Undang-Undang Hari Minggu

June 18, 2017 - Roh Nubuat

Tantangan Setan Terhadap Kekuasaan Allah
Allah mengutuk Babel ‘Karena telah memabukkan segala bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya.’ . . .

Allah menciptakan bumi dalam enam hari dan berhenti pada hari yang ketujuh, menguduskan hari itu, dan mengasingkannya dari yang lainnya sebagai suatu hari yang suci bagi-Nya, supaya dipelihara oleh umat-Nya dari generasi kepada generasi. Tetapi manusia yang berdosa, yang meninggikan dirinya di atas Allah, duduk di dalam kaabah Allah dan menunjukkan dirinya sebagai Allah, berpikir untuk mengubah waktu dan hukum. Kuasa ini, yang berusaha membuktikan bahwa dirinya bukan saja setara dengan Allah, bahkan melampaui Allah, mengubah hari perhentian, menempatkan hari yang pertama dalam pekan di tempat yang seharusnya adalah hari yang ketujuh. Dan dunia Protestan telah menerima anak Kepausan ini kudus. lstilah dalam Firman Allah menyebutnya percabulan (Wahyu 14:8).-7BC 979 (1900).

Selama pembebasan Kristen musuh besar dari kebahagiaan manusia itu telah menjadi Sabat hukum yang keempat itu sebagai sasaran dari serangan khusus. Setan berkata, ‘Aku akan berusaha menghalangi Allah. Aku akan memberi kuasa kepada para pengikutku untuk menyingkirkan hari peringatan Allah, yaitu Sabat hari yang ketujuh. Dengan demikian aku akan menunjukkan kepada dunia ini bahwa hari yang disucikan dan diberkati Allah ltu sudah diubah. Hari itu tidak boleh timbul dalam pikiran manusia. Aku akan menghapus ingatan tentang hari itu. Aku akan menempatkan sebagai gantinya satu hari yang tidak mengandung mandat Allah, satu hari yang tidak bisa menjadi tanda antara Allah dengan umat-Nya. Aku akan menuntun mereka yang menerima hari ini untuk menaruh kesucian yang Allah berikan pada hari yang ketujuh.-PK 183, 184 (c. 1914).

Sabat Sebagai Pokok Persoalan Utama
Dalam peperangan yang berlangsung pada zaman akhir, demi menentang umat Allah, seluruh kuasa-kuasa jahat yang telah murtad dari persekutuan dengan Hukum Tuhan akan bersatu. Dalam peperangan ini, Sabat Hukum keempat itu. akan menjadi pokok persoalan utama, Karena dalam hukum Sabat ini Pemberi Hukum yang agung itu menunjukkan diri-Nya sebagai Pencipta langit dan bumi. -3SM 2592 (1891).

Akan tetapi hari-hari Sabat-Ku harus kamu pelihara Kata Tuhan, ‘sebab itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun temurun, sehingga kamu mengetahui bahwa Akulah Tuhan yang menguduskan kamu’ (Keluaran 31:13). Sebagian orang akan berusaha membuat rintangan-rintangan dalam pemeliharaan hari Sabat, dengan berkata, Kamu tidak tahu hari apa Sabat itu,’ tetapi nampaknya mereka mengerti bilamana hari Minggu tiba, dan telah menunjukkan usaha yang besar untuk menjadikan undang-undang yang memaksakan pemeliharaan-Nya.-KC 148 (1900),

Gerakan Undang-Undang, flari Minggu di Tahun 1880-an [1] Selama bertahun-tahun kita sudah menantikan suatu Undang-Undang Hari Minggu diberlakukan di negeri kita, dan sekarang dengan menghadapi gerakan itu kita bertanya, Apa yang akan dilakukan oleh anggota—anggota kita terhadap hal
ini? . . . Kita harus secara khusus berharap agar rahmat dan kuasa Allah agar diberikan kepada umat-Nya sekarang. Allah itu hidup, dan kita tidak percaya bahwa waktunya sepenuhnya sudah tiba bilamana la akan membiarkan kebebasan-kebebasan kita dibatasi.

Nabi itu melihat ’empat malaikat berdirl pada keempat penjuru bumi dan mereka menahan keempat angin bumi, supaya jangan ada angin bertiup di darat, atau di laut atau di pohon-pohon.’ Seorang malaikat lain, yang muncul dari tempat matahari terbit berseru kepada mereka, katanya, ‘Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka!’ (Wahyu 7:1, 2). lni menunjukkan pekerjaan yang sekarang harus kita lakukan, yaitu berseru kepada Allah agar keempat malaikat itu menahan keempat mata angin sampai misionaris-misionaris diutus ke segenap penjuru dunia, dan mengumandangkan amaran terhadap pembangkangan akan Hukum Tuhan.–RH Extra, 11 Desember 1888.

