TIGA SIFAT HUKUM ALLAH MENURUT RASUL PAULUS

Berbicara mengenai Hukum  Allah, 1 Timotius 1:8 akan merupakan pernyataan yang berarti.  Ayat itu berbunyi sebabai berikut: “Kita tahu bahwa Hukum Taurat itu baik, kalau tepat digunakan.”    Pengertian yang tepat dan benar dari ayat ini menurut saya ialah bahwa hukum Taurat itu menjadi benar bila diterapkan (digunakan) sesuai dengan maksaud Allah.

 

Hampir satu dekade sebelum menulis surat kepada Timotius, Rasul Paulus menekankan hal yang sama dalam suratnya kepada jemaat di Roma bahwa hukum Allah itu kudus, benar, dan baik (Roma 7:7, 12).  Mari kita dalami pernyataan Paulus tersebut satu demi satu.

 

Sebagai manusia kita tidak dapat masuk ke dalam suatu masyarakat tanpa peraturan.  Peraturan menolong untuk mengatur masyarakat, yaitu mengatur tingkah laku manusia agar kehidupan menjadi lebih baik.    Kehidupan di rimba sekalipun diatur oleh hukum rimba.   Karena alasan ini, sudah barang tentu akan merupalan pergumulan setiap mereka yang menerima kitab suci Alkitab sebagai dasar iman dan tingkah laku bila ada di antara kita yang bermaksud baik namun mencoba untuk menyakinkan sesama bahwa “dalam kehidupan orang yang telah ditebus hukum Allah tidak ada tempat; seperti minyak dan air, maka rahmat Allah dan hukum Allah ridak dapat bercampur.”   Tentu saja ide seperti ini tidak pernah menemukan kesimpuln yang logis.   Kita sama-sama menyakini bahwa tidak mungkin satupun  orang Kristen dari denominasi manapun yang akan berpendapat bahwa seorang yang telah mengalami lahir baru dalam Kristus bebas untuk membunuh, mencuri, berzinah, iri hati,  sebagaimana kesukaannya ketika ia belum lahir baru dalam Kristus.  Tetapi secara pasti bahwa kebanyakan dari mereka yang mengaku telah lahir baru dalam Kristus mengabaikan hukum yang keempat, hukum Sabat.

 

1.      Hukukm Allah itu kudus. 

 

Wujud penjelmaan  Allah sebagai refleksi kesempurnaan tabiat-Nya yang suci adalah hukum itu sendiri(Roma 7:12).  Maksudnya ialah bahwa karena Allah tidak dapat dilihat tetapi eksisitensi atau keberadaan-Nya dipercayai, dan itu ditandai dengan hukum-Nya, Sepuluh Perintah Allah, yang diberikan-Nya kepada kita untuk ditaati dengan baik.  Kesepuluh perintah itu bukan sekedar daftar belanja (mana yang mau dibeli dan mana yang tidak).  Itu adalah perintah yang patut bagi umat manausia untuk mentaatinya,  menjunjung tingginya,   melalui menurutinya, sebagai wujud nyata kita mencintai Allah dan Juruselamat kita (Yohanes 14:15; 15:14).  Lebih dari itu, hukum menunjuk kepada Allah yang adalah kudus, benar, dan adil.  Hukum menyatakan dasar moral dan prinsip kesucian kehidupan; prinsip yang dapat diapliksikan secara universal dan relevansinya tanpa batas waktu dalam kehidupan.

 

Untuk melihat hukum itu sebagai suatu yang suci, maka harus melihatnya ke dalam dan melakukannya agar mengerti mengenai kesucian Allah.  Dengan demikian akan menolong kita untuk mengerti bahwa kita berada dalam suatu masyarakat perjanjian bersama Allah yang senantiasa berkeinginan untuk menjdikan kita suci sebagaimana Dia yang adalah suci; bukan dengan kekuatan kita, tetapi justru oleh karena kelemahan kita, melalui karunia perobahan yang dilakukan oleh Tuhan dan Juruselamat kaita, Yesus Kristus (Imamat 11:43-45; 1 Korentus 1:2; Efesus 3:14-20).

