UPACARA DAN RITUAL GEREJA

PELAJARAN KE-IX; 1 Desember 2012

“GEREJA: BERBAGAI UPACARA DAN RITUAL”

Sabat Petang, 24 November

PENDAHULUAN

Tanda pengakuan. Manusia adalah makhluk cerdas yang memiliki kebutuhan sosial dan psikologis. Setiap orang mempunyai keinginan untuk sosialisasi diri. Sejalan dengan perkembangan psiko-sosialnya, setiap orang juga memiliki kerinduan untuk aktualisasi diri. Kebutuhan-kebutuhan ini membuat seseorang selalu ingin untuk menjadi bagian dari sebuah komunitas di mana dia bisa memperoleh pengakuan diri dan kebanggaan. Banyak perkumpulan dalam masyarakat yang mempunyai tradisi penerimaan keanggotaan melalui suatu upacara khusus yang menandakan bahwa seseorang telah resmi diterima dalam kelompok itu. Setiap komunitas mempunyai tradisinya sendiri dalam “pentahbisan” anggota baru, sebagai penegasan bahwa seseorang telah menjadi bagian dari perkumpulan itu dan siap memenuhi kewajibannya sesuai tujuan dan missi. Tentu saja untuk bergabung ke dalam suatu perkumpulan itu adalah pilihan pribadi seseorang.

Ada pula tradisi dalam masyarakat untuk menandakan keadaan atau tingkat tertentu yang telah dicapai seseorang. Dalam hal ini, pengesahan itu seringkali berupa suatu keharusan dan bukan pilihan dari orang yang bersangkutan. Biasanya ini berlaku pada masyarakat tertentu menurut nilai-nilai budaya yang bersifat mengikat seseorang yang menjadi bagian dalam masyarakat itu, baik atas dasar kelahiran maupun karena hidup di lingkungan masyarakat yang memelihara adat-istiadat tertentu. Contohnya, dalam masyarakat Amerika ada tradisi “baby shower” untuk merayakan kehamilan pada usia tertentu, atau “bridal shower” bagi calon pengantin perempuan yang segera menikah. Di Indonesia kita juga mengenal upacara “appassili” pada masyarakat Bugis bagi calon pengantin, dan tradisi “tedak siten” di masyarakat Jawa bagi bocah berusia tujuh atau delapan bulan ketika dia mulai belajar berjalan.

Upacara-upacara tersebut di atas, baik yang dimasuki seseorang berdasarkan pilihannya (menjadi anggota sebuah perkumpulan), atau berdasarkan tradisi budaya masyarakat di mana seseorang tinggal (mencapai usia tertentu atau memasuki tahap kehidupan tertentu), semuanya disebut sebagai “inisiasi” (dari kata Latin initium yang berarti “pintu masuk” atau “permulaan”). Prosesi upacara ini juga dikenal sebagai “ritus penerimaan” (rite of passage) yang mesti dijalani seseorang demi mendapatkan pengakuan resmi akan statusnya yang baru, baik sebagai anggota sebuah perkumpulan atau sebagai anggota masyarakat.

“Dalam masyarakat Kristen terdapat juga ritus-ritus tertentu, yaitu upacara-upacara yang memformalkan komitmen pribadi terhadap iman yang mereka akui. Upacara-upacara sakral ini tidak saja menegaskan partisipasi dan persekutuan seseorang dalam suatu perkumpulan, tetapi idealnya untuk menyiapkan orang-orang itu supaya menjadi anggota-anggota yang setia dan produktif dari perkumpulan itu. Upacara-upacara itu juga merupakan sarana untuk membantu anggota-anggota memahami apa yang dituntut dari komitmen mereka terhadap Kristus” [alinea kedua tiga kalimat pertama].

Jadi, sebagaimana upacara-upacara peresmian status adalah penting dalam kehidupan bermasyarakat secara sekuler, dalam kehidupan rohani upacara-upacara serupa yang menandai tergabungnya seseorang dalam suatu persekutuan iman adalah juga penting. Bahkan, bagi masyarakat Kristiani ada upacara-upacara tertentu yang disakralkan oleh sebab hal itu telah dimulaikan dan dicontohkan serta diperintahkan oleh Yesus Kristus sendiri, sehingga merupakan hal yang wajib untuk dijalani oleh setiap orang yang hendak menjadi sebagai pengikut-Nya.