Para Pendukung Undang-Undang Hari Minggu Tidak Menyadari Apa yang Mereka Lakukan
Pergerakan hari Minggu sekarang sedang merintis jalannya di dalam kegelapan. Para pemimpin menutupi pokok persoalan yang sebenarnya, dan banyak barang yang bergabung dengan pergerakan ini tidak melihat sendiri secara lebih jelas arah dari arus bawah ini. . . . Mereka bekerja dalam kebutaan. Mereka tidak menyadari bahwa jika pemerintah Protestan mengorbankan prinsip-prinsip yang telah menjadikan mereka suatu bangsa yang merdeka dan berdaulat, dan melalui perundang-undangan memasukkan ke dalam Konstitusi prinsip-prinsip yang akan mempropagandakan kepalsuan dan penipuan Kepausan, maka mereka terjerumus ke dalam kengerian Zaman Kegelapan Roma. -RH Extra, 11 Desember 1888.

Banyak orang, bahkan mereka yang terlibat dalam pergerakan pemaksaan Hari Minggu tersebut, yang buta terhadap akibat-akibat yang akan menyusul tindakan ini. Mereka tidak menyadari bahwa mereka secara langsung sedang melanggar kebebasan beragama. Banyak orang yang belum pernah memahami akan tuntutan Sabat Alkitab dan dasar yang palsu di atas mana lembaga hari Minggu itu didasarkan. . . .

Mereka yang sedang berusaha untuk mengubah Konstitusi dan mengadakan suatu undang-undang yang memaksakan pemeliharaan hari Minggu hanya sedikit menyadari apa akibatnya. Suatu krisis berada di hadapan kita.–5T 711, 753 (1889).

Bukan Duduk Tenang-Tenang Tanpa Berbuat Sesuatu
Adalah tugas kita untuk melakukan segala sesuatu dalam batas kemampuan kita untuk mencegah bahaya yang mengancam. . . . Suatu tanggung jawab besar berpindah kepada pria dan wanita yang tekun berdoa di seluruh negeri untuk memohon kepada Allah agar menghapus awan kejahatan ini, dan beberapa tahun lagi memberikan rahmat untuk bekerja bagi Tuhan.–RH Extra, 11 Desember 1888.

Mereka yang sekarang sedang memelihara hukum Allah perlu menggiatkan diri agar mereka bisa memperoleh pertolongan khusus yang hanya Allah saja dapat memberikannya kepada mereka. Mereka harus bekerja lebih sungguh-sungguh untuk selama mungkin memperlambat bencana yang mengancam itu. RH. 18 Desember 1888.

Janganlah umat Allah yang memelihara hukum itu berdiam diri pada waktu ini seakan-akan kita dengan santai menerima keadaan ini.—7BC 975 (1889).

Kita tidak melakukan kehendak Allah jika kita hanya duduk dengan tenang, tanpa berbuat apa-apa untuk menjaga kebebasan hati nurani. Doa yang sungguh-sungguh dan tekun harus dilayangkan ke surga agar bencana ini dapat ditunda sampai kita menyelesaikan pekerjaan yang sudah demikian lama terabaikan. Hendaklah doa yang paling tekun dilayangkan dan biarlah kita bekerja sesuai dengan doa kita.-5T 714 (1889).

Ada banyak orang yang sedang santai dan yang tertidur seperti sebelumnya. Mereka mengatakan, Kalau nubuatan sudah meramalkan pemaksaan pemeliharaan hari Minggu, pasti undang-undang itu akan dijalankan,’ dan karena berkesimpulan demikian lalu mereka duduk tenang sambil menantikan peristiwa itu, menghibur diri sendiri dengan pemikiran bahwa Allah akan melindungi umat-Nya pada masa kesusahan. Tetapi Allah tidak akan menyelamatkan kita jika kita tidak berusaha apa-apa untuk melakukan pekerjaan yang telah dipercayakan kepada kita. . . .

Sebagai penjaga-penjaga yang setia kamu harus melihat pedang itu terhunus dan memberikan amaran agar pria dan wanita tidak mengejar suatu hal dalam kebodohan yang akan mereka hindari kalau mereka sudah mengenal kebenaran. RH Extra, 24 Desember 1889.

