UMAT ALLAH DAN JAMINAN KEMENANGAN

PELAJARAN KE-VI; 10 November 2012

“KEMENANGAN ATAS KUASA-KUASA JAHAT”

Sabat Petang, 3 November

PENDAHULUAN

Satu kehidupan, dua dunia. Pekan lalu kita sudah pelajari tentang dua kekuatan yang menguasai dunia ini, yaitu kuasa alami dan kuasa supra alami. Allah menciptakan “langit dan bumi dan segala isinya” (Kej. 2:1) sebagai “alam materi” yang tunduk pada hukum alam, kemudian Setan dicampakkan ke dunia ini dan membawa masuk “alam gaib” yang dikendalikan oleh hukum supra alami yang dimilikinya. Tetapi Allah tidak membiarkan Setan menguasai dan merajalela dalam alam gaib itu sendirian, Ia mengintervensi kekuatan Setan dan membatasi ruang geraknya. Melalui “tongkat Musa” Allah menunjukkan keunggulan kuasa supra alami ilahi melalui berbagai manifestasi sepanjang riwayat umat-Nya, bangsa Israel. Mulai dari waktu mereka masih berada di negeri perbudakan Mesir, sepanjang perjalanan di gurun Arabia, hingga menjelang memasuki tanah perjanjian Kanaan. Selain tongkat Musa, benda lain yang kerap digunakan Allah untuk melakukan peristiwa-peristiwa ajaib bagi bangsa Israel adalah Tabut Perjanjian yang menjadi tanda penyertaan Allah terhadap umat-Nya, mulai dari gunung Sinai sampai mereka menduduki negeri Kanaan.

Sejak zaman Perjanjian Lama manusia sudah hidup dalam satu kehidupan dengan dua dunia, alami dan supra alami. Katakanlah, manusia menjalani satu kehidupan dengan dua alam berbeda yang kait-mengait dan terkadang saling tumpang-tindih, yaitu alam materi dan alam gaib. Bahkan, alam gaib itu sendiri dikuasai oleh dua kekuatan supra alami yang saling bertentangan, yaitu kuasa kebenaran dan kuasa kegelapan. Di zaman Perjanjian Baru pertarungan antara kedua kekuatan supra alami itu mencapai puncaknya, dengan kemenangan pada akhirnya berada di pihak kuasa kebenaran dengan Kristus sebagai pemimpin. “Kekristenan melihat dimensi lain dari realita di balik dunia kebendaan. Kedua alam ini penting, dan keduanya memiliki kuasa yang tujuannya masing-masing saling silang. Alangkah bersyukurnya kita atas janji-janji kemenangan bagi kita di kedua alam ini” [alinea kedua: tiga kalimat terakhir].

Ketika Yesus berkata kepada Petrus, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16:18), pernyataan itu sekaligus menjamin keselamatan dan keabadian gereja di tengah dua alam yang berusaha menghancurkannya. Sesungguhnya dengan pernyataan tersebut Yesus bukan mendirikan sebuah agama tertentu seperti dianggap oleh banyak orang, tetapi Ia mendirikan satu benteng pertahanan yang aman dan ampuh untuk menghadapi serangan-serangan dari kuasa supra alami Iblis di mana semua pengikut Kristus boleh berlindung. Benteng itu bernama “Gereja” yang oleh dunia lazim disebut Kekristenan. “Di tengah konflik ini, Kekristenan tidak meninggalkan para penganutnya kepada kemurahan dari kekuatan-kekuatan yang saling berlawanan itu. Sebaliknya, di dalam Kristus kita memiliki janji kemenangan atas kekuatan-kekuatan itu” [alinea terakhir: dua kalimat terakhir].

Minggu, 4 November

KEMENANGAN DIPASTIKAN (Sebuah Pentas Disiapkan Bagi Kemenangan Kita)

Tuhan, sumber pertolongan. Semasa remaja dulu saya mempunyai seorang teman yang berbadan kecil tapi bermulut besar. Suatu kali dia berceloteh tentang pengalamannya melawan dua orang berandalan yang mencegatnya di jalan hendak memeras. Terjadilah perkelahian seru. Meskipun kawan ini babak belur (dan dia memperlihatkan bekas-bekasnya), tapi pada akhirnya–katanya–dia berhasil membuat kedua lawannya yang bertubuh lebih besar itu lari tunggang langgang. Tentu saja saya dan teman-teman lain terheran-heran bukan kepalang, sebab setahu kami dia bukan seorang petarung dan tidak pernah belajar ilmu bela diri apapun. Beberapa hari kemudian terungkaplah bahwa sebenarnya dia yang dihajar habis-habisan, dan bisa berakibat lebih parah kalau tidak ditolong oleh saudaranya yang kebetulan lewat di situ. Kami hanya bisa tertawa geli melihat si mulut besar yang mengklaim kemenangan dirinya, padahal sebenarnya dia adalah korban yang beruntung bisa luput berkat pertolongan orang lain.

Keadaan kita kurang-lebih sama dengan dia. Dalam keadaan tidak berdaya kita sedang dipermainkan oleh kuasa iblis, tapi beruntung bisa dilepaskan dari bahaya berkat pertolongan Kristus. Bahkan, sebenarnya kita tidak tahu bagaimana caranya mencari pertolongan, tetapi Tuhan yang datang menolong kita (Ef. 1:4). Pemazmur menulis, “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi” (Mzm. 121:1, 2). Tuhan tidak pernah terlambat dalam menolong umat-Nya, seperti kata Yesus, “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” (Luk. 18:7).