Minggu, 25 November

BERBAGAI ISTILAH (Menamai Upacara-upacara Suci)

Keabsahan nama. Para pengeritik Kekristenan agak “melecehkan” kebiasaan orang-orang Kristen yang suka mengubah nama dan istilah sehingga, kata mereka, mengaburkan makna yang asli. Terutama mereka mencela penerjemahan nama-nama dalam Kitabsuci ke dalam berbagai bahasa (khususnya bahasa Inggris), padahal–menurut mereka–nama itu seharusnya bersifat spesifik. Misalnya, Yahweh menjadi God, Yeshua menjadi Jesus, Moshe menjadi Moses, Dawid menjadi David, dan sebagainya. Selain nama orang, banyak juga istilah dalam bahasa asli Alkitab yang diubah menggunakan istilah dalam bahasa-bahasa moderen yang seringkali tidak mudah untuk menemukan padanan kata yang betul-betul cocok dan representatif menggambarkan makna sesungguhnya. Entahlah.

Salah satunya adalah istilah sakramen. Kata serapan dari bahasa Latin, sacramentum, ini aslinya adalah sebuah istilah hukum yang berlaku bagi warganegara Romawi menyangkut sumpah setia dan ketaatan terhadap hukum, khususnya militer. Istilah ini telah dipungut oleh Gereja Kristen mula-mula pada abad ketiga dengan tambahan satu kata Latin di depannya, sacer (=suci), sehingga menjadi istilah baru dalam khasanah upacara-upacara Gerejawi sebagai “sakramen suci” atau upacara kudus. St. Augustine mendefinisikan sakramen sebagai “bentuk yang dapat dilihat dari kasih karunia yang tidak terlihat” atau “sebuah tanda dari suatu hal yang suci” yang merujuk kepada upacara yang dilembagakan oleh Yesus Kristus untuk menjadi sebagai satu ikatan antara Tuhan dengan manusia. Dalam katekismus Gereja Lutheran dan Anglikan, sakramen didefinisikan sebagai “sebuah tanda lahiriah dan kasat mata dari kasih karunia yang bersifat batiniah dan rohaniah yang diberikan kepada kita, disahkan oleh Kristus sendiri, sebagai cara oleh mana kita menerima hal yang sama, dan suatu ikrar untuk memastikannya kepada kita.”

“Mereka yang menggunakan kata ini merasa bahwa hal itu menggambarkan secara akurat sifat dari upacara-upacara suci. Namun, dengan berlalunya waktu, muncullah ide untuk melambangkan satu upacara dengan sebuah kuasa batiniah yang tidak kelihatan. Gereja di Abad Pertengahan memperkenalkan tujuh upacara seperti itu, disebut ‘sakramen,’ yang dipandang sebagai cara untuk menanamkan kasih karunia ke dalam jiwa seseorang” [alinea pertama: tiga kalimat terakhir].

Perubahan istilah. Gereja Katolik Roma mengajarkan tentang tujuh macam sakramen utama, termasuk upacara baptisan dan perjamuan kudus. Tetapi oleh karena istilah “sakramen” itu berkaitan dengan kata Grika μυστήριον, mystērion, yang berarti “upacara rahasia,” maka sebagian pemuka Kristen Protestan menilai bahwa pemakaian istilah itu untuk sesuatu upacara gereja adalah tidak tepat. Upacara baptisan, misalnya, tidak sepatutnya dianggap sebagai sesuatu yang bersifat rahasia, justru baptisan itu harus dilakukan di hadapan umum sebagai pernyataan bahwa seseorang telah menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi dan melalui baptisan menyatakan diri sebagai pengikut Kristus (orang Kristen). Gereja Protestan kemudian memperkenalkan istilah baru, “pentahbisan” (ordinance) untuk menggantikan kata “sakramen” sebagai upacara suci di gereja, khususnya upacara baptisan dan perjamuan kudus.

“Memilih istilah pentahbisan gantinya sakramen itu sama dengan mengatakan bahwa seseorang turut mengambil bagian dalam upacara-upacara itu oleh sebab upacara-upacara tersebut adalah cara yang telah ditetapkan ilahi bagi kita untuk menunjukkan kesetiaan kita kepada Kristus. Upacara-upacara itu merupakan cara-cara simbolik menyatakan iman kita” [alinea kedua: tiga kalimat terakhir].