Lawanlah Undang-Undang Hari Minggu Dengan Pena dan Suara
Kita tidak dapat bekérja untuk menyenangkan hati orang-orang yang akan menggunakan pengaruh mereka untuk menekan kebebasan beragama dan memberlakukan aturan-aturan yang menekan untuk membawa atau memaksakan sesama manusia memelihara hari Minggu sebagai hari Sabat. Hari pertama dalam pekan bukanlah hari yang harus dihormati. ltu adalah sabat yang palsu, dan anggota-anggota keluarga Tuhan tidak boleh ikut bersama dengan orang-orang yang meninggikan hari ini dan melanggar Hukum Allah dengan menginjak-injak Hari Sabat-Nya. Umat Allah tidak boleh memberikan suaranya untuk mendudukkan orang-orang seperti itu sebagai pejabat, sebab apabila mereka melakukannya maka mereka ikut ambil bagian bersama mereka atas dosa-dosa yang mereka lakukan dalam masa jabatannya.–FE 475 (1899).

Saya berharap agar terompet dibunyikan dengan nada tertentu sehubungan dengan pergerakan undang-undang hari Minggu ini. Saya piklr adalah paling balk kalau di dalam majalah-majalah kita soal kekekalan Hukum Allah dltegaskan secara khusus. . . . Kita sekarang harus melakukan yang terbaik untuk mengalahkan undang-undang hari Mmggu itu. CW 97, 98 (1906).

Amerika Serikat Akan Memberlakukan Undang-Undang Hari Minggu
whitehouse AS CopyBilamana bangsa kita akan menanggalkan prinsip-prinsip pemerintahannya guna menjalankan undang-undang Hari Minggu maka paham Protestan dalam hal ini akan bersalaman dengan Kepausan.-5T 712 (1889).

Umat Protestan akan menyerahkan seluruh pengaruh dan kekuatan mereka ke pihak Kepausan. Melalui suatu undang-undang nasional yang memaksakan Sabat yang palsu mereka akan memberikan kehidupan dan kekuatan kepada iman Roma yang menyeleweng, menghidupkan kembali kelaliman dan menekan hati nurani. –Mar 179 (1893).

Lambat atau cepat undang-undang Hari Minggu akan berlaku.—RH, 16 Februari 1905.

Tidak lama lagi undang-undang hari Minggu akan dipaksakan, dan orang-orang yang menduduki jabatan terpercaya akan merasa benci terhadap segenggam umat Allah yang memelihara Hukum-Nya. -4MR 278 (1909).

Nubuatan Wahyu 13 menyatakan bahwa kuasa yang dilambangkan dengan binatang bertanduk seperti domba akan menyebabkan ‘seluruh bumi dan semua penghuninya’ menyembah Kepausan — yang di situ dilambangkan dengan binatang ‘serupa dengan macan tutul.’ . . . Nubuatan ini akan digenapi bilamana Amerika Serikat akan memaksakan pemeliharaan hari Minggu, yang dituntut oleh Roma sebagai pengakuan khusus akan kekuasaannya. . . . Penyelewengan politik sedang merusak rasa cinta akan keadilan dan penghormatan terhadap kebenaran, dan meskipun di negara Amerika yang bebas para penguasa dan anggota-anggota dewan pembuat undang-undang akan menyerah kepada tuntutan populer akan sebuah undang-undang pemaksaan pemeliharaan Hari Minggu demi menyenangkan hati khalayak umum.-GC 578, 579, 592 (1911).

Argumentasi yang Digunakan Para Pendukung Undang-Undang Hari Minggu
Setan menaruh tafsiran-tafsirannya atas peristiwa-peristiwa, dan mereka beranggapan sama seperti Setan, bahwa bencana-bencana yang melanda negeri ini adalah akibat dari pelanggaran terhadap hari Minggu. Mengira akan meredakan murka Allah, orang-orang yang berpengaruh ini membuat undang-undang yang memaksakan pemeliharaan hari Minggu.– 10 MR 239 ( 1899).

Golongan inilah yang mengemukakan tuntutan bahwa penyelewengan yang merajalela pada umumnya disebabkan oleh penajisan terhadap apa yang disebut ‘Sabat Kristen‘ dan bahwa pemaksaan pemeliharaan hari Minggu akan sangat memperbaiki akhlak masyarakat. Tuntutan ini khususnya didesak di Amerika di mana Doktrin Sabat yang benar telah dikhotbahkan dengan sangat meluas.-GC 587 (1911).

Kaum Protestan dan Katolik Bertindak Seirama
Kaum Protestan akan bersekutu dengan kuasa Roma. Kemudian akan ada satu undang-undang yang menentang hari Sabat dari penciptaan Allah, barulah Allah akan melaksanakan ‘pekerjaan-Nya yang ajaib’ di bumi.—7BC 910 (1886).