 

Suatu pandangan yang tinggi tentang Allah harus disertai dengan pandangan yang tinggi tentang hukum-Nya.  Bagaimana mungkin sementara kita memandang Allah segbagai oknum yang tinggi dan Mahakuasa dan Mahasuci, namun pada saat yang sama kita mempunyai pandangan yang rendah terhadap hukum-Nya?  Dengan memandang Allah segbagai oknum yang tinggi dan maha kuasa dan suci namun mempunyai pandangan yang rendah terhadap hukum-Nya kita mengaku dengan bibir bahwa Allah adalah oknum yang maha tinggi namun pada saat yang sama praktek kehidupan kita justru merendahkan Allah itu sendiri.  Cara seperti ini adalah merupakan ketidakcocokan yang sempurna, dan dapat dikatakan sebgai pembangkangan terhadap Allah dan kemahakuasaan-Nya.  Suatu pandangan yang tinggi terhadap Allah haruslah berarti bahwa hukum-Nya diutamakan (Kisah 4:18-20; 5:4).

 

Sebagai orang Kristen, pelajar Alkitab, yang mengetahui oleh membaca Alkitab bahwa hukum itu suci, kita juga mengetahui bahwa  itu harus dipelihara.  Hukum itu sendiri merupakan refleksi dari kesucian tabiat Allah tetapi hukum itu sekali-kali jangan pernah ditafsirkan sebagai Juruselamat.  Hukum bukanlah juruselamat tetapi Yesuslah satu-satunya.

 

2.      Kebenaran hukum itu.

 

“Hukum itu kudus, benar, dan baik” (Roma 7:12).  Kebenaran hukum itu dapat diartikan juga sebagai  “hukum itu adil,” karena hukum itu sendiri menunjuk kepada Allah yang adalah adil.  Keadilan Allah telah dibuktikan ketika Ia menghadapi masalah dosa sejak semula.  Walaupun Ia telah terlebih dahulu memperingati nenek moyang kita bahwa akan ada hubungan yang tidak jelas antara ketidaktaatan dan kematian (bila terjadi ketidaktaatan – pelanggaran  terhadap perintah Allah) baik fisik maupun rohani, namun Ia bertindak begitu cepat untuk melakukan pemulihan bagi mereka yang hidup tanpa harapan, dengan cara memberikan pengharapan tentang seorang penebus, dan itu melalui Yesus Kristus(Kejadian 3:15).  Beberapa abad setelah Allah menjnjikan pemulihan melalui seorang Penebus, Rasul Paulus kemudian mengatakan hal yang sama kepada jemaat di Roma dan jemaat lainnya.  Apa yang dijanjikan di dalam kitab Kejadian telah dipenuhi  oleh Yesus (Roma 1:7, 3:23; 6:23).

 

Injil, kabar baik benar-benar merupakan penjelmaan yang agung.  Kerelaan Kristus mengambil bahagian dalam kematian, mengambil tempat kita yang patut mati, agar kita hidup. Kristus menanggung dosa kita agar kita menjadi benar.  Dia adalah “jalan dan kebenaran dan hidup” (Yohanes 14:6)  yang telah membahwa kita kepada pendamaian dengan Allah, yang perintah-Nya telah dilanggar oleh nenek moyang manusia, Adam dan Hawa.  Dengan beriman kepada-Nya kita memiliki kehidupan yang mewah yang adalah milik-Nya.  Ini adalah suatu kehidupan yang telah digolongkan dalam kesetiaan dan ucapam syukur.   Bersyukur karena oleh Allah, di dalam Kristus, telah melakukan untuk kita, dan sesungguhnya di dalam kita, penebusan yang gratis (Yohanes 15:4, 5), dan hukum tetap diberlakukan juga untuk menolong kita membuktikan kesetiaan kita kepada-Nya, itu juga karena Dia, karena memang Dia tidak pernah membatalkan hukum hukum yang adalah kudus, benar, dan baik itu (Matius 5:17).

 

Menjadi srorang Kristen adalah kesempatan untuk hidup dengan penuh kesadaran dan keyakinan bahwa kehidupan yang indah di dalam Yesus dan taat kepada hukum-Nya tidak akan bertentangan sama sekali.   Sebaliknya, itu justru saling melengkapi satu sama lainnya.    Dengan menggunakan istilah Perjanjian Baru, “hati kita dipenuhi dengan Roh-Nya,” sehingga kita didorong untuk mengakui:  “Betapa kucinta Taurat-Mu!  Aku merenungkannya setiap hari”  (Mazmur 119:97-143). 