“Orang Kristen tidak akan memiliki harapan kemenangan atas kuasa kejahatan kecuali pentas telah disiapkan untuk itu…Dalam suatu pengertian yang sangat nyata, penyingkapan kedok dan perlucutan ‘kuasa-kuasa’ ini telah membatasi mereka. Fakta bahwa ‘kuasa-kuasa’ tersebut sudah ditaklukkan menyiapkan pentas kemenangan orang Kristen” [alinea pertama: kalimat pertama dan dua kalimat terakhir].

Pengharapan Kristiani. Rasul Paulus mengungkapkan bahwa panggilan Allah kepada manusia itu mengandung kemuliaan (Ef. 1:18) dan kuasa (ay. 19), yang dikerjakan melalui Yesus Kristus (ay. 20). Kalau kematian Yesus di kayu salib merupakan demonstrasi dari kasih Allah, kebangkitan Yesus adalah demonstrasi dari kuasa Allah. Apa yang telah diselesaikan oleh Yesus di kayu salib mengandung suatu pengharapan bagi manusia–tepatnya, semua orang yang percaya–yaitu pengharapan akan kemenangan. “Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (1Kor. 15:57).

“Paulus berdoa agar suatu pencerahan baru dan mendalam akan menyertai orang Kristen. Bilamana hal ini terjadi, kehidupan mereka akan dipenuhi dengan pengharapan Kristiani. Mereka akan mengetahui hak-hak istimewa mereka sebagai pewaris-pewaris Allah, dan dari pengalaman mereka akan mengetahui kuasa Allah dalam kehidupan mereka, suatu kuasa yang sama besarnya dengan kuasa yang membangkitkan Yesus dari kematian” [alinea kedua].

Pengharapan Kristiani itu adalah pengharapan akan kemenangan dalam pergumulan dengan kuasa dosa, dan dengan kekuatan-kekuatan supra alami kerajaan kegelapan yang berusaha hendak membuat kita bertekuk lutut kepadanya. Orang Kristen yang mengandalkan kuasa Allah di dalam Yesus Kristus adalah seorang yang “berlipat lutut,” bukan “bertekuk lutut.” Namun, hanya dengan mengalami sendiri kemenangan itu baru kita percaya bahwa pengharapan kemenangan itu memang nyata. Kita mengalaminya melalui pergumulan sehari-hari menghadapi dosa dan oleh turut serta dalam peperangan melawan kuasa kegelapan. Orang Kristen yang berserah tidak mengenal kata menyerah. Kita bukanlah orang-orang yang menyerah dengan mengangkat tangan, tetapi kita adalah orang-orang yang berserah dengan melipat tangan (istilah dulu: “kunci tangan”).

Apa yang kita pelajari tentang pentas kemenangan yang disediakan Allah bagi umat-Nya?

1. Allah menyediakan pentas bagi Yesus Kristus untuk menang atas Setan, dan pentas itu adalah Salib Golgota. Setan berharap bahwa Yesus tidak akan pernah bangkit lagi dari kubur yang dijaga oleh satu regu prajurit Romawi pilihan, tetapi seorang malaikat surga datang menggolekkan batu penutup kubur itu dan memanggil Yesus keluar. Tentara-tentara yang jatuh terjerembab itu mewakili Iblis yang jatuh tersungkur.

2. Pentas kemenangan Kristus juga disediakan bagi para pengikut-Nya yang mau berserah dan mengandalkan kuasa kemenangan-Nya. Yesus telah memberikan kuasa itu kepada murid-murid-Nya (Mat. 10:1). Ia berkata, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi” (Mat. 28:18).

3. Setiap orang Kristen berpeluang untuk menang dalam pergumulan dosa berkat adanya hak istimewa untuk memanfaatkan kemenangan Kristus atas Setan, tapi kita harus ambil bagian dalam perjuangan itu. Tanpa berjuang dalam pergumulan dosa kita tidak akan pernah merasakan pengalaman menang di dalam kuasa Kristus itu.

Senin, 5 November

PENGHARAPAN MASA DEPAN (Harapan Kemenangan)

Bertekad untuk menang. Hari itu Michael Hargrove hendak menjemput seorang temannya yang akan mendarat di bandara Portland, Oregon, AS. Di ruang tunggu kedatangan matanya tertuju pada sebuah adegan penyambutan yang berlangsung hanya beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Seorang bapak yang baru turun dari pesawat disambut oleh istri dan kedua anaknya yang masih kecil. “Kamu benar-benar sudah besar sekarang. Aku sayang kamu,” sapa bapak itu kepada putra sulungnya dan merangkulnya dengan erat. Lalu dia beralih kepada anak perempuannya, “Hi, baby girl” ujarnya sembari mengambilnya dari gendongan ibunya dan mengelus kepala anak itu yang langsung bersandar ke pundak ayahnya dengan rasa nyaman. Beberapa saat kemudian dia menyerahkan gadis kecil itu kepada kakaknya sambil berkata, “Aku menyimpan yang terbaik untuk yang terakhir.” Kemudian dia mendekati istrinya dan mendekapnya sangat erat sembari menciumnya cukup lama. “Aku sangat menyayangimu,” kata sang suami dengan nada lembut dan tatapan penuh arti.