Bagaimana Gereja Roma membersihkan diri dari tuduhan penyembahan berhala tidak dapat kita melihatnya. . . . Dan inilah agama yang kaum Protestan akan mulai memandang dengan kesukaan yang begitu besar, dan yang pada akhirnya akan bersatu dengan paham Protestan. Akan tetapi penyatuan ini tidak akan dipengaruhi oleh suatu perubahan dalam paham Katolik, Karena Roma tidak akan pernah berubah. Dia mengakui dirinya tidak bisa salah. Paham Protestanlah yang akan berubah. Diterimanya gagasan-gagasan kebebasan di pihaknya akan mendorongnya untuk menyambut tangan paham Katolik.-RH. 1 Juni 1886.

Dunia yang mengaku Protestan akan membentuk suatu persekongkolan dengan manusia yang durhaka, lalu gereja dan dunia akan sama-sama menyeleweng.–7BC 975 (1891).

Paham Roma di Benua Lama, dan paham Protestan yang murtad di Benua Baru, akan mengejar satu tujuan yang sama memerangi mereka yang menghormati semua prinsip-prinsip llahi.—GC 616 (1911).

Undang-Undang Hari Minggu Menghormati Roma
Bilamana gereja-gereja terkemuka di Amerika Serikat, yang menyatukan bagian-bagian doktrin tertentu yang sama-sama dipelihara oleh mereka, akan mempengaruhi pemerintah agar memaksakan ketetapan-ketetapan mereka dan mempertahankan lembaga-lembaga mereka, maka Amerika yang beraliran Protestan akan membentuk suatu citra hirarki Roma, dan pelaksanaan hukuman-hukuman Sipil terhadap para pembangkang secara tak terhindarkan akan terjadi. . . .

Pemaksaan pemeliharaan hari Minggu di pihak Gereja-Gereja Protestan merupakan suatu pemaksaan penyembahan terhadap kepausan. . . .

Dalam tindakan memaksakan suatu kewajiban agama oleh kuasa duniawi tersebut, gereja-gereja dengan sendirinya akan membentuk sebuah patung untuk binatang itu; sebab itu pemaksaan pemeliharaan hari Minggu di Amerika Serikat akan menjadi suatu pemaksaan penyembahan terhadap binatang dan patungnya.-GC 445, 448, 449 (1911).

Apabila kaum Protestan akan mengulurkan tangannya melintasi jurang pemisah untuk menjabat tangan kuasa Roma, bilamana dia akan mengulurkan tangannya melewati jurang yang dalam untuk berjabatan tangan dengan ilmu gaib, tatkala di bawah pengaruh persekutuan tiga pihak ini negeri kita akan menanggalkan setiap prinsip Konstitusinya sebagai sebuah pemerintahan republik yang berasaskan Protestantisme, dan akan menyediakan diri untuk menyebarkan kepalsuan dan penipuan Kepausan, maka kita pun akan mengetahui bahwa waktunya sudah tiba bagi pekerjaan Setan yang luar biasa itu dan bahwa kiamat sudah dekat. -5T 451 ( 1885).

Roma Akan Mendapatkan Kembali Kekuasaannya yang Hilang
Sementara kita mendekati krisis terakhir adalah saat yang penting agar keserasian dan persatuan terdapat di antara semua alat-alat Tuhan. Dunia penuh dengan badai dan peperangan serta perselisihan. Namun di bawah satu kepala yaitu kuasa Kepausan — manusia akan bersatu melawan Allah dalam diri saksi-saksi-Nya. Penyatuan ini dipererat oleh kemurtadan besar.–7T 182 (1902).

Undang-undang yang memaksakan pemeliharaan hari Minggu sebagai hari Sabat akan mengakibatkan kemurtadan nasional dari prinsip-prinsip paham republik di atas mana pemerintahan ini telah dimulaikan. Agama Kepausan akan diterima oleh para penguasa, dan Hukum Allah akan dibatalkan. -7MR 192 (1906).

Satu hari kegelapan intelektual yang besar telah terbukti menguntungkan bagi keberhasilan kepausan. Namun akan ditunjukkan juga bahwa satu hari terang intelektual yang besar sama menguntungkan pula bagi keberhasilannya.—4-SP 390 (1884).

Di dalam pgrgerakan-pergerakan yang sekarang sedang berlangsung di dunia Amerika Serikat untuk menjamin lembaga-lembaga dan pemanfaatan gereja sebagai pendukung pemerintah, umat Protestan sedang mengikuti langkah-langkah Kepausan. Tidak, lebih dari itu, mereka sedang membukakan pintu bagi Kepausan untuk mendapatkan kembali di Amerika yang beraliran Protestan ini kekuasaan yang telah hilang darinya di Benua Lama. -GC 573 (1911).