Cara, bukan tujuan. Praktik-praktik kegerejaan yang mengandung makna kekudusan memang lebih tepat untuk disebut sebagai upacara pentahbisan ketimbang sebagai sakramen yang cenderung bersifat tertutup. Di antaranya termasuk kegiatan penginjilan (Mat. 28:19, 20), pembasuhan kaki (Yoh. 13:14), dan perjamuan kudus (1Kor. 11:23-26). Selain ketiga hal itu, berbagai upacara gerejawi yang suci dan bersifat pentahbisan adalah juga pengurapan pendeta, pengurapan diakon/ketua jemaat, dan pentahbisan gereja itu sendiri. Dalam hal ini “pentahbisan” berkaitan erat dengan “disucikan” atau “diasingkan untuk suatu maksud khusus dan istimewa” yang dalam hal ini atas diri seseorang dan sesuatu benda. Pada prinsipnya, upacara pengurapan dan pentahbisan adalah semacam “pengakuan lahiriah” yang diproklamirkan oleh seseorang atas dirinya, atau oleh banyak orang atas sesuatu benda, di mana seseorang atau sesuatu benda dinyatakan sebagai milik Allah dan diasingkan untuk maksud-maksud ilahi.

Dengan demikian, maksud dari berbagai upacara pentahbisan yang bersifat khusus dan suci itu semuanya diadakan sebagai cara untuk mencapai tujuan. Seseorang yang ditahbiskan menjadi ketua jemaat atau sebagai diakon, misalnya, itu merupakan pengesahan dirinya untuk melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan ke atas pundaknya; demikian pula sebuah bangunan yang ditahbiskan menjadi sebagai rumah Tuhan adalah peresmian untuk pemanfaatannya sebagai tempat umat berhimpun dan beribadah. “Sesuai pemahaman kita, upacara-upacara pentahbisan itu merupakan lambang-lambang lahiriah dari pengakuan kita akan apa yang Kristus telah lakukan bagi kita dan tentang hubungan kita dengan Dia (serta segala hal yang berkaitan dengan penyatuan ini), dan upacara-upacara itu menyatakan maksudnya dengan sempurna. Itu semua adalah cara untuk suatu tujuan, bukan upacara-upacara itu sendiri sebagai tujuan” [alinea terakhir: dua kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang penyebutan istilah dari berbagai upacara kegerejaan?

1. Gereja Kristen sarat dengan tradisi-tradisi upacara yang melambangkan berbagai pengakuan iman maupun pelayanan. Sejalan dengan bergulirnya waktu, istilah-istilah yang digunakan untuk upacara-upacara itupun berubah dan mengalami penyempurnaan.

2. Gereja yang mula-mula menggunakan istilah “sakramen” untuk berbagai upacara suci yang diadakan di dalam gereja atau terhadap seorang anggota jemaat, sedangkan gereja-gereja beraliran Protestanisme lebih memilih untuk menggunakan istilah “pentahbisan” bagi upacara-upacara itu. Alasannya, “sakramen” berkaitan dengan sesuatu yang dirahasiakan padahal upacara-upacara itu mestinya bersifat proklamatif dan terbuka.

3. Upacara-upacara kegerejaan berfungsi sebagai “penegasan” atas pilihan pribadi seseorang untuk menjadi bagian dari iman Kristen, atau kesepakatan jemaat yang berkaitan dengan penugasan dan pelayanan di lingkungan gereja. Jadi, upacara pentahbisan adalah “alat untuk mencapai tujuan” dan bukan tujuan itu sendiri.

Senin, 26 November

TANDA PENGAKUAN (Upacara Baptisan)

Sebagai lambang. Baptisan tidak serta-merta menjadikan seseorang sebagai warga surga dan memastikan keselamatannya; itu hanyalah lambang tentang pengakuan iman orang itu kepada Yesus Kristus yang mengaruniakan keselamatan itu kepadanya. Sebagai lambang, baptisan itu harus memenuhi unsur-unsur yang selaras dengan apa yang dilambangkan oleh upacara itu. Baptisan melambangkan penyatuan rohani dengan Kristus di mana kita turut mengalami kematian, penguburan, dan kebangkitan yang sudah dialami Kristus (Rm. 6:3-8). Baptisan juga berkaitan dengan pertobatan dan pengampunan dosa (Kis. 2:38); kelahiran baru dan penerimaan Roh Kudus (1Kor. 12:13); dan sebagai tanda penggabungan diri dengan Gereja (Kis. 2:41, 47).

