan kepala agama Katolik sedunia. Gereja Katolik boleh dibilang merupakan salah satu institusi terkaya di dunia. Belum lagi berbagai lembaga ekonomi dan keuangan dunia berada di bawah pengaruh dan kendali Vatikan. Dengan demikian pekerjaan rumah bagi para pemimpin dunia untuk mencari pemimpin badan khusus tersebut tidak terlalu sulit. Tinggal melihat apakah mereka mau sepakat untuk mengeluarkan satu peraturan untuk melembagakan badan khusus tersebut. Hal ini bisa terjadi tetapi bisa juga tidak. Yang perlu dicermati adalah apa tanggapan dan langkah yang akan diambil oleh para pemimpin dunia sehubungan dengan himbauan Paus. Apakah akan mengarah kepada memberikan kuasa kepada seseorang? Jika hal ini terjadi maka itu jelas merupakan salah satu tanda paling jelas dari rangkaian yang akan mengarah kepada kegenapan nubuatan.
Boleh jadi himbauan Paus ini semacam pengujian (test the water) untuk melihat sejauh mana para pemimpin dunia bersedia secara formal mengangkat pemimpin Vatikan tersebut menjadi pemimpin dunia. Paus mengatakan bahwa jika mereka bersedia, maka pengangkatannya haruslah dikukuhkan melalui satu undang-undang internasional (regulated by ’international’ law). Satu hari kelak jika perbaktian hari Minggu akan dipaksakan di seluruh dunia, maka hal itu akan dikukuhkan melalui satu undang-undang yang dikenal sebagai International Sunday Law.
Mungkin saja para pemimpin dunia akan menyetujui usul Paus dalam bentuk yang lain tanpa menyadari bahwa apa yang mereka lakukan saat ini akan menjadi preseden di kemudian hari. Seandainya hal itu akan dilaksanakan, maka tidak akan terlalu sulit di kemudian hari jika harus bersepakat mengeluarkan undang-undang yang bersifat agama. Bukankah tiga pilar itu akan saling terkait? Saat ini baru menyangkut politik dan ekonomi, waktunya akan datang bilamana undang-undang yang mengikat dan bersifat agama akan dikeluarkan. Kalau untuk urusan politik dan ekonomi saja (seandainya) para pemimpin dunia bersedia menunjuk Paus, apalagi nanti bilamana tiba saatnya ada himbauan untuk bersatu melaksanakan himbauan agama.
Pertemuan Paus dan Obama
Dalam kunjungan Barack Obama yang pertama ke Vatikan setelah selesainya pertemuan G-8 pada tanggal 10 Juli, Paus memberikannya sebuah buku ensiklikal yang baru yaitu Caritas in Veritate. Ensiklikal dikenal sebagai tingkatan tertinggi dari pedoman yang dikeluarkan oleh Paus bagi umat Katolik sedunia yang jumlahnya mencapai 1,1 miliar. Ensiklikal memuat pandangan resmi Gereja Katolik mengenai berbagai hal. Ada sedikit yang berbeda yaitu bahwa ensiklikal kali ini juga ditujukan kepada non-Katolik karena dianggap menyangkut perkara-perkara sosial dan moral.
Yang menarik adalah komentar dari Archbishop Giampaolo Crepaldi, secretary of the Pontifical Council for Justice and Peace sehubungan dengan dikeluarkannya ensiklikal tersebut yang diberikan dalam sebuah majalah mingguan di Roma dengan judul: “The Pope Knows Where We Have To Go.” – Tempi, 15 July 2009. Komentarnya tentu tidak asing bagi non-Katolik dan masih seirama dengan pernyataan kontroversial Paus Benediktus XVI sebelumnya yang mengatakan bahwa Catholic is the only true church. Tentu kita bisa bayangkan ketika buku tersebut diberikan kepada para pemimpin dunia, hal itu seakan menjadi panduan sekaligus promosi, bahwa jika dunia ingin menuju jalan yang benar untuk memperbaiki keadaan dunia saat ini, maka mereka tahu kepada siapa harus pergi meminta pertolongan.
Dalam komentarnya lebih lanjut Archbishop Crepaldi yang juga adalah president of the Cardinal Van Thuan International Observation for the Social Doctrine of the Church mengatakan bahwa ensiklikal tersebut menempatkan Allah pada tempat-Nya, karena Caritas in Veritate mempunyai tema: “Apart from me you can do nothing”. Kenyataan bahwa tanpa Allah manusia tidak dapat berbuat apa-apa adalah suatu pemikiran yang baik. Namun ketika dihubungkan dengan doktrin infallability yaitu bahwa Paus tidak dapat berbuat salah dan klaim bahwa Paus adalah wakil Allah di dunia serta ditegaskan lagi oleh komentar Archbishop Crepaldi di majalah Tempi, tentu tema di atas dapat menimbulkan maksud lain dari dikeluarkannya ensiklikal tersebut.
Secara khusus buku ensiklikal yang baru diterbitkan ini menegaskan kembali pandangan Gereja Katolik yang menentang aborsi dan riset stem cell. Menurut para ahli, riset terhadap stem cell, yang ditentang oleh Presiden George Bush tetapi disetujui oleh Presiden Barack Obama, dapat membantu dunia kedokteran untuk menemukan cara baru untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit yang sampai saat ini masih belum ditemukan. Terkait kedua hal di atas, Gereja Katolik mempunyai prinsip bahwa kehidupan harus dihormati dan tidak boleh ada pembunuhan sekalipun masih dalam bentuk janin.
Banyak tokoh konservatif Katolik merasa gamang dan mengatakan bahwa aborsi akan semakin meningkat di bawah pemerintahan Obama. Itu sebabnya ketika Presiden Obama diminta untuk memberikan pidato comencement pada upacara wisuda di Universitas Katolik Notre Dame, Indiana, AS pada tanggal 17 Mei 2009, banyak dari kardinal Katolik di AS yang menyatakan keberatannya dan tidak bersedia hadir. Mereka bahkan mengirimkan surat ke Vatikan untuk tidak menerima Presiden Obama oleh karena persetujuannya atas aborsi.
Kedatangan Obama di Vatikan disambut hangat tetapi jangan lupa topik hangat yang dibicarakan antara Paus dan Obama adalah masalah aborsi dan riset stem cell. Obama telah berjanji untuk mengusahakan penurunan aborsi di AS. Apakah ini dianggap sebagai tekanan atau campur tangan terhadap sebuah negara yang berdaulat? Bagaimana kalau Presiden Obama tidak melaksanakan janjinya? Mari kita ikuti perkembangan menarik hubungan AS dan Vatikan yang pada akhirnya akan bersama-sama mengendalikan dunia. Binatang pertama dari Wahyu pasal 13 tidak bisa bermusuhan dengan binatang kedua jika ingin melaksanakan rencananya untuk menguasai dunia. AS adalah polisi dunia yang menjadi bagian dari ‘duo akhir zaman’.

-BONAR PANJAITAN

Leave a Reply