Undang-Undang Hari Minggu Nasional Berarti Kemurtadan Nasional
Untuk memperoleh popularitas dan perlindungan maka para pembuat undang-undang akan menyerah kepada tuntutan akan undang-undang hari Minggu. . . . Dengan perintah yang memaksakan lembaga Kepausan dalam pelanggaran Hukum Allah maka bangsa kita akan sepenuhnya memisahkan diri dari kebenaran. . . .

Sebagaimana mendekat tentara Roma menjadi suatu tanda bagi murid-murid itu akan kehancuran Yerusalem, demikianlah kemurtadan ini bisa menjadi suatu tanda bagi kita bahwa batas panjang sabar Allah sudah sampai.-5T 451 (1885).

Kita harus mengambil pendirian yang teguh bahwa kita tidak akan menghormati hari pertama dalam pekan sebagai Sabat, Karena itu bukanlah hari yang diberkati dan disucikan oleh Tuhan, dan dengan menghormati hari Minggu maka kita pasti menempatkan diri kita pada pihak si penipu besar itu. . .

Bilamana Hukum Allah tidak diberlakukan lagi dan kemurtadan menjadi dosa nasional, Tuhan akan bekerja demi umat-Nya.—3SM 388 (1889).

Rakyat Amerika Serikat telah menjadi bangsa yang disukai, tetapi bilamana mereka membatasi kebebasan beragama, menyerahkan paham Protestan dan mengambil muka pada Kepausan, ukuran kejahatan mereka akan penuh dan ‘kemurtadan nasional’ akan tercatat dalam buku surga.–RH 2 Mei 1893.

Kemurtadan Nasional Akan Diikuti Oleh Keruntuhan Nasional
Apabila bangsa kita, melalui dewan kongresnya, akan melaksanakan undang-undang untuk memberangus hati nurani manusia dalam hal kesempatan keagamaan mereka, memaksakan pemeliharaan hari Minggu, dan menggunakan kekuatan untuk menekan mereka yang memelihara Sabat hari ketujuh, maka Hukum Allah dengan segala niat dan maksud akan dibatalkan di negeri kita, dan kemurtadan nasional akan diikuti oleh keruntuhan nasional. -7BC 977 (1888).

Pada saat terjadi kemurtadan nasional itulah para penguasa negeri, yang bertindak atas pengaturan Setan, akan menempatkan diri mereka di pihak manusia durhaka itu. Pada waktu itulah takaran kesalahannya memuncak. Kemurtadan nasional merupakan pertanda keruntuhan nasional. -2SM 373 ( 1891).

Prinsip-prinsip dari Katolik Roma akan dipelihara dan dilindungi oleh negara. Kemurtadan nasional dengan cepat akan diikuti dengan keruntuhan nasional.-RH, 15 Juni 1897.

Bilamana Gereja-Gereja Protestan akan bersatu dengan kekuasaan duniawi untuk mempertahankan agama palsu, Karena menentangnya telah menyebabkan leluhur mereka mengalami penganiayaan paling kejam, maka Sabat Kepausan akan dipaksakan oleh kekuasaan terpadu antara gereja dan negara. Akan terjadi kemurtadan nasional yang hanya akan berakhir dengan keruntuhan nasional.-Ev 235 (1899).

Apabila negara akan menggunakan kekuatannya untuk memaksakan peraturan dan mempertahankan lembaga gereja pada waktu itulah Amerika yang Protestan telah membuat sebuah patung bagi Kepausan, kemudian terjadilah kemurtadan nasional yang hanya akan berakhir dengan keruntuhan nasional. -7BC 976 (1910).

Undang-Undang Hari Minggu Secara Universal
Sejarah akan berulang. Agama palsu akan ditinggikan. Hari pertama dalam pekan, suatu hari kerja biasa yang tidak memiliki kesucian apa pun, akan ditegakkan seperti halnya patung di Babel itu. Segala bangsa dan bahasa dan kaum akan diperintahkan untuk menyembah Sabat palsu itu. . . . Perintah yang memaksakan penyembahan hari itu akan disebarkan diseluruh dunia.-7BC 976 (1897).

Begitu Amerika, negeri kebebasan beragama itu, akan bersatu dengan Kepausan dalam menekan hati nurani dan memaksakan manusia untuk menghormati Sabat yang palsu maka rakyat setiap negara di bumi ini akan dituntun untuk mengikuti contohnya.–6T 18 (1900).