 

Hukum menunjuk kepada Allah yang adalah adil dan benar yang menghukum dosa dengan hukuman kematian tetapi yang juga adalah pengasih dan penyayang serta pemberi rahmat dan pengampunan melalui Yesus.  Hukum juga menunjukkan kepada seseorang bahwa ia layak untuk dibenarkan dan dicintai.  Hukum Allah menghendaki seseorang agar mulut dan kehidupannya menyatakan bahwa cinta yang sejati kepada Allah berada pada pihak mereka, dan itu artinya hukum dipelihara sebagai dasar cinta  kasih.

 

Pejanjian Lama menyatakan secara jelas bahwa hakekat dari pda pemeliharaan serta penurutan kepada hukum Allah adalah karena mencintai Allah dengan sepenuh hati  (Ulangan 6:4-60) dan mencintai sesama manusia sebagaimana diri sendiri (Imamat 19:18).  Perjanjian Baru menekankan juga pada hal yang sama, [1]  yaitu menentang penyembahan kepada berhala, menginjak-injak hari Sabat, melawan orang tua, berzinah, tamak,  serta berdusta.   Orang yang mengasihi sesamanya, kesukaannya didasarkan pada kebaikan dan kasih yang hanya didapatkan di dalam Allah dan keramahtamahan diberikan oleh Allah melalui Roh Kudus. [2]

 

Melalui hukum Sabat Allah mengingatkan kepada  kita secara terus menerus temtang kesadaran untuk membalas kasih-Nya serta mendemonstrasikan kasih itu, khusnya kita yang telah menjadi ciptaan baru melalui Putra tunggal-Nya, Yesus Kristus.    Dengan kata lain, kesepuluh hukum Allah dibuat berdasarkan prinsip kasih.  Untuk itulah maka ikutilah pandangan yang benar, turutilah hukum yang keempat, kuduskanlah hari Sabat, hukum yang diabaikan oleh kebanyakan orang yang mengaku Kristen, pengikut Kristus.  Hari Sabat mengorientasikan kita kepada arah vertikal maupun horisontal, kepada Allah dan sesama.  Dalam hukum Sabat kita diajak untuk melihat kepada dua arah, yaitu cinta dan kehidupan.

 

Dengan demikian penekanan pengudusan hari Sabat tidak berpangkal pada suatu yang bersifat legalistik, atau didasarkan pada obsesi ketakutan dan ingin menghindar dari ketidakbenaran.    Sebaliknaya, pengudusan akan hari Sabat berpangkal dari kesadaran dan keyakinan bahwa seseorang yang telah ditebus oleh Darah Kristus secara sadar wajib hidup dalam konteks hukum kasih secara total.

 

Sebagai orang Kristen yang metupakan gambaran keluarga besar di dunia, kita mempunyi hak dan kesempatan istimewa untuk menyerupai Tuhan kita melalui “kudus dalam tabiat” (Matius 5:48), dan dengan demikian kita dapat menyatakan kasih-Nya di dunia.

 

Dalam cara yang takterbandingkan seseorang berkata:  “Dalam persekutuan dengan sesama, letakkanlah diri anda pada tempat mereka.  Masuk ke dalam hati mereka, kesulitan mereka, kebahagiaan mereka, dan dukacita mereka.  Kenalilah diri anda sendiri di antara mereka dan lakukanlah seolah-olah anda menukar tempat dengan mereka, minta mereka untuk melakukan hal yang sama dengan anda secara bergiliran …  Ini adalah pernyataan yang lain dari hukum:  ‘Kasihilah sesaamamu manusia seperti dirimu sendiri, (Matius 22:39).  Inilah pokok ajaran para nabi.  Inilah prinsip sorga, dan akan dibangun di dalam semua mereka yang cocok untuk persahabatan kudus-Nya.  Hukum emas adalah prinsip dari kesopanan yang benar, sementara gambaran kebenaran hanya dapat dilihat di dalam kehidupan dan sifat Yesus.”[3]   Inilah yang seharusnya menjadi gaya hidup dari setiap kita yang mengaku sebagai orang Kristen, pengikut Kristus.