Pada saat itulah Michael tersadar bahwa dia telah bersikap mengganggu privasi orang lain karena memandangi mereka terus-menerus. Baru saja dia hendak mengalihkan kepala ke arah lain tapi mata pria itu sudah keburu memergokinya. Untuk membuang rasa canggung, Michael bertanya kepada pria yang masih berangkulan dengan istrinya itu, “Sudah berapa lama kalian menikah?” Pria itu menjawab bangga, “Dua belas tahun.” Untuk membuat suasana lebih akrab dia bertanya lagi, “Rupanya sudah berapa lama berpisah?” Pria itu menjawab lagi, “Dua hari penuh!” Dua hari? Dia mengira perpisahan mereka sudah beberapa minggu atau beberapa bulan. “Wah, saya berharap perkawinan saya juga akan tetap bergairah setelah dua belas tahun.” Terhadap pernyataan itu pria tersebut menanggapinya dengan suara dan airmuka serius. Sembari merenggangkan pelukannya dia menatap wajah Michael dan berkata, “Jangan berharap, kawan. Bertekad!”

Dalam peperangan rohani melawan kuasa kejahatan umat Tuhan tidak boleh hanya sekadar berharap untuk menang, melainkan harus bertekad untuk menang. Janji kemenangan sudah dipastikan, kita hanya tinggal menyediakan hati untuk menerima janji serta kuasa itu, niscaya anda dan saya pasti menang. “Bukan saja pentas disiapkan bagi kemungkinan kemenangan orang Kristen atas kuasa-kuasa kejahatan, Alkitab secara jelas memberi kita pengharapan akan kemenangan atas kuasa-kuasa itu” [alinea pertama].

Pengharapan yang menyelamatkan. Rasul Paulus mengatakan bahwa pengharapan itulah yang membuat kita menang. “Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan,” tandasnya (Rm. 8:24). Menurut sang rasul, pengharapan itu tidak kelihatan. “Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun” (ay. 25). Pengharapan adalah saudara kembar dariiman (Rm. 15:13; 1Ptr. 1:21). Seorang yang mempunyai iman dengan sendirinya memiliki pengharapan, dan jika dia memelihara imannya itu berarti dia juga memelihara pengharapannya.

Pengharapan merupakan buah dari ketekunan dan tahan uji (Rm. 5:4); dan pengharapan seperti itu tidak akan mengecewakan oleh karena di hati kita ada kasih Allah yang ditanamkan oleh Roh Kudus (ay. 5). Ketekunan, tahan uji, dan pengharapan adalah bagaikan mata rantai emas dalam pertumbuhan orang Kristen menuju kedewasaan. Apa yang membuat orang Kristen menumbuhkan ciri sifat yang tekun dan tahan uji? Tentu saja dari cobaan-cobaan dan pergumulan demi pergumulan yang kita alami dari hari ke hari. Itulah sebabnya rasul Paulus menasihati kita, “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” (Rm. 12:12). “Percaya kepada Allah dalam kesulitan-kesulitan sesungguhnya adalah suatu komponen penting tentang apa artinya hidup oleh iman dan bukan oleh penglihatan” [alinea kedua: kalimat terakhir]

Ditakdirkan untuk selamat? Rasul Paulus mengatakan bahwa panggilan Allah terhadap kita mengandung suatu pengharapan (Ef. 4:4). Jadi, anda dan saya tidak dipanggil untuk suatu hal yang sia-sia. Bahkan, kita termasuk orang-orang “yang dipilih-Nya dari semula” yaitu “untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya” (Rm. 8:29). “Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya” (ay. 30; huruf miring ditambahkan). Frase “ditentukan-Nya dari semula” dalam ayat ini telah dianggap sebagai “takdir” dan menimbulkan keyakinan bagi banyak umat Kristen bahwa orang-orang yang dipanggil oleh Tuhan itu adalah mereka yang sudah ditakdirkan untuk selamat.

Kata asli (Grika) yang diterjemahkan dengan ditentukan-Nya dari semula pada ayat ini adalah προγινώσκω, proginōskō, kata-kerja yang artinya sudah mengetahui lebih dulu, seperti yang digunakan dalam Kisah 26:5 (“sudah lama mereka mengenal”) dan 2Petrus 3:17 (“kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya”). Memang kata yang sama juga digunakan dalam Roma 11:2 dan 1Petrus 1:20 yang diterjemahkan oleh Alkitab versi TB dengan dipilih. Tentu saja baik rasul Paulus maupun rasul Petrus menggunakan kata ini untuk mengungkapkan kuasa kemaha-tahuan(omniscience) Allah yang dapat mengetahui lebih dulu apa yang bakal terjadi, bahkan jauh sebelumnya. Allah juga mengetahui siapa saja orang-orang yang mau percaya kepada penebusan Kristus, dan siapa saja mereka yang bakal bertahan dan menang dalam peperangan rohani melawan Iblis.

“Ayat 29 dan 30 merupakan cara Paulus membenarkan keyakinan yang dinyatakan dalam ayat 28. Dalam ayat-ayat ini dia menunjukkan bagaimana maksud Allah bagi mereka yang mengasihi Dia itu dikembangkan, suatu maksud di mana termasuk seluruh proses keselamatan” [alinea ketiga].

Apa yang kita pelajari tentang pengharapan kemenangan?