Soal hari Sabat akan menjadi masalah pada pertarungan besar yang terakhir di mana seluruh dunia akan mengambil bagian.-6T 352 (1900).

Bangsa-bangsa asing akan mengikuti contoh Amerika Serikat. Walaupun negara ini yang memimpin namun krisis yang sama akan menimpa anggota-anggota kita di segala penjuru dunia. -6T 395 (1900).

Penggantian yang benar dengan yang palsu adalah lakon terakhir dari drama itu. Bilamana penggantian ini menjadi menyeluruh maka Allah akan menyatakan Diri-Nya. Tatkala hukum manusia ditinggikan di atas Hukum Allah, manakala kuasa-kuasa dunia ini berusaha memaksakan manusia agar memelihara hari yang pertama dalam pekan, ketahuilah bahwa waktunya sudah tiba bagi Allah untuk bekerja.-7BC 980 (1901)

Penggantian Hukum Allah dengan hukum manusia, meninggikan hari Minggu untuk menggantikan hari Sabat Alkitab hanya melalui wewenang manusia belaka, merupakan lakon terakhir dari drama itu. Bilamana penggantian ini berlaku menyeluruh barulah Allah menyatakan Diri-Nya. la akan bangkit dengan kemuliaan-Nya untuk menggoncang dunia dengan dahsyatnya.–7T 141 (1902).

Seluruh Dania Akan Mendukung Undang-Undang Hari Minggu
Orang jahat . . . menyatakan bahwa mereka memiliki kebenaran, bahwa mukjizat-mukjizat ada di antara mereka, bahwa malaikat-malaikat surga berbicara dengan mereka dan berjalan bersama mereka, bahwa kuasa besar dan tanda-tanda serta keajaiban-keajaiban dilakukan di antara mereka, dan bahwa inilah masa seribu tahun (millenium) sementara yang mereka sudah harap-harapkan begitu lama. Seluruh dunia bertobat dan berjalan selaras dengan undang-undang hari Minggu. -3SM 427, 428 (1884).

Seluruh dunia akan digerakkan dengan permusuhan terhadap umat MAHK Karena mereka tidak mau menyembah Kepausan dengan menghormati hari Minggu sebagai lembaga dari kuasa anti orang Kristen ini.—TM 37 (1893).

Mereka yang menginjak-injak hukum Allah mengadakan hukum manusia yang mereka hendak paksakan kepada orang banyak untuk menerimanya. Orang-orang akan merumuskan dan menyusun serta merencanakan apa yang akan mereka lakukan. Mereka berkata, seluruh dunia memelihara hari Minggu, kenapa orang-orang ini, yang jumlahnya hanya sedikit sekali, tidak berlaku sesuai dengan hukum negeri ini?-Ms 163, 1897.

Pertaruan Berpusat di Dunia Kristen
Apa yang disebut sebagai dunia Kristen akan menjadi panggung dari lakon-lakon besar dan menentukan. Orang-orang yang berkuasa akan memberlakukan undang-undang yang mengatur hati nurani, sesuai dengan contoh Kepausan. Babel akan membuat seluruh bangsa minum air anggur murka percabulannya. Setiap bangsa akan terlibat. Tentang masa ini Yohanes Pewahyu menyatakan: (Wahyu 18:3-7; 17:13, 14, dikutip). ‘Mereka seia sekata.’ Akan ada suatu persekutuan universal, satu keseragaman besar, suatu persekongkolan dari kekuatan-kekuatan Setan. ‘Kekuatan dan kekuasaan mereka, mereka berikan kepada binatang itu.’ Demikianlah, dinyatakan wewenang yang sama, kuasa yang menekan kebebasan beragama kemerdekaan untuk menyembah Allah menurut kehendak hati nurani — seperti dinyatakan oleh Kepausan ketika pada masa yang silam menganiaya mereka yang berani menolak untuk ikut dengan aturan-aturan dan upacara-upacara agama Romanisme. -3SM 392 (1891).

Dalam pertarungan besar antara iman dan ketidakpercayaan segenap dunia Kristen akan terlibat.-RH, 7 Februari 1893.

Segenap dunia Kristen akan terbagi dalam dua golongan besar mereka yang memelihara Hukum Allah dan iman akan, Yesus, dengan mereka yang menyembah binatang dan patungnya serta menerima tandanya.-GC 450 (1911).

Pada waktu soal Sabat sudah menjadi pokok utama pertentangan di seluruh dunia Kristen dan penguasa-penguasa agama serta pemerintahan telah bergabung untuk memaksakan pemeliharaan hari Minggu, penolakan yang terus menerus dari sekelompok kecil untuk menyerah kepada
tuntutan kebanyakan akan menjadikan mereka sasaran kebencian universal.-GC 615 (1911).

