Timur Tengah – Korban Kepentingan

War on Gaza

Jika saat ini kita memutar siaran televisi berita dunia seperti CNN, BBC dan Al-Jazeera, hampir selalu menayangkan berita tentang keadaan perang yang sedang terjadi di Gaza.  Perang ini tidak seimbang.  Israel yang disebut sebagai kekuatan militer modern terbesar kelima di dunia berperang dengan kelompok Hamas yang berada di Palestina, sebuah negara yang bahkan belum merdeka sepenuhnya. Ini bahkan tidak bisa diumpamakan seperti Daud vs. Goliat.  Tetapi seandainyapun mau dijadikan seperti contoh, maka yang sekarang menjadi Goliat adalah Israel sementara yang menjadi Daud adalah Palestina.  Keadaan saat ini terbalik dari kejadian sekitar 3000 tahun yang silam ketika Daud (Israel) melawan Goliat (Filistin) hanya dengan menggunakan alat sederhana.

 

Jika dilihat dari latar belakang sejarah, pandangan politik kedua pihak yang bertikai dan berbagai kepentingan yang terlibat di wilayah itu, tidak terlalu berlebihan kalau dikatakan bahwa konflik Arab-Israel tidak akan pernah bisa diselesaikan.  Palestina (yang didukung oleh dunia Arab) tidak bisa menerima pendudukan Israel atas Tepi Barat (West Bank) dan khususnya Yerusalem Timur sejak tahun 1967.  Mereka selalu menuntut agar Israel mematuhi Resolusi 242 PBB yang meminta Israel keluar dari daerah yang didudukinya pada Perang Enam Hari 1967.  Sementara Israel yang benderanya disebut “the Star of David” dan yang masih berpegang pada Perjanjian Lama menganggap bahwa kota Yerusalem tidak bisa dibagi karena itu merupakan ibukota Israel sejak zaman raja Daud.  Tidak heran kalau kita berkunjung di Yerusalem, kita bisa melihat mereka menyimpan peti jenazah Daud (walaupun itu sebenarnya lebih bersifat simbolis).  Palestina mengklaim bahwa merekalah yang memiliki tanah Kanaan itu karena telah ditinggalkan oleh bangsa Israel pada waktu diaspora.  Sementara Israel menganggap bahwa tanah itu telah diberikan Tuhan kepada nenek moyang mereka sebagaimana tertulis di dalam Perjanjian Lama.  Pandangan ini sulit untuk dihapus dari pikiran kedua pihak yang bertikai.

Lalu apakah para pemimpin negara besar termasuk PBB tidak mengetahui bahwa penyelesaian konflik Arab-Israel sangat sulit kalau tidak bisa dikatakan mustahil untuk terwujud?  Mereka tentu tahu.  Mereka juga ahli sejarah.  Tetapi mereka harus melakukan upaya untuk perdamaian.  Karena kalau mereka berdiam diri mereka akan dipersalahkan.  Demi kepentingan politik (yang ujung-ujungnya adalah juga kepentingan diri) mereka harus terlihat telah mengupayakan semaksimal mungkin.  Soal apakah perdamaian akhirnya bisa tercipta itu urusan nanti.  Kan di dunia ini tidak ada yang bisa menjamin.  Sebab persyaratan yang diajukan oleh masing-masing pihak sulit untuk diterima oleh semua elemen di negaranya.  Belum tentu semua rakyatnya mau menerima apa yang diusulkan oleh pemimpinnya.  Rakyat yang radikal dapat saja membunuh pemimpinnya mereka anggap berkhianat.  Dan itulah yang terjadi terhadap Presiden Mesir Anwar Sadat pada tahun 1981 dan PM Israel Yitzhak Rabin pada tahun 1995.  Belum lagi kepentingan para pedagang senjata yang mendapatkan keuntungan karena keadaan selalu rawan.  Dengan demikian jangan terlalu berharap bahwa perdamaian akan terwujud, karena Alkitab juga telah mengamarkan hal itu.