1. Kemenangan adalah satu janji yang pasti dari Allah bagi umat percaya; bukan saja dijanjikan tapi sudah disediakan. Dengan janji yang sudah tersedia ini setiap orang percaya tidak perlu harus kalah dalam peperangan rohani dengan Setan. Apabila kita percaya kepada keselamatan melalui Kristus, kita juga harus percaya akan kemenangan oleh Kristus.

2. Pengharapan datang bersama-sama dengan iman sebagai satu paket. Seperti halnya iman, pengharapan itu bertumbuh melalui ketekunan dan sikap tahan uji kita menghadapi berbagai cobaan dan tantangan hidup Kekristenan. Ketekunan, tahan uji, dan pengharapan adalah rantai emas yang dibungkus dalam iman untuk suatu pertumbuhan menuju kedewasaan rohani.

3. Allah tidak menakdirkan seseorang untuk selamat. Tetapi jauh sebelumnya Dia sudah tahu apakah anda dan saya mau percaya kepada Yesus Kristus, dan menerima kuasa kemenangan yang disediakan-Nya sehingga pada akhirnya akan menang, atau tidak. Menang dan selamat, atau kalah dan binasa, itu adalah pilihan kita, bukan takdir Allah.

Selasa, 6 November

MELAWAN ATAU KALAH (Umat Kristen Lawan Setan)

Rahasia kemenangan. Rasul Yakobus memberi satu “rumus rahasia” untuk mengalahkan Iblis. Katanya, “Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!” (Yak. 4:7). Jadi, rumusnya adalah: (tunduk kepada Allah) + (melawan Iblis) = kemenangan! Dalam bahasa asli PB, kata”tunduk” adalah ὑποτάσσω, hypotassō, sebuah kata-kerja yang berarti menurutatau takluk kepada suatu kuasa yang lebih kuat atau lebih besar. Kata yang digunakan sebanyak 49 kali dalam 32 ayat PB ini juga diterjemahkan dengan taat (Luk. 2:51, BIMK; Tit. 2:9; Ibr. 12:9),takluk (Luk. 10:17, 20; Rm. 8:7, 20; Ef. 5:22, 24), taat dan tunduk (Tit. 3:1). Sedangkan bahasa asli PB untuk “lawanlah” adalah ἀνθίστημι, anthistēmi, sebuah kata-kerja yang berartimenentang atau mengambil sikap menentang terhadap sesuatu. Kata ini digunakan sebanyak 16 kali pada 12 ayat dalam PB, antara lain Kis. 6:10; Rm. 9:19; 13:2; dan Ef. 6:13.

Menyimak ayat-ayat sebelumnya kita dapati bahwa nasihat rasul Yakobus itu berkaitan dengan peperangan rohani yang berkecamuk dalam diri manusia. Sang rasul sedang menasihati umat Tuhan agar tidak mengikuti gaya hidup duniawi yang berarti bersahabat dengan dunia, sebab “barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah” (Yak. 4:4), sedangkan Tuhan telah menempatkan Roh-Nya ke dalam diri kita (ay. 5). Dengan adanya Roh Allah di hati kita seharusnya anda dan saya menjadi sangat mampu untuk melawan Setan, tetapi dengan membiarkan diri kita dikalahkan begitu saja oleh keduniawian itu sama dengan menyepelekan kuasa Roh Allah itu. Ayat ini berbicara perihal sikap kita dalam peperangan rohani yang mencerminkan keberpihakan dan dengan demikian menentukan hasil akhir nasib kita. Tunduk kepada Allah berarti memihak pada Allah, sebaliknya takluk pada pesona keduniawian berarti memihak pada Setan. Orang Kristen sejati yang berpihak kepada Allah memiliki sumberdaya rohani untuk mengalahkan Setan. Jaminan kemenangan Kristus ada di tangan anda dan saya, oleh sebab itu “Lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!” (ay. 7).

Sementara setiap orang Kristen harus tunduk dalam sikap merendahkan diri di hadapan Allah, pada waktu yang sama kita harus mempunyai rasa percaya diri untuk melawan Setan sebagai musuh yang sudah dikalahkan. Tidak perlu pendeta dan seluruh jemaat berpuasa dan mendoakan anda supaya dapat melawan godaan iblis, sebab anda pun tidak bisa mempersalahkan jemaat atau pendeta kalau anda gagal. Seorang umat Tuhan yang paling lemah sekalipun jika berserah dan bersandar pada kuasa Yesus dia pasti menang. “Orang Kristen bukanlah korban yang tak berdaya, tergantung pada pengasihan si jahat (dapatkah anda lihat juga di sini mengapa begitu penting untuk memahami realitas sesungguhnya dari Setan dan malaikat-malaikat yang sudah jatuh?). Tetapi orang Kristen tidak sekadar terpanggil untuk bangkit melawan Setan melainkan juga bersikap menentang dia…Sikap itu tentunya adalah suatu penyerahan sepenuhnya kepada Yesus, satu-satunya yang memiliki kuasa untuk membuat Setan lari dari kita” [alinea pertama: dua kalimat pertama dan kalimat terakhir].

Berserah, bukan menyerah. Orang Kristen sejati seharusnya tidak mempunyai kekhawatiran apapun dalam hidupnya, termasuk rasa khawatir terhadap Setan. Dengan merendahkan diri “di bawah tangan Tuhan yang kuat” (1Ptr. 5:6), dan menyerahkan “segala kekhawatiranmu kepada-Nya” (ay. 7), sebagai umat Allah anda dan saya pasti mampu memenangkan setiap pergulatan hidup dan pertarungan rohani. Kristus adalah satu-satunya pihak terhadap siapa kita pasrah dan berserah untuk menang. Orang-orang Kristen akan memenangkan peperangan rohani dengan berserah, bukan menyerah.