Ketika perintah dikeluarkan oleh berbagai penguasa dunia Kristen terhadap para pemelihara hukum itu akan menghapuskan perlindungan pemerintah, dan membiarkan mereka kepada orang-orang yang menginginkan pemusnahan mereka, umat Allah akan melarikan diri dari kota-kota dan desa-desa lalu berkumpul bersama dalam rombongan-rombongan, tinggal di tempat-tempat yang paling terpencil dan terasing.-GC
626 (1911).

Jangan Tunjukkan Pertentangan
Mereka yang membentuk gereja-gereja kita memiliki ciri tabiat yang akan membawa mereka, kalau tidak betul-betul berhati-hati, merasa jengkel oleh karena akibat salah bertindak maka kebebasan mereka untuk bekerja pada hari Minggu direnggut. Janganlah terburu nafsu akan hal ini melainkan sampaikanlah semuanya itu kepada Allah melalui doa la saja yang dapat menahan kuasa para penguasa. Jangan berlaku kasar. Jangan ada yang secara tidak bijaksana mengumbar kebebasan mereka, menggunakannya sebagai jubah kedengkian, tetapi sebagai hamba-hamba Allah, ‘Hormatilah semua Orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja (1 Petrus 2:17).

Nasihat ini benar-benar berharga bagi semua yang akan dibawa ke tempat-tempat yang sukar. Tidak ada yang menunjukkan pertentangan atau yang dapat dianggap sebagai kedengkian perlu diperlihatkan. -2MR 193, 194 (1898).

Berhentilah Bekerja Pada Hari Minggu
Mengenai ladang di wilayah Selatan.[2] pekerjaan di sana harus dilaksanakan sebijaksana dan seteliti mungkin, dan itu harus dilakukan dengan cara yang Kristus akan lakukan. Orang banyak akan segera mengetahui apa yang engkau percayai tentang hari Minggu dan hari Sabat Karena mereka akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Maka engkau dapat memberitahukan kepada mereka, tetapi bukan dengan cara untuk menarik perhatian kepada pekerjaanmu. Engkau tidak perlu mempercepat pekerjaanmu sendiri dengan bekerja pada hari Minggu. . . .

Berhenti bekerja pada hari Minggu bukanlah berarti menerima tanda binatang itu. . . . Di tempat-tempat di mana pertentangan begitu kuat seakan membangkitkan penganiayaan, kalau pekerjaan itu dilakukan pada hari Minggu, hendaklah saudara-saudara kita menjadikan hari itu sebagai suatu kesempatan untuk melakukan pekerjaan misionaris yang sejati.—SW 69, 70 (1895).

Kalau sampai mereka datang kemari dan berkata, ‘Kamu harus menutup pekerjaanmu dan percetakanmu pada hari Minggu,’ saya tidak akan mengatakan kepadamu, . . . ‘Tetap jalankan percetakan itu,’ karena pertentangan tidak terjadi antara kamu dengan Allahmu. Ms 163, 1898.

Kita jangan merasa senang untuk menyinggung perasan tetangga-tetangga kita yang mendewakan hari Minggu dengan berusaha bekerja pada hari itu di depan mata mereka untuk memamerkan kebebasan kita. Saudari-saudari kita tidak perlu memilih hari Minggu sebagai hari untuk mempertontonkan kesucian mereka. -3SM 399 (1889).

Lakukan Kegiatan-Kegiatan Rohani Pada Hari Minggu
Saya akan coba menjawab pertanyaanmu tentang apa yang harus kamu lakukan seandainya undang-undang hari Minggu dipaksakan.

Terang yang diberikan Tuhan kepada saya pada waktu kami sedang menghadapi suatu krisis sebagaimana yang kamu hadapi, ialah bahwa bilamana orang banyak digerakkan oleh satu kekuatan dari bawah untuk memaksakan pemeliharaan hari Minggu, umat MAHK harus menunjukkan kebijaksanaan mereka dengan berhenti dari pekerjaan yang lazim pada hari itu lalu memanfaatkannya untuk usaha misionaris.

Menentang undang-undang hari Minggu hanya akan memperhebat penganiayaan para pengikut fanatik yang berusaha untuk memaksakannya. Jangan beri mereka peluang untuk menyebut kamu sebagai pelanggar-pelanggar hukum. . . . Seseorang tidaklah menerima tanda binatang itu karena dia menunjukkan bahwa dia menyadari kebijakan memelihara ketenangan dengan menahan diri dari pekerjaan yang menyakiti hati. . . .