 

Rasul Paulus secara terus menetus menekankan nilai dan kebenaran  dari hukum dan menghubungkannya dengan kehidupan Kristen, bahwa hukum dapat memperkokoh kesucian, keadilan, dan kebaikan hidup setiap insan Kristiani.

 

3.      Kebaikan dari Hukum Allah. 

 

Dapat dikatakan bahwa kebaikan hukum itu sendiri tetap pada kesucian dan keadilan.  Bahasa Grika memperekenankan kita untuk menerjemahkan Roma 7:12 sebagai berikut:  “Hukum itu kudus dan adil; hukum itu baik.”  Terjemahan seperti ini  mirip dengan khotbah Yesus di atas bukit  yang dicatat di dalam Mtius 6:33:  “Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah serta kebenarannya maka segalanya akan ditambahkan kepadamu.”  Rasul Paulus membuat pernyataan serupa namun lebih singkat, ketika ia menulis kepada Timotius, dalam 1 Timotius 1:8:  “Kita tahu bahwa hukum Taurat itu baik kalau tepat digunakan,”  dan rasul yang diilhami Tuhan ini lebih banyak mengembangkan pengertian yang lebih baik dan jelas.   Ketika ia menulis kepada jemaat di Roma ia mengatakan:  “Jika demikian, apa yang hendak kita katakan?  Apakah hukum Taurat itu dosa?  Sekali-kali tidak!  Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa.  Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan:  “Jangan mengingini.”   “Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar, dan baik” (Roma 7:7, 12).

 

Kebaikan hukum ltu bukan saja karena menunjuk kepada Allah yang adalah adil dan suci, tetapi juga secara sempura hukum itu lebih baik bagi kita,   Bagi kita yang mengaku mencintai Allah dan mencintai sesama dengan penuh ketulusan hati seperti mencintai diri sendiri, penurutan akan sepuluh hukum Allah bukanlah dianggap sebagai beban, tetapi justru sebagai berkat; ya!!  berkat yang mengalir dari penurutan akan kehendak dan hukum Allah.  Suatu berkat yang meliputi beberapa hal:  kebijaksanaan dan pengertian (Amsal 7:1-5), mempunyai kesan yang baik di tengah-tengah masyarakat dengan menolong orang lain secara tereus-menerus sambil bertumbuh dalam anugerah (1 Petrus 2:2; 2 Korentus 3:18), jaminan bahwa Allah akan selalu mendengar dan menjawab doa kita (1 Yohanes 3:22)serta pada gilirannya oleh pertolongan-Nya kita akan melindungi pengetahuan dan kebenaran sebagaimana Yesus.

 

Dengan demikian, adalah benar ketika Hubner mengatakan:  “Fungsi dari hukum yang diturunkan oleh Allah ialah untuk menolong pria dan wanita agar senantiasa memperhatikan kebenaran di dalam Yesus.”[4]

 

Adalah merupaakan berkat yang istimewea ketika seorang yang telah lahir dari (oleh) tuntunan Roh KUdus, menghasilkan penurutan, ya!  penurutan terhadap Sepuluh Peruntah Allah, termasuk perlimdungan dari sakit penyakit (Keluaran 15:26) dan karunia hidup sehat secara relatif sampai pada masa tua (Amsal 12:1; 4:10, 22).

 

Pemazmur  memotifvasi kita untuk membuat suatu pernyataan yang gembira:  “Berbahagialah orang yang hidupnya tidak tercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN”  (Mazmur 119:1).  Berbahagialah dia  “yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN,  dan merenungkan Taurat itu siang dan malam.  Ia seperti  pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil” (Mazmur 1:2, 3). 

 

Rasul Yakobus menyebut salah satu fungsi dari kebaikan hukum Allah itu sebagai “Hukum yang memerdekakan orang.”  Untuk lebih jelasnya, mari kita membaca secara lengkap:  “Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh karena perbuatannya” (Yakobus 1:25).  Selanjutnya, rasul yang sama berkata:  “Berkatalah dan berlakulah seperti orang-orang yang akan dihakimi oleh hukum yang memerdekakan orang.  Sebab penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasihan.  Tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman” (Yakobus 2:12, 13).  Rasul Tuhan ini  menunjuk kepada siapa Pembuat hukum itu dengan berkata:  “Hanya satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan” (Yakobus 4:12).