“Baptisan melambangkan suatu hubungan perjanjian dan kerohanian dengan Allah melalui Kristus(Kol. 2:11-12). Baptisan melambangkan apa yang dilambangkan oleh sunat dalam Perjanjian Lama. Dan juga baptisan melambangkan suatu peralihan kesetiaan, sesuatu yang menempatkan seseorang ke dalam persekutuan yang diasingkan bagi pelayanan Kristus. Penerimaan Roh dalam baptisan menyanggupkan orang-orang percaya untuk melayani gereja dan pekerjaan demi keselamatan orang-orang yang belum percaya (Kis. 1:5, 8)” [alinea kedua].

Kata asli yang diterjemahkan dengan dibaptiskan dalam PB adalah βαπτίζω, baptizō, sebuah kata-kerja yang artinya diselamkan dengan maksud untuk membasuhkan supaya menjadi bersih. Sebagai kata-benda adalah βάπτισμα, baptisma, yang artinya pencelupan atau penyelaman. Akar-katanya ialah βάπτω, baptō, yang berarti dicelupkan secara berulang-ulang ke dalam cairan berwarna untuk mengubah warna sesuatu benda. Jadi, baptisan sesungguhnya mengandung makna “perubahan” sebagai hasil dari baptisan itu.

Yesus dibaptis. Alkitab mencatat, “Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: ‘Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?’ Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: ‘Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.’ Dan Yohanes pun menuruti-Nya” (Mat. 3:13-15). Sebelumnya, Yohanes Pembaptis sudah mengkhotbahkan kepada orang banyak di tepi sungai Yordan itu tentang Yesus. “Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api” (ay. 11).

Keengganan Yohanes untuk membaptiskan Yesus adalah hal yang sangat masuk akal, dilihat dari kedudukannya dibandingkan dengan kekuasaan Yesus Kristus, sekalipun sebagai manusia biasa mereka berdua mempunyai hubungan darah sebagai cucu-bersaudara (Maria, ibu Yesus, adalah sepupu dari Elisabet, ibu Yohanes Pembaptis; baca Luk. 1:36-43). Tetapi karena Yesus mendesaknya, diapun membaptiskan Anak Allah itu sebagaimana dilakukannya kepada orang-orang lain yang bertobat dari dosa-dosa mereka. Pertanyaannya ialah: Mengapa Yesus Kristus, Sang Juruselamat yang selama hidup-Nya di atas dunia ini tidak pernah berbuat dosa, harus juga dibaptis?

Berbagai teori muncul perihal baptisan Yesus. Ada yang berpendapat bahwa Yesus menjalani baptisan dalam kapasitas-Nya mewakili orang-orang berdosa, seperti yang kemudian dijalani-Nya di salib; yang lain mengatakan baptisan yang Yesus jalani itu adalah bayangan atas kematian dan kebangkitan-Nya sendiri; sebagian lagi menyebutnya sebagai keteladanan yang dicontohkan-Nya untuk para pengikut-Nya. Tetapi berdasarkan catatan Alkitab pada ayat-ayat di atas, Yesus sendiri yang menyatakan, “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah” (Mat. 3:15; huruf miring ditambahkan). Jadi, baptisan adalah untuk menggenapi atau memenuhi kehendak Allah. Melalui baptisan itu pula Yesus bergabung dengan “tubuh-Nya” yaitu “jemaah” (Gereja) yang terdiri atas orang-orang Yahudi yang sudah bertobat dan dibaptiskan oleh Yohanes Pembaptis, dan pada waktu yang sama baptisan-Nya itu juga sekaligus menegaskan pekerjaan Yohanes Pembaptis.

Lambang penobatan. Segera setelah Yesus dibaptis dan keluar dari air sungai Yordan itu, langit terbuka lalu turunlah Roh Kudus menyerupai seekor burung merpati yang hinggap ke atas-Nya, dan pada saat yang sama suara Allah terdengar dari surga berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (ay. 17). Kita tidak tahu pasti apakah orang banyak yang hadir di tempat itu juga semuanya dapat melihat peristiwa ajaib ini, dan mendengar perkataan Allah dari surga, atau tidak. Catatan Matius dan Markus hanya menyebutkan, “Ia [Yesus] melihat” Roh Allah yang menyerupai burung merpati itu turun ke atas-Nya (Mat. 3:16; Mrk. 1:10), sedangkan Lukas tidak menjelaskannya secara tegas. Tetapi Yohanes (murid Yesus) memuat kesaksian lengkap dari Yohanes Pembaptis sendiri mengenai peristiwa ini, “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan aku pun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah” (Yoh. 1:32-34).