Hari Minggu dapat digunakan untuk melanjutkan berbagai bidang pekerjaan yang membawa hasil yang banyak bagi Tuhan. Pada hari ini acara-acara di alam terbuka dan perkemahan dapat diselenggarakan. Pekerjaan perlawatan dari rumah ke rumah juga dapat dilakukan. Mereka yang bisa menulis dapat memanfaatkan hari itu untuk membuat artikel-artikel. Apabila memungkinkan hendaknya acara-acara rohani diadakan pada hari Minggu. Buatlah acara-acara itu sangat menarik. Nyanyikanlah kidung-kidung kebangunan rohani, dan khotbahkan dengan kuasa dan kepastian akan kasih Juruselamat. -9T 232, 233 (1909).

Ajaklah para pelajar mengadakan acara-acara pertemuan di berbagai tempat dan lakukanlah pekerjaan misionaris kesehatan. Mereka akan menjumpai orang-orang di rumah dan memperoleh kesempatan menyenangkan untuk menyampaikan kebenaran. Mengisi hari Minggu dengan cara seperti ini selalu berterima kepada Tuhan. -9T 238 (1909).

Keindahan Kebenaran Diperjelas Melalui Pertentangan
Kesetiaan mereka yang menurut Tuhan akan ditingkatkan sementara dunia dan gereja bersatu dalam meniadakan hukum itu. Setiap perlawanan yang bangkit menentang hukum Allah akan membuka jalan bagi kemajuan kebenaran dan menyanggupkan para pendukungnya untuk menyatakan nilainya di hadapan manusia. Ada suatu keindahan dan kekuatan dalam kebenaran yang tiada lain dapat membuatnya
demikian jelas selain pertentangan dan penganiayaan. 13MR 71, 72 (1896).

Pada saat ini, bilamana ada suatu upaya demikian hebat untuk memaksakan pemeliharaan hari Minggu, merupakan peluang yang baik untuk menyampaikan kepada dunia hari Sabat yang benar dibandingkan dengan yang palsu. Tuhan dalam pemeliharaan-Nya jauh mendahului kita. la telah mengizinkan masalah hari Minggu ini dikedepankan agar Sabat hukum yang keempat itu bisa diketengahkan di hadapan rapat-rapat Dewan Perwakilan Rakyat. Dengan demikian maka para pemimpin bangsa menaruh perhatian mereka kepada kesaksian Firman Allah sehubungan dengan hari Sabat yang benar.-2MR 197 (1890).

Kita Harus Menaati Allah Ketimbang Manusia
Para pengikut kebenaran sekarang ini dipanggil untuk memilih antara mengabaikan tuntutan tegas dari Firman Allah atau kehilangan kebebasan mereka. Kalau kita mengorbankan Firman Allah dan menerima adat dan kebiasaan manusia kita mungkin masih diizinkan hidup di antara orang-orang, bebas berjual-beli, dan hak-hak kita dihargai. Tetapi kalau kita mempertahankan kesetiaan kita terhadap Allah itu harus dengan mengorbankan hak-hak kita di antara manusia, Karena musuh-musuh Hukum Allah telah bersekutu untuk menghancurkan kebebasan berpendapat dalam soal-soal iman rohani dan pengekangan hati nurani manusia. . . .

Umat Allah akan mengakui pemerintahan manusia sebagai suatu peraturan yang ditentukan llahi dan melalui prinsip dan keteladanan akan mengajarkan penurutan terhadap pemerintah itu sebagai satu kewajiban yang suci selama kekuasaannya dijalankan dalam batas-batas yang absah. Tetapi bilamana tuntutan-tuntutannya bertentangan dengan tuntutan-tuntutan Allah maka kita harus memilih untuk menaati Allah ketimbang manusia. Firman Allah haruslah diakui dan dituruti sebagai suatu wewenang melebihi segala undang-undang manusia. ‘Demikianlah Firman Tuhan‘ tidak boleh disisihkan dengan ‘Demikianlah kata gereja atau pemerintah.’ Mahkota Kristus harus ditinggikan di atas segala mahkota para penguasa dunia. -HM, 1 November 1893.

Setan menawarkan kepada manusia kerajaan-kerajaan dunia kalau mereka mau menyerahkan kekuasaan kepadanya. Banyak orang yang melakukan ini dan mengorbankan surga. Lebih baik mati daripada berdosa; lebih baik berkekurangan daripada menipu; lebih baik kelaparan daripada berdusta.—4T 495 (1880).

Akhirzaman.org

Leave a Reply