Tetapi yang selalu menjadi keprihatinan adalah jatuhnya korban sipil yang tidak terlibat.  Kedua pihak saling menyalahkan.  Masing-masing merasa mempunyai alasan yang kuat.  Hamas berpendapat bahwa serangan roket yang mereka lakukan adalah untuk memperjuangkan hak mereka untuk mendapatkan air, makanan dan obat-obatan yang mereka perlukan.  Hal ini sulit diperoleh karena akses ke luar Jalur Gaza dikontrol oleh Israel.  Serangan roket Hamas itu untuk mencari perhatian dunia.  Israel berkilah penyerangan terhadap Jalur Gaza sebagai bagian dari pembelaan diri untuk melindungi rakyatnya di Israel bagian selatan dari serangan roket Hamas.  Terjadi polemik ‘ayam dan telur’.  Ini menarik jika dihubungkan dengan apa yang akan terjadi terhadap umat Tuhan di kemudian hari.  Masing-masing pihak (tentara Israel maupun militan Hamas) seakan tidak peduli dengan semakin banyaknya korban sipil yang jatuh.  Masing-masing pihak lebih memikirkan untuk memperjuangkan apa yang dipandangnya baik tanpa mempedulikan dampak kerugian pada orang lain.  Akan datang waktunya bilamana kuasa penganiaya akan menindas umat Tuhan karena dianggap menghalangi rencananya.  Bilamana Sunday Law diberlakukan kemudian umat Tuhan tidak mau mematuhinya, kuasa penganiaya akan melakukan ‘serangan’ yang mereka anggap untuk membela diri (baca: membela kepentingannya).

Barack Obama, So What?

Barack Obama akan dilantik tanggal 20 Januari 2009 menjadi presiden AS yang ke-44.  Dunia berharap akan ada perubahan.  Tentu saja akan ada perubahan, tetapi belum tentu seperti yang diinginkan dunia.  Bagaimana dengan perubahan di Timur Tengah?  Lebih baik tanyakan saja pada bangsa Arab khususnya Palestina.    Jauh-jauh hari mereka sudah mengatakan bahwa mereka tidak berharap banyak.  Sejak kemunculan Israel di tanah Palestina pada awal abad ke-20 terutama sejak kemerdekaan Israel tahun 1948, telah banyak terjadi konflik dan perang antara Israel dan negara tetangganya.  Pemerintahan di AS telah silih berganti dari Republik ke Demokrat dan sebaliknya.   Tetapi hubungan paman dan keponakan antara AS dan Israel tidak berubah.  Ini tidak ada urusannya dengan agama.  Tetapi semata kepentingan politik, kepentingan diri.

Dalam politik tidak ada teman yang abadi, tetapi kepentingan yang abadi.  Dalam konteks hubungan AS dan Israel, siapa yang lebih diuntungkan?  Barangkali AS.  AS memanfaatkan perbedaan pandangan dan latar belakang sejarah dari para pihak di Timur Tengah untuk kepentingannya.  Pada hari-hari terakhir manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang – 2Timotius 3:1.  Sepak terjang Israel di kawasan itu membuat daerah Timur Tengah tidak (pernah) tenang.  Belum ditambah dengan sikap bangsa Arab yang memang sulit untuk bersatu.  Dengan demikian mereka memerlukan persenjataan untuk melindungi dirinya dan perlu memodernisir persenjataan itu dari waktu ke waktu.  Toh mereka banyak uang dari hasil minyak.  Ini menjadi makanan empuk bagi bisnis persenjataan AS yang dikuasai oleh pengusaha Yahudi.

Bisa dibayangkan jika kawasan Timur Tengah damai, tentu orang kurang membutuhkan persenjataan dan barang dagangan tidak laku.  Padahal AS perlu biaya untuk selalu mengadakan penelitian dan pengembangan serta uji coba, supaya kalau persenjataan yang mereka buat harus dipakai untuk berperang melawan negara besar lainnya, AS berada dalam keadaan siap dan unggul.  Jadi sekali tembak dua tiga tujuan tercapai.  Apakah ada presiden AS yang mau keluar dari situasi yang menguntung AS ini?  Kemungkinan besar tidak ada.  Mereka tentu ingin (dan harus) mempertahankannya.  Lalu bagaimana kalau AS dihujat?  AS tidak peduli dihujat.  Itu dianggap bagian dari demokrasi.  Biarkan anjing menggonggong kafilah berlalu.  Apakah Obama mau supaya kawasan Timur Tengah berubah dan menjadi damai?  Katakanlah, dia ingin menjadi idealis, mengubah dunia khususnya kawasan Timur Tengah menjadi damai, tetapi kemampuannya disangsikan.  Obama tidak mempunyai pengalaman yang luas untuk urusan luar negeri apalagi urusan perang.  Banyak kepentingan terlibat di sana.  Obama tidak bisa jalan sendiri.  Dan jika dia mau ngotot, barangkali Obama perlu memakai pelindung anti peluru mulai dari ujung rambut sampai ujung kuku, setiap saat.  Kalau tidak barangkali AS akan memiliki presiden ke-45 sebelum pemilihan presiden yang berikut.  Presiden John F. Kennedy ngotot ingin menghentikan Perang Vietnam dan akhirnya Lyndon B. Johnson menggantikannya di tengah jalan.  Memang Israel tidak akan berani dalam sepak terjangnya tanpa jaminan dari sang paman di seberang lautan.  Tetapi Israel juga tahu bahwa keberaniannya juga bermanfaat bagi sang paman.  Dan si anak nakal dengan cerdik memainkan kartu truf tersebut di lapangan.