Beberapa waktu kemudian, ketika Yesus sedang mengajar di Bait Allah, datanglah imam-imam dan tua-tua bangsa Yahudi menegur-Nya. “Atas dasar apa Engkau melakukan semuanya itu? Siapa yang memberi hak itu kepada-Mu?” (Mat. 21:23, BIMK). Yesus balas bertanya kepada mereka, “Aku juga mau bertanya kepada kalian. Dan kalau kalian menjawabnya, Aku akan mengatakan kepadamu dengan hak siapa Aku melakukan hal-hal ini. Yohanes membaptis dengan hak siapa? Allah atau manusia?” (ay. 24-25). Baptisan oleh Yohanes Pembaptis menjadi pengesahan atas pengampunan dosa bagi orang banyak yang bertobat dan menyerahkan diri mereka untuk dibaptis, tetapi bagi Yesus yang tidak pernah berbuat dosa baptisan itu adalah lambang pentahbisan bagi pelaksanaan tugas yang diemban-Nya.

Pena inspirasi menulis: “Bilamana kita tunduk kepada upacara baptisan yang khidmat, kita bersaksi kepada malaikat-malaikat dan manusia bahwa kita dibersihkan dari dosa-dosa lama kita, dan bahwa dengan mati bagi dunia ini kita ‘berusaha untuk mendapatkan hal-hal yang di surga’ (Kol. 3:1, BIMK). Janganlah kita lupakan janji baptisan kita. Di hadapan hadirat tiga kuasa tertinggi surga–Bapa, Anak, dan Roh Kudus–kita berjanji dalam diri kita untuk melakukan kehendak Dia” (Ellen G. White, Our High Calling, hlm. 157).

Apa yang kita pelajari tentang baptisan dan hal-hal yang dilambangkannya?

1. Makna baptisan dalam Perjanjian Baru pada intinya merujuk kepada kelahiran baru, yaitu kematian manusia lama dan kebangkitan manusia baru. Ini sesuai dengan arti harfiah dari akar-kata “baptisan” yaitu “dicelupkan ke dalam air supaya berubah menjadi bersih.” Di dalam kelahiran baru ini terkandung makna “pertobatan dan pengampunan dosa” yang mengesahkan penggabungan kita menjadi bagian dari keluarga Allah.

2. Dalam hal Yesus Kristus yang tidak pernah berbuat dosa, baptisan merupakan kegenapan kehendak Allah dan sekaligus pengesahan untuk memasuki suatu tugas. Itulah sebabnya setelah dibaptis Roh Kudus turun ke atasnya menyerupai seekor merpati.

3. Bagi kita orang-orang Kristen yang hidup sesudah kenaikan Kristus ke surga, baptisan merupakan lambang dari dua pengesahan di atas: penobatan untuk menjadi bagian dari keluarga Allah (tubuh Kristus) dan pentahbisan sebagai pekerja dalam pekerjaan Tuhan.

Selasa, 27 November

TANDA MERENDAHKAN DIRI (Upacara Kerendahan Hati)

Tradisi purba. Membasuh kaki adalah tradisi dari peradaban purba yang dilakukan terhadap tamu-tamu yang datang bertandang, mengingat pada zaman dulu orang-orang bepergian dari satu tempat ke tempat lain dengan berjalan kaki di jalan berdebu (waktu kemarau) dan becek (waktu hujan), padahal mereka hanya mengenakan alas kaki berupa kasut yang sebagian besar terbuka. Biasanya ini merupakan tugas hamba sahaya di rumah itu untuk mencuci kaki para tamu sebelum mereka masuk ke dalam rumah atau tenda. Beberapa catatan dalam Perjanjian Lama menyebutkan tentang tradisi ini (baca Kej. 18:1-5; 19:1-3; 24:17-24; 43:24-25; Hak. 19:16-21). Ketika Daud meminang Abigail, tidak lama setelah kematian Nabal, suaminya yang kaya tapi bebal itu, wanita cantik yang berhati lembut dan bijaksana tersebut berkata merendah: “Sesungguhnya, hambamu ini ingin menjadi budak yang membasuh kaki para hamba tuanku itu” (1Sam. 25:41). Pada dasarnya pembasuhan kaki adalah bagian dari budaya keramahtamahan yang khususnya ditunjukkan kepada tamu, seperti juga menjamu makan dan memberi tumpangan untuk bermalam.