 

 Kesimpulan

 

Pada akhirnya, di atas dunia ini, menjelang kedatangan Tuhan pada kali yang kedua, hanya ada dua kelompok manusia, mereka yang setia kepada Allah akan berada pada satu kelompok, sedangkan mereka yang mengaku percaya tatapi tidak setia dalam memelihara hukum-Nya, akan bergabung dengan para pemberontak yang digunakan oleh Setan dalam menentang Allah.

 

Rasul Yohanes, dalam penglihatan yang diberikan oleh Tuhan kepadanya ketika oleh karena imannya kepada Kristus ia dibuang ke pulau Patmos, menulis tentang apa yang dilihatnya dalam suatu penglihatan:  “Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus” (Wahyu 12:17).   Mereka yang menuruti hukum Allah pada akhirnya akan merupakan sasaran utama dari “naga,” yaitu Setan, untuk membinasakannya, dan hal itu belum terjadi sekarang ini, karena kitab Wahyu dalam konteks ini berbicara tentang nubuatan yang kegenapannya akan terjadi di kemudian hari.  Sekarang ini Setan bekerja keras dengan berupaya untuk meyakinkan kepada dunia bahwa hukum Allah sudah tidak berlaku lagi.  Setan berupaya untuk menanamkan kedalam pikiraan banyak orang bahwa hukum Allah itu berat dan sulit untuk dihidupkan, dalam hal ini dituruti oleh manusia, bahkan umat Allah sekalipun.  Tetapi Alkitb secara tegas dan jelas mengatakan bahwa:  “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat” (1 Yohanes 5:4). Rasul Tuhan ini juga berkata:  “Barang siapa berkata:  Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran.  Tetapi barang siapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia.  Barang siapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1 Yohanes 2:4-6).   

 

Pertanyaan yang mungkin timbul, atau jelasnya, sengaja ditimbulkan ialah, mungkinkah Kristus menghidupkan suatu kehidupan yang bertentangan dengan kehendak Bapa-Nya?   Jawabannya iaalah taidak mungkin!  Yesus berkata:  “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri;  Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri,  melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yohanes 5:30), serta  “Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:31), dan banyak ayat yang lain lagi yang serupa dengan itu.

 

Anggaplah bahwa anda sedang menggenggam mutiara yang berharga di tangan.  Bacaan ini adalah mutiara rohani yang sangat berharga bagi anda.  Anda mau menghidupkan nilai-nilai rohani yang telah anda peroleh dari bacaan ini, atau mengabaikannya begitu saja, adalah hak anda.  Tetapi ingat bahwa karena Tuhan mengasihi anda sehingga Ia menizinkan anda  membaca kehendak-Nya saat ini. Allah ingin agar anda berdiri di pihak-Nya. Keputusan yang anda buat sekarang ini akan sangat menentukan kehidupan anda di kemudian hari.  Buatlah pilihan yang tepat untuk mengasihi Allah, karena Dia telah lebih dahulu mengasihi anda.  Buatlah keputusan yang tepat untuk menuruti Sepuluh perintah Allah,  yaitu hukum yang memerdekakan orang.

 

Yesus menghimbau anda hari ini dengan berkata:  “Jikalau kami mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku (Yohanes 14:15) dan bahwa  “Perintah-perintah-Nya itu tidak berat” (1 Tohanes 5:4), tetapi justru perintah-perintah itu adalah “hukum yang memerdekakan orang” (Yakobus 1:25; 2:12, 13).  Kiranya si Pembuat hukum itu, yaiutu Hakim yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan, akan menolong anda untuk membuat keputusan yang berpihak kepada-Nya,   A m i n.

 

 

[1].   Baca Matius 22 34-40; Markus 12:28-31; Galatia 5:14, 15; Roma 13:8-10; Yakobus 2:8-12; Yohanes 13:31-35; 1 Yohanes 2:5-25.

 

[2].  1 Yohanes 3:4; serta baca juga “Steps To Christ,” hal. 58-62.

 

[3] Thougt From The Mount of Blessing, hal. 134.

 

[4] . H. Bals & G. Schneider, ed., The Exegetical Dictionary of the New Testament.  Grand Rapids WM.B Earmans 1981, hal. 477.

1 thought on “TIGA SIFAT HUKUM ALLAH MENURUT RASUL PAULUS

Leave a Reply