Penderitaan umat Kristen, akibat penganiayaan maupun sikap permusuhan oleh dunia, bukanlah sesuatu yang mengagetkan. Penderitaan orang Kristen adalah bagian dari salib Kristus yang mesti kita pikul (Mat. 16:24; Mrk. 8:34; Luk. 9:23). Kalau Simon dari Kirene sudah turut memikul salib Yesus secara fisik (Luk. 23:26), kita sebagai pengikut-pengikut Kristus zaman ini turut ambil bagian memikul salib-Nya dalam manifestasi rohani. Kata Yesus, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat. 10:38). Jika anda mengalami penderitaan dan penganiayaan karena berpihak kepada Yesus Kristus, ingatlah “bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama” (1Ptr. 5:9). Namun untuk itu, “Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya” (ay. 10).

“Petrus menulis kata-kata ini untuk menasihati orang-orang Kristen yang sedang menderita penganiayaan. Sudah jelas dia mengetahui bahwa yang bersembunyi di balik penganiayaan dari para pembacanya yang menderita itu adalah musuh utama, Setan…Namun, Petrus tahu bahwa meskipun dengan berdiri teguh penderitaan itu hanya bisa ditahan untuk sementara saja; tetapi Allah sendiri akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan, dan mengokohkan orang Kristen (1Ptr. 5:10)” [alinea terakhir: dua kalimat pertama dan kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang rahasia kemenangan melawan Setan?

1. Setan adalah musuh yang sudah dikalahkan oleh Kristus, dan setiap pengikut Kristus dijamin untuk menang. Tetapi kemenangan itu harus diperoleh dengan suatu sikap yang tegas: tunduk kepada Allah dan berani melawan Setan. Dengan cara demikian kemenangan bukan saja sekadar peluang atau keniscayaan, melainkan suatu kepastian.

2. Keberpihakan adalah sikap kita dalam peperangan rohani. Salah satu bukti dari sikap tunduk kepada Allah, dan pada waktu yang sama melawan Setan, ialah dengan menjauhkan diri dari keduniawian. Anda tidak dapat sepenuhnya tunduk kepada Allah sambil “berpihak kepada Setan” melalui gaya hidup duniawi.

3. Barangkali titik lemah dari kebanyakan umat Tuhan adalah dalam dua hal: pesona duniawi dan penderitaan penganiayaan. Dalam banyak kasus, daya tangkal dan daya tahan terhadap kedua lini serangan Iblis tersebut sangat rendah sehingga mudah dikalahkan. Dengan kesadaran akan hal inilah maka kita harus senantiasa menggunakan dan mengandalkan kuasa Roh Allah yang tersedia bagi setiap orang.

Rabu, 7 November

TERPANGGIL DAN DIPERLENGKAPI (Contoh-contoh Kemenangan)

Pengalaman murid-murid. Perhatikan bahwa di antara kedua belas murid Yesus yang beroleh kuasa untuk mengusir Setan dan menyembuhkan penyakit termasuk Yudas Iskariot, murid yang kemudian berkhianat (Mat. 10:4). Memang ini terjadi sebelum Yudas mengkhianati Gurunya itu, namun tentu saja Yesus sudah tahu lebih dulu bahwa murid yang satu ini bakal dipakai oleh Setan. Sebelum Yudas diperalat iblis, Yesus menggunakan dia lebih dulu untuk mendemonstrasikan keunggulan kuasanya atas si penguasa dunia ini. Kita lihat di sini bahwa, seperti Yudas Iskariot, seseorang bisa menjadi alat dari kuasa Tuhan pada suatu waktu, dan di waktu yang lain dia dapat menjadi agen Setan. Namun, teologianya di sini ialah: bilamana Tuhan memanggil seseorang untuk suatu tugas, siapapun orangnya, Dia akan memperlengkapi orang itu demi kesuksesan tugas tersebut!

Hasilnya, kedua belas murid itu “mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka” (Mrk. 6:13). Hal yang sama dilakukan Yesus pula kepada tujuh puluh murid-Nya pada kesempatan yang lain, dan mereka pun pulang dengan gembira sambil bersaksi, “Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu” (Luk. 10:17). Menanggapi laporan itu, Yesus berkata, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu” (Luk. 10:18, 19). Ini merupakan catatan otentik tentang “pendelegasian wewenang” dari Kristus yang mewakili surga kepada murid-murid-Nya yang mewakili semua umat Tuhan, dan sekaligus menandai kegenapan janji Allah untuk mengaruniakan kuasa ilahi kepada umat-Nya yang siap menerima itu.

“Hal ini tidak mengherankan oleh sebab pekabaran injil yang sepantasnya itu perlu membuka kedok kuasa-kuasa seperti itu. Manifestasi dari ‘kuasa-kuasa’ tersebut diharapkan sementara injil itu dikumandangkan, karenanya perlu memberikan kepada kedua belas murid itu kuasa mengatasi mereka. Pastinya, kuasa-kuasa kejahatan itu menyatakan diri sementara kedua belas murid itu pergi berkhotbah, dan benar saja banyak setan-setan dan kuasa-kuasa jahat yang diusir keluar” [alinea kedua: tiga kalimat terakhir].