Dalam Perjanjian Baru, pembasuhan kaki mendapat makna yang baru sebagai ungkapan pengucapan syukur dan kerendahan hati. Sewaktu Yesus diundang makan oleh seorang Farisi di rumahnya di Kapernaum, seorang wanita bekas pelacur yang telah diampuni dosanya menggunakan kesempatan itu untuk mencuci kaki Yesus, bukan dengan air biasa melainkan dengan minyak wangi satu buli-buli penuh, dan melapnya dengan rambutnya sendiri (Luk. 7:36-38). Hal yang sama dialami Yesus juga di desa Betania, kali ini oleh Maria Magdalena dengan setengah liter minyak wangi narwastu seharga 300 dinar (kalau upah waktu itu adalah 1 dinar per hari, Mat. 20:2, berarti dengan 5 hari kerja seminggu nilainya sama dengan gaji satu tahun!), karena merasa begitu bersyukur Yesus sudah membangkitkan saudara laki-laki yang dikasihinya, Lazarus (Yoh. 12:1-3). Itulah makna pembasuhan kaki sebagai ungkapan rasa syukur. Sedangkan pembasuhan kaki sebagai tanda kerendahan hati disebutkan oleh rasul Paulus (1Tim. 5:10), dan oleh tindakan yang dilakukan Yesus sendiri terhadap murid-murid-Nya (Yoh. 13:1-15).

Pembasuhan kaki murid-murid di malam Paskah itu oleh Guru yang mereka hormati menjadi suatu pelajaran yang bukan saja sangat membekas di hati Petrus dan kawan-kawan, tetapi juga telah dilestarikan sebagai suatu upacara lambang kerendahan hati oleh Gereja zaman akhir ini. “Sulit membayangkan kepedihan yang pasti dirasakan di dalam hati Yesus sementara Dia–yang segera menghadapi Salib, penghinaan terbesar yang mungkin terjadi–melihat kecemburuan dan pertengkaran di antara murid-murid-Nya sendiri tentang siapa yang terbesar di dalam kerajaan-Nya” [alinea pertama].

Relevansi zaman ini. Menarik untuk diperhatikan bahwa catatan Yohanes “Sang Penginjil” itu adalah satu-satunya tulisan dalam PB yang merekam peristiwa pembasuhan kaki yang dilakukan Yesus kepada murid-murid; tiga penulis injil lainnya (Matius, Markus, Lukas) sama sekali tidak menyinggung soal ini tetapi hanya tentang upacara perjamuan Paskah saja. Selain itu, dalam catatan rasul Yohanes tersebut, pembasuhan kaki berlangsung sesudah perjamuan–berbeda dari kebiasaan gereja kita sekarang yang mengadakan upacara pembasuhan kaki sebelum perjamuan kudus.

Tetapi barangkali hal yang lebih penting untuk dipertanyakan ialah, Apakah upacara pembasuhan kaki itu masih relevan dengan keadaan zaman ini, khususnya jika upacara pembasuhan kaki itu dianggap sebagai “lambang kerendahan hati.” Utamanya kalangan umat di kota-kota yang pada umumnya pergi ke gereja mengenakan alas kaki memadai dan menggunakan kendaraan, bahkan sudah dengan persiapan yang baik untuk mengikuti upacara perjamuan suci sehingga kaki mereka selalu bersih. Coba perhatikan, kapan anda melihat air bekas cuci kaki di dalam baskom yang warnanya keruh? Dalam pengamatan saya juga, para anggota jemaat yang membasuh kaki temannya dalam suatu upacara perjamuan kudus terkesan melakukannya dengan santai, nyaris tanpa sesuatu beban, bahkan banyak yang melakukannya sambil mengobrol atau bergurau santai. Saya khawatir upacara yang sejatinya dimaksudkan untuk menjadi lambang kerendahan hati ini hanya menjadi sekadar formalitas yang basa-basi, alias sudah kehilangan makna.

