Tulisan gambar Purbakala merujuk pada Alkitab

December 19, 2012 - Sammy Lee

Oleh Ethel Nelson
penerjemah: Sammy Wiriadinata Lee, June 2010

Wajah-wajah real dari ‘tentara roh’ bangsa Tionghoa dalam bentuk terracotta purbakala yang terkenal menerawang melewati kurun sejarah sepanjang 2200 tahun. 7000 patung-patung tembikar, bersama dengan ratusan kuda-kuda dan replika kereta-kereta, merupakan sebagian dari kompleks pekuburan yang meliputi areal seluas dua kilometre persegi. Pasukan ‘tentara’ itu disusun dalam formasi perang, dengan siaga tetap mengawal sisa-sisa jenazah peninggalan kaisar Tionghoa dari dinasti Chin (kira-kira tahun 221–206 SM) dalam ‘kehidupan dialam baka’. Kaisar-kaisar yang terdahulu dari Tiongkok, seperti halnya juga dengan banyak kebudayaan purba bangsa lainnya, mempunyai pengetahuan yang jelas mengenai Allah Pencipta yang maha tinggi.

Namun pemelintiran dan kesalahan-kesalahan merayap masuk sepanjang zaman sehingga pengetahuan tentang Allah yang tunggal itu sebagian besar telah hilang.
Sebuah misteri sehubungan dengan Kuil Langit yang telah berusia 450 tahun di kompleks wisata Beijing, China. Mengapa para kaisar mengorbankan lembu diatas Mezbah Langit dari marmer putih yang besar dalam suatu upacara tahunan yang merupakan upacara perayaan terpenting dan penuh warna, yang diberikan julukan ‘Korban Perbatasan’? Ritus ini berakhir di tahun 1911 ketika kaisar yang terakhir digulingkan. Namun upacara korban itu bukan baru dimulai hanya 450 tahun yang lalu. Upacara itu sudah ada sejak 4.000 tahun yang lalu. Salah satu dari catatan tentang Korban Perbatasan ini dapat dijumpai dalam buku Shu Jing (Buku Sejarah), yang disusun oleh Kong Hu Zhu, dimana di catat bahwa Kaisar Shun (yang memerintahkan dari sekitar tahun 2256 SM, sampai 2205 SM waktu dinasti Tiongkok yang pertama dimulai) bahwa ‘dia mengadakan korban bagi ShangDi.’1

Siapakah ShangDi? Nama ini secara literal berarti ‘Penguasa Langit.’ Dengan meninjau ucapan doa yang harus digunakan pada upacara Korban Perbatasan, dan dicatat dalam Peraturan Dinasti Ming (1368 SM) maka kita dapat mulai mengerti penghormatan terhadap ShangDi itu. Mengambil bagian dalam upacara ini, kaisar pertama-tama mengadakan meditasi pada Kuil Langit (Serambi Kaisar) sementara para biduan yang diiringi pemain music, menyanyikan:
‘Kepada Mu, Oh Pembuat yang bekerja dengan penuh keajaiban, aku memandang dalam pikiranku … . Dengan upacara agung aku memuja Engkau. HambaMu ini, hanyalah bagaikan sebatang bambu atau pohon yangliu, hatiku sama seperti hati seekor semut; namun aku telah menerima keputusanMu yang penuh kemurahan, dengan mengangkat kau menjadi penguasa dari kerajaan ini. Aku dengan dalam merasakan kebodohanku dan kebutaanku, dan aku takut, jangan sampai aku tidak layak untuk menerima rahmatMu yang besar. Sebab itu aku berjanji akan mematuhi semua peraturan dan perintah, dan berusaha, betapa tak berartinya pun aku ini, untuk melaksanakan semua tugas dengan setia. Dari kejauhan dibawah ini, aku memandang kepada istana samawiMu. Datanglah dalam keretamu yang maha berharga itu ke mezbah ini. HambaMu ini dengan penuh penghormatan bersujud dengan kepalaku ketanah, mengharapkan rahmutMu yang limpah … . Oh kiranya Engkau berkenan menerima persembahan kami, dan memandang kami, sementara kami menyembah Engkau, yang kebaikannya tak pernah habis!’2
Photo Wikipedia.org

Tembok Besar Tiongkok. Dibangun dua abad sebelum kelahiran Kristus, itu menjadi keajaiban ilmu bangunan teknik walaupun telah dibangun dengan korban nyawa manusia yang luar biasa banyaknya.
Demikanlah kita bisa menelusuri bagaimana kaisar menyembah ShangDi. Apakah mungkin kita melacak tujuan yang orisinil dari upacara kuno yang memesonakan ini? Sementara kaisar mengambil bagian dalam upacara tahunan bagi ShangDi ini, maka kata-kata yang berikut ini harus diucapkannya, yang sangat jelas menunjukkan bahwa ShangDi itu adalah Pencipta dunia ini:

‘Dizaman dulu pada awal kejadian, ada suatu kekacauan besar, tanpa wujud dan gelap. Ke lima unsure alam (planet-planet) belum beredar, dan matahari serta bulan pun belum bersinar. Engkau, Oh Penguasa Roh, pertama-tama membagikan yang kasar dari yang murni. Engkau menjadikan langit. Engkau menjadikan bumi. Engkau menjadikan manusia. Semuanya dengan kekuasaan berkembang biak telah memperoleh wujudnya’3

Bagi orang Kristen, bacaan yang diatas itu kedengaran sangat akrab pada telinga kita. Betapa dekatnya bunyinya dengan pasal pembukaan dari kitab Kejadian! Perhatikan persamaannya dengan cuplikan dari kisah yang lebih mendetail dari catatan dalam bahasa Ibrani:
Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya … .,
Berfirmanlah Allah: “Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering.” Dan jadilah demikian.
Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamai-Nya laut.
Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang. …
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, … ’ (Kejadian 1:1–2, 9–10, 16, 27–28)

Leave a Reply