Jaminan keberhasilan penginjilan. Peristiwa-peristiwa yang dialami oleh murid-murid itu, baik kedua belas orang yang termasuk “lingkaran dalam” (inner circle) maupun tujuh puluh orang yang merupakan “lapis kedua” (second line) dalam permuridan Yesus, menunjukkan bahwa kuasa untuk mengatasi dan menaklukkan Setan itu diberikan secara sama dan merata. Dalam hal untuk melawan Setan, tidak ada seorang yang memiliki kuasa yang lebih besar dari orang yang lain, apapun kedudukannya dalam jemaat atau di organisasi gereja. Sesungguhnya, kuasa Allah disediakan bagi setiap orang percaya yang mau menerimanya dan menggunakannya. Jangan lupa, kuasa yang diberikan kepada kedua kelompok murid Yesus itu, untuk membuat Setan takluk, khususnya berkaitan dengan pekerjaan penginjilan. Berdasarkan konteks ini, hal tersebut juga menjadi suatu jaminan akan keberhasilan penginjilan baik oleh pekerja profesional maupun anggota awam. “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis. 11:8).

“Meskipun banyak yang dapat dibahas dan diperdebatkan perihal ayat-ayat ini, dan cara di mana ayat-ayat itu harus dipahami sekarang ini, hal yang penting ialah bahwa, sebagai orang Kristen yang telah terpanggil untuk mengumandangkan injil kepada dunia, melalui Kristus kita memiliki kuasa untuk melakukannya” [alinea terakhir].

Tetapi sementara keberhasilan penginjilan dan kemenangan atas kuasa iblis merupakan janji yang pasti, di mana anda dan saya dapat mengalaminya, kita sama sekali tidak boleh merasa bangga seolah-olah keberhasilan dan kemenangan itu adalah usaha kita sendiri. Yesus berpesan, “Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga” (Luk. 10:20). Manusia memang sangat “peka” dengan sesuatu keberhasilan dan kemenangan yang diraih, dan ekses dari kesuksesan ialah kita menjadi terlalu bangga sehingga disengaja atau tidak keberhasilan itu langsung disebarkan kepada orang-orang lain, di gereja atau di Facebook! Setiap prestasi kerohanian layak disyukuri dan dirayakan, tapi bukan untuk nama kita melainkan bagi nama Tuhan saja. Alkitab mencatat bahwa setelah mendengar kesaksian itu Yesus pun bergembira dalam Roh Kudus, namun bukan karena kesuksesan murid-murid-Nya itu. “Bapa, Tuhan yang menguasai langit dan bumi! Aku berterima kasih kepada-Mu karena semuanya itu Engkau rahasiakan dari orang-orang yang pandai dan berilmu, tetapi Engkau tunjukkan kepada orang-orang yang tidak terpelajar. Itulah yang menyenangkan hati Bapa” (ay. 21, BIMK).

Apa yang kita pelajari tentang pengalaman kemenangan yang dicontohkan oleh murid-murid Yesus?

1. Tatkala Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk menginjil, baik yang berjumlah 12 maupun 70, Dia tak lupa membekali mereka dengan kuasa Roh-Nya untuk menaklukkan kuasa Setan. Teologia yang penting di sini adalah: (1) Yesus mengerti bahwa pekerjaan penginjilan selalu akan dihambat oleh Setan, dan (2) Yesus tahu bahwa kuasa-Nya lebih perkasa daripada kuasa iblis dan dunia ini.

2. Murid-murid Yesus pada abad pertama di Palestina itu mewakili murid-murid Yesus abad ke-21 di seluruh dunia, di mana anda dan saya hidup. Kuasa yang sama, dengan maksud dan peruntukan yang sama, itu juga disediakan bagi kita sekarang ini. Dalam pekerjaan Tuhan, bukan kemampuan anda yang penting, tapi kesediaan anda!

3. Kemenangan atas kuasa iblis dan keberhasilan dalam penginjilan patut disyukuri, bukan untuk menjadikannya suatu “kredit” (pujian) bagi nama kita melainkan nama Tuhan. Kesuksesan dalam pekerjaan Tuhan bukan untuk menyenangkan hati manusia–diri anda atau pimpinan anda–melainkan untuk menggembirakan hati Yesus Kristus dan Bapa semawi.

Kamis, 8 November

MEWASPADAI KELIHAYAN SETAN (Contoh-contoh Kemenangan: Kitab Kisah Para Rasul)

Setan belum menyerah. Setelah kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus Kristus ke surga, praktis peluang Setan untuk menang telah sirna sama sekali. Tetapi Setan bukan tipe musuh yang mudah menyerah. Mengapa dia belum menyerah? Seandainya kita tanyakan itu kepadanya, mungkin Setan akan menjawab, “Betul, saya sudah kalah dari Kristus, tapi saya tidak akan kalah dari anda!” Itulah sebabnya Setan telah turun hendak memerangi umat Tuhan “dengan amarah yang sangat besar, karena ia tahu bahwa waktunya tinggal sedikit lagi” (Why. 12:12, BIMK). Kedahsyatan kuasa Setan itu nyata, dan dia sedang berperang lebih dari seekor binatang buas yang terluka. Umat Allah tidak perlu harus berubah jadi malaikat lebih dulu untuk bisa berperang dan mengalahkan Setan, sebab Yesus sendiri sudah menang ketika mengenakan keadaan manusia sama seperti kita. Kemenangan itu bukan karena siapa kita, tapi apa yang ada pada kita.