Kita sangat prihatin membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya di Timur Tengah.  Supaya jangan bingung, ingat saja apa kata Alkitab.  Bahwa menjelang zaman baru akan ada perang di mana-mana.  Kecuali kita tidak melihat bahwa sekarang sudah akhir zaman, bolehlah berharap keadaan akan membaik dan konflik akan menurun.   Pilihan lainnya adalah bersiap-siap untuk keadaan yang semakin memburuk yang dapat merembet ke mana-mana.

Dengan kondisi perekonomian AS yang menurun saat ini, Obama diperkirakan akan lebih fokus untuk urusan dalam negeri.  Jangan lupa rakyat AS memilih Obama adalah terutama untuk memperbaiki kondisi perekonomian AS dan bukan untuk memperbaiki citra AS di luar negeri.  Memang benar citra AS di luar negeri rusak akibat kebijakan perang Presiden George W. Bush.  Tetapi umumnya rakyat AS mulai bereaksi negatif terhadap kebijakan perang Presiden Bush setelah mereka sendiri terpengaruh oleh memburuknya perekonomian yang dianggap sebagai akibat Perang Irak.  Sebelumnya mereka setuju saja dengan perang tersebut dan ini dibuktikan dengan masih terpilihnya Presiden George W. Bush untuk masa jabatan kedua pada tahun 2004, satu tahun setelah AS menyerbu Irak.  Tetapi begitu kepentingan diri terganggu manusia mulai bereaksi.

Pemilu di Israel

Satu hal yang juga tidak kalah bahkan mempunyai pengaruh besar terhadap terjadinya perang di Gaza saat ini adalah akan berlangsungnya pemilihan umum di Israel pada minggu kedua Pebruari 2009.  Tiga kandidat yang bersaing ketat yaitu Menteri Luar Negeri Tzipi Livni, Menteri Pertahanan Ehud Barak yang juga mantan perdana menteri dan mantan PM Benyamin Netanyahu.  Ketiganya mendukung perang yang sedang berlangsung di Gaza.  Mereka ingin mengirimkan pesan kepada rakyat Israel bahwa mereka sangat memperhatikan kepentingan rakyatnya yang sering terganggu dengan serangan roket Hamas dari Gaza.  Bisa dibayangkan kalau jauh-jauh hari Ehud Barak sudah mengatakan bahwa perang yang sedang berlangsung ini akan lama dan sulit.   Bukan itu saja.  PM Israel Ehud Olmert juga perlu meninggalkan ‘kesan baik’ pada rakyat Israel bahwa dia juga mampu menghajar musuh-musuh Israel setelah kegagalan Israel menghancurkan infrastruktur Hezbollah di Lebanon pada waktu terjadi konflik tahun 2006 yang lalu. Kembali kita melihat di sini kepentingan diri memainkan peranan penting dan tidak peduli dengan penderitaan orang lain.

Akankah perang terus berlanjut sampai diselenggarakannya pemilu di Israel?  Lalu kira-kira apa langkah pertama Barack Obama sehubungan dengan perang ini setelah dia dilantik?  Semua itu akan terjadi pada waktu yang berdekatan.  Kita boleh berharap, tetapi jangan lupa sebutan lama mengatakan hope for the best but prepare for the worst.

-Bonar Panjaitan

Leave a Reply