Penyebab Tragedi Penembakan Siswa dan Guru Sekolah di Connecticut, AS

Tuhan tidak bisa disalahkan pada saat terjadi penembakan mengerikan terhadap anak-anak sekolah dan guru-guru di Connecticut. Ini disebabkan oleh karena kita secara sistematis telah meminggirkan Allah dari kehidupan kita dengan menghalau Dia dari semua aspek kepentingan umum.
Sebuah tindakan kekerasan, jarang merupakan hasil dari suatu aturan tertentu yang dibuat khusus akibat faktor pemicunya. Misalnya, menghapuskan doa dan pembacaan Alkitab dari sekolah-sekolah atau lembaga lainnya atau melarang dinyanyikannya lagu-lagu Natal bukanlah penyebab langsung dari tragedi-tragedi pembunuhan massal. Tentunya itu adalah hal yang terlalu menyederhanakan masalah.
Sebab dan akibat yang nampak dengan adanya perubahan dramatis dari apa yang anak-anak kita mampu lakukan, terkait erat dengan pergeseran budaya, dari budaya yang berpusat pada Allah kepada budaya yang berpusat pada diri sendiri.
Kita terlalu memuji-muji hak untuk mengekspresikan diri dan kebebasan pribadi, lalu terkejut dengan munculnya generasi yang kesepian. Kita mengelu-elukan budaya di mana semua orang mendapatkan penghargaan, tidak ada yang kalah, namun kemudian terkejut melihat begitu banyaknya anak-anak yang merasa kurang memiliki harga diri bahkan merasa sebagai pecundang. Kita menyepelekan hukum alam dan kemutlakan moral, sehingga kaget ketika anak-anak kita menunjukkan moral mereka sendiri dengan membunuh anak-anak yang tak berdosa.
Kita memandang rendah asas keluarga yang terdiri dari seorang ayah dan seroang ibu yang bertanggung-jawab mendidik generasi kita berikutnya, namun kemudian kita khawatir tidak adanya hubungan nyata antara anak-anak dengan orang tua atau bahkan pandangan mereka terhadap konsep keluarga itu sendiri. Kita mengejek gagasan agar ibu dan ayah membuat prioritas dalam mendidik anak-anak mereka untuk menjadi kuat secara fisik dan rohani serta bertanggung jawab atas tindakan yang benar maupun yang salah, sebaliknya kita memupuk kepuasan fiktif anak dengan membelikan mainan-mainan yang mahal berupa peralatan-peralatan elektronik, gantinya mengasuh/mendidik mereka atau meluangkan waktu untuk bercakap dengan mereka diwaktu makan malam dan kemudian seolah-olah terkejut melihat alat pengeras suara yang menggantung pada telinga anak, terkejut melihat jari-jari anak yang bak melekat pada ponsel dan wajah anak yang tak bergeser pada layar iPad/computer mereka.
Kita lalai mengajarkan mereka adanya Allah Pencipta yang menetapkan aturan, Allah yang maha-tahu, kepada siapa kita semua bertanggung jawab. Sebaliknya kita mengajarkan bahwa Allah tidak ada sangkut pautnya dengan asal usul kita, bahwa hidup kita ini muncul secara kebetulan dan bahkan bisa dibuang bila itu adalah kemauan kita. Kita mengajarkan bahwa setiap perilaku yang keterlaluan bukanlah dosa, tetapi merupakan gangguan jiwa yang bisa dimaklumi dan dimaafkan.
Saya menyadari pendapat saya ini terdengar kedaluwarsa dan kuno, tapi ketika Ke-Tuhan-an adalah dasar dari kontrak sosial bangsa kita, kita melihat masalah yang muncul di sekolah-sekolah hanyalah sebatas keributan di kelas, megunyah permen karet, menarik kuncir gadis-gadis, atau duduk santai di meja sekolah. Benar kita membawa senjata ke sekolah, tapi senjata tersebut tersimpan dalam rak senjata di mobil dan digunakan hanya untuk berburu sebelum dan setelah sekolah. Tidak pernah terlintas di pikiran kita untuk menggunakan senjata untuk membunuh guru dan sesama siswa.
Ketika kita berada sebagai bangsa yang takut akan Allah, kita tidak kuatir melihat seorang pemuda berusia 20 tahun dengan senapan ditangannya. Tidak ada rasa cemas bahwa dia akan menembak anak-anak kita di ruangan kelas.

I’ve said some controversial things from time to time, but none which prompted such a backlash as when I stated that the horrific shooting in CT of school children and teachers couldn’t be blamed on God because we’ve systematically marginalized God out of our culture by removing Him from all aspects of the public square. The vicious attacks that have resulted, most of all of which are based on total ignorance of what I actually said have actually validated my point. A specific act of violence is rarely the result of a specific single act of a culture that prompts it. In other words, I would never say that simply taking prayer and Bible reading from our institutions or silencing Christmas carols is the direct cause of a mass murder. That would be ludicrous and simplistic. But the cause and effect we see in the dramatic changes of what our children are capable of is a part of a cultural shift from a God-centered culture to a self-centered culture. We have glorified uninhibited self-expression and individualism and are shocked that we have a generation of loners. We have insisted on a society where everyone gets a trophy and no one loses and act surprised that so many kids lack self-esteem and feel like losers. We dismiss the notion of natural law and the notion that there are moral absolutes and seemed amazed when some kids make it their own morality to kill innocent children. We diminish and even hold in contempt the natural family of a father and mother creating and then responsibly raising the next generation and then express dismay that kids feel no real connection to their families or even the concept of a family. We scoff at the need for mothers and fathers to make it their priority to train their children to be strong in spirit and soul and responsible for right and wrong and exalt instead the virtue of having things and providing expensive toys, games, and electronics that substitute for parenting and then don’t understand why our kids would rather have ear buds dangling from their ears, fingers attaching to a smart phone, and face attached to a computer screen than to have an extended conversation with their family at dinner. And we don’t teach them there is a Creator God who sets immutable rules, a God who is knowable, and to whom we are ultimately responsible. Instead we teach that God was not involved in our origins, that our very lives are biological happenstances and in fact are disposable should they be inconvenient to us, and that any outrageous behaviors are not sin, but disorders for which we should be excused and accommodated. I realize my viewpoint sounds out-dated and archaic, but when that world view was the foundation of our nation’s social contract, we got in trouble at school for talking in class, chewing gum, pulling a girl’s pigtails, or slouching in our school desks. We took guns to school, to be sure, but they were in the gun racks of our trucks and we used them to hunt before and after school. It never occurred to us to use them to murder our teachers and fellow students. But when we as a nation feared God, we didn’t fear that a 20 year old with a high powered rifle would gun down our children in their schoolrooms.
Oleh: Mike Huckabee

Leave a Reply