“Pada waktu yang sama pula, sebagaimana kita ketahui dengan baik, pertentangan besar antara Kristus dan Setan meski sudah ditentukan secara final di atas salib itu akan terus berkecamuk hingga akhir zaman. Jadi, para pengikut Kristus, walaupun Dia sudah pergi, pasti terlibat dalam konflik itu, khususnya ketika mereka berusaha memenuhi perintah injil itu” [alinea ketiga].

Popularitas Kristen. Serambi Salomo adalah sebuah bangunan beratap tanpa pintu yang terletak di sisi sebelah timur dari kompleks kaabah Yerusalem, dinamai menurut nama raja Salomo yang membangun Bait Allah itu. Bangunan luas ini berfungsi sebagai balairung atau gedung serba guna yang bebas digunakan oleh rakyat untuk pertemuan-pertemuan atau acara-acara khusus. Di tempat inilah orang-orang Kristen (kaum Yahudi yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Mesias) itu berkumpul untuk mendengarkan rasul-rasul mengajar dan mengadakan tanda-tanda mujizat (Kis. 5:12). Banyak gerakan-gerakan penginjilan dari berbagai komunitas Kristen moderen yang menggunakan nama “Serambi Salomo” (Solomon’s Porch di Amerika Utara, ataupun Porch de Salomon di Amerika Latin) karena terinspirasi oleh kisah kegiatan rasul-rasul di Bait Allah Yerusalem pada paruh awal abad pertama itu.

Waktu itu orang-orang Kristen tidak terkotak-kotak dalam berbagai denominasi atau sekte karena tidak ada yang namanya organisasi gereja seperti yang kita kenal sekarang, dan mereka berkumpul hanya karena terdorong oleh kerinduan untuk mendengar firman Tuhan, di samping untuk disembuhkan dari berbagai penyakit atau dibebaskan dari kuasa iblis. Umat Kristen yang semula dikejar-kejar hendak dianiaya ini telah berubah menjadi perhimpunan satu umat yang disegani. “Orang-orang lain tidak ada yang berani menggabungkan diri kepada mereka. Namun mereka sangat dihormati orang banyak. Dan makin lama makin bertambahlah jumlah orang yang percaya kepada Tuhan” (ay. 13, 14). Sepeninggal Yesus, tampaknya popularitas Kekristenan makin berkembang, dan hal itu tidak terlepas dari kuasa Roh Allah yang membuat murid-murid Yesus itu mampu melakukan tanda-tanda mujizat. Begitulah, bila sebuah kelompok kian populer maka semakin banyak pula orang-orang yang ingin bergabung.

Setan “ikut bermain.” Di Yerusalem, rasul-rasul yang mengadakan berbagai penyembuhan dengan kuasa supra alami yang berasal dari Roh Allah itu telah mengundang perhatian banyak orang, dan mereka “membawa orang-orang sakit ke luar, ke jalan raya, dan membaringkannya di atas balai-balai dan tilam, supaya, apabila Petrus lewat, setidak-tidaknya bayangannya mengenai salah seorang dari mereka” (ay. 15; huruf miring ditambahkan). Tentu mereka ini adalah kaum pendatang di kota Yerusalem. Dunia kekafiran zaman purba percaya bahwa “bayangan” dari seorang yang memiliki kekuatan gaib memiliki daya magis yang dapat menyembuhkan penyakit apa saja. Alkitab tidak mencatat apakah orang-orang sakit yang terkena bayangan tubuh Petrus itu memang benar-benar sembuh, tetapi orang-orang itu sendiri yang merasakan demikian. Kalaupun ada yang sembuh, itu hanyalah karena pengaruh sugesti saja. Manusia sendiri yang telah memaksakan kepercayaan dari takhyul mereka kepada iman Kristen yang benar. Faktanya, penyembuhan oleh rasul-rasul itu dilakukan dengan tindakan dan perkataan, seperti yang diperagakan oleh Petrus dan Yohanes atas seorang lumpuh di gerbang Bait Allah. “Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” kata Petrus kepadanya. “Lalu ia memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu” (Kis. 3:6, 7).

Bukan mustahil bahwa Setan juga bisa “ikut bermain” dalam peristiwa-peristiwa penyembuhan yang terkesan seperti sebuah mujizat. Meskipun suatu aktivitas mengusung nama Yesus, tetapi dalam kelicikannya Setan dapat memanfaatkan momentum itu untuk menipu manusia dengan menyusupkan ide bahwa dalam setiap performa supra alami itu adalah atas nama Yesus, sehingga menggiring pikiran manusia untuk menerima semua peristiwa yang bersifat gaib dan ajaib itu sebagai kuasa Tuhan sekalipun itu adalah oleh kuasa Setan. Inilah yang dialami oleh rasul Paulus dan Silas di Filipi. Seorang hamba perempuan yang dikuasai roh-roh Setan mengikuti mereka sambil berseru, “Orang-orang ini adalah hamba Allah Yang Mahatinggi. Mereka memberitakan kepadamu jalan kepada keselamatan” (Kis. 16:17). Tetapi Paulus membungkamnya dengan menghardik iblis yang menguasai hamba perempuan itu. “Demi nama Yesus Kristus aku menyuruh engkau keluar dari perempuan ini,” perintah Paulus, dan seketika itu juga keluarlah roh itu (ay. 18).

Pena inspirasi menulis: “Setan tahu bahwa kerajaannya telah diinvasi, dan mengambil cara ini untuk melawan pekerjaan pelayan-pelayan Allah itu. Kata-kata pujian yang diucapkan oleh perempuan ini mencederai pekerjaan, mengalihkan pikiran orang banyak dari kebenaran yang disampaikan kepada mereka, dan menimbulkan nama buruk terhadap pekerjaan itu oleh menyebabkan orang banyak percaya bahwa orang-orang yang berbicara dengan Roh dan kuasa Allah sebenarnya digerakkan oleh roh yang sama seperti duta Setan ini” (Ellen G. White, Sketches From the Life of Paul, hlm. 74).

Apa yang kita pelajari tentang pengalaman rasul-rasul menaklukkan kelihayan Setan dalam penyembuhan?

1. Meski kekalahannya sudah dipastikan oleh salib Kristus, Setan tidak mau menyerah begitu saja. Setidaknya dia berharap dapat menaklukkan orang-orang yang percaya kepada Kristus. Secara perhitungan “di atas kertas” anda dan saya tidak berdaya melawan Setan, tapi “di atas kuasa Kristus” kita mampu menaklukkannya. Sebab itu, jangan jadi “orang Kristen di atas kertas” tapi jadilah “orang Kristen di atas kuasa Kristus”!

2. Kekristenan sejati tidak mengejar reputasi dan popularitas, melainkan kita mengejar kebenaran dan kekudusan. Nama baik dan ketenaran harus dikelola secara benar dan tepat, kalau tidak itu dapat menjadi jerat yang menjerumuskan. Kepentingan pembangunan fisik tidak boleh mengalahkan kepentingan pembangunan karakter Kristus dalam diri setiap orang Kristen.

3. Perbuatan Tuhan pasti ajaib, tetapi tidak semua keajaiban adalah perbuatan Tuhan. Kita perlu berhati-hati dan tidak terlalu cepat menerima sesuatu pengalaman dan manifestasi supra alami sebagai hal yang sudah pasti berasal dari Tuhan, “sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat Terang” (2Kor. 11:14).

Jumat, 9 November

PENUTUP

Kedewasaan rohani. Prinsip surgawi selalu bertolak-belakang dengan prinsip duniawi. Misalnya, kalau prinsip duniawi mengatakan “pembalasan lebih kejam daripada perbuatan,” maka prinsip surgawi adalah “siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Mat. 5:39). Demikian juga, prinsip duniawi mengajarkan bahwa orang yang sudah dewasa itu harus mandiri, tetapi prinsip surgawi mendorong kedewasaaan rohani kita dengan semakin berharap dan mengandalkan Tuhan (Yer. 17:5-7; Rat. 3:24, 25; Mzm. 131:3; Ams. 3:5). Tuhan pasti tahu mengapa Ia menghendaki umat-Nya untuk selalu bersandar kepada-Nya gantinya kepada diri mereka sendiri.

“Kita tidak dapat menyelamatkan diri kita sendiri dari kuasa si penggoda; dia telah mengalahkan manusia, dan apabila kita berusaha untuk berdiri dalam kekuatan kita sendiri, kita pun akan menjadi mangsa bagi siasat-siasatnya; tetapi ‘nama Tuhan adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat.’ Amsal 18:10. Setan gemetar dan lari dari hadapan jiwa yang paling lemah yang mencari perlindungan dalam nama yang perkasa itu” [alinea pertama: dua kalimat terakhir].

Dengan jaminan kemenangan yang selalu tersedia bagi kita, dan dengan setumpuk bukti dan contoh dalam Alkitab tentang bagaimana kuasa kemenangan Kristus itu sudah digunakan oleh murid-murid-Nya untuk menaklukkan iblis, mengapa masih ada keraguan dan kekhawatiran yang menggantung di pelupuk mata kita? Mungkin itu karena anda dan saya terlampau banyak menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan perihal Setan dan kuasanya ketimbang mengenai Kristus dan kemahakuasaan-Nya. Sebuah kata-kata cerdas menasihati kita, “Never say, ‘God, Ia have a big problem’ but rather say, ‘Problem, I have a big God!”‘ (Jangan pernah berkata, “Tuhan, aku punya satu masalah besar” tapi katakanlah, “Masalah, aku punya Allah yang besar!”). Mungkin kita juga bisa meminjam ide ini dan berkata, “Devil, I have a most powerful God, and you know it!” (Iblis, aku punya Allah yang maha kuasa, dan kamu tahu itu!)

“Ada orang-orang Kristen yang sekaligus memikirkan dan membicarakan terlalu banyak tentang kuasa Setan. Mereka berpikir tentang musuh mereka, mereka berdoa tentang dia, mereka berbicara mengenai dia, dan dia muncul semakin besar dan bertambah besar di dalam angan-angan mereka. Memang betul bahwa Setan adalah makhluk yang berkuasa; tetapi syukur kepada Allah kita mempunyai Juruselamat yang perkasa, yang mencampakkan si jahat itu dari surga. Setan senang bila kita membesar-besarkan kuasanya. Mengapa tidak berbicara tentang Yesus? Mengapa tidak membesarkan kuasa-Nya dan kasih-Nya?” [alinea terakhir].

“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah” (Yer. 17:7, 8).

(Oleh Loddy Lintong/California, 7 November 2012)

Leave a Reply