“Pikirkan juga, apa artinya upacara pembasuhan kaki diadakan sebelum Perjamuan Kudus. Sebelum mengklaim bagi diri kita semua yang Kristus telah lakukan untuk kita, alangkah pentingnya untuk datang kepada Perjamuan Kudus dengan rasa kesadaran akan kedudukan kita yang rendah serta kerendahan hati dan kebutuhan akan kasih karunia ilahi” [alinea terakhir].

Pena inspirasi menulis: “Upacara pembasuhan kaki adalah suatu upacara pelayanan. Inilah pelajaran yang Tuhan mau semua orang pelajari dan praktikkan. Apabila upacara ini dirayakan dengan benar, anak-anak Allah dibawa ke dalam hubungan yang suci antara satu sama lain, untuk masing-masing saling membantu dan memberkati” (Ellen G. White, SDA Bible Commentary, jld. 5, hlm. 1138).

Apa yang kita pelajari tentang upacara pembasuhan kaki sebagai lambang kerendahan hati?

1. Pembasuhan kaki adalah tradisi peradaban purba sebagai bagian dari keramahtamahan sesuai nilai-nilai budaya masyarakat zaman dulu. Lazimnya, pembasuhan kaki dilakukan oleh hamba dalam suatu rumah terhadap tamu-tamu majikannya. Dari adat-istiadat inilah Yesus kemudian mengangkat hal itu menjadi sesuatu yang bernilai rohani sebagai lambang kerendahan hati.

2. Yesus melakukan pembasuhan kaki murid-murid-Nya setelah melihat mereka saling mempertengkarkan soal posisi, siapa yang lebih tinggi kedudukannya di dalam kerajaan yang akan Yesus dirikan nanti. Tetapi pembasuhan kaki hanya akan tetap sebagai sebuah tradisi budaya kalau tidak diberi sentuhan rohani yang mengandung makna dalam peribadatan.

3. Peradaban moderen tidak mengenal pembasuhan kaki (yang dilakukan oleh orang lain) sebagai tradisi yang mengandung nilai pelayanan atau kerendahan hati. Namun, sebagai Gereja kita tetap dapat menjalankan “tradisi rohani” ini berdasarkan keteladanan Kristus, dan memperoleh berkat rohani jika kita melakukannya sambil menghayati makna simboliknya.

Rabu, 28 November

MELAMBANGKAN TUBUH KRISTUS (Perjamuan Tuhan)

Tradisi diperbarui. Hari Raya Paskah (Ibrani: פֶּסַח, Pesach) adalah salah satu hari raya nasional bangsa Yahudi yang paling penting. Paskah dirayakan untuk memperingati luputnya keluarga-keluarga bangsa Ibrani dari bencana kematian pada malam pembantaian anak-anak sulung bangsa Mesir, malam terakhir sebelum umat Allah itu berangkat meninggalkan tanah perbudakan, ketika malaikat maut melewatkan bencana itu dari rumah-rumah yang mempunyai tanda darah di pintu (Kel. 12:11-13). Tradisi perayaan Paskah ini tetap dijalankan hingga sekarang oleh bangsa Israel moderen, memenuhi perintah Allah yang tercatat dalam Torah (Imamat 23). Hari Raya Paskah jatuh pada hari ke-15 bulan Nissan, bulan pertama dalam kalender Yahudi, atau antara bulan Maret dan April kalender internasional.

Selama hidup-Nya di atas bumi ini tentu Yesus sudah sering merayakan Paskah, setiap tahun sejak masa kanak-kanak hingga dewasa. Tetapi perayaan Paskah malam itu bersama murid-murid-Nya merupakan sebuah perayaan yang monumental. “Aku ingin sekali makan makanan Paskah ini bersama kalian sebelum Aku menderita! Sebab, percayalah: Aku tidak akan makan ini lagi sampai arti dari perjamuan ini dinyatakan di Dunia Baru Allah” (Luk. 22:15-16, BIMK). Sehabis merayakan Paskah bersama murid-murid, termasuk Yudas Iskariot yang meninggalkan perjamuan lebih dini untuk melaksanakan niat jahatnya, pada malam itu juga Yesus bersama sebelas murid yang sisa kemudian menuju ke Bukit Zaitun untuk berdoa di Taman Getsemani yang terletak di kaki bukit itu. Menjelang subuh segerombolan besar orang bersenjata pedang dan pentungan, dipimpin Yudas, datang menangkap Yesus atas perintah imam-imam dan tua-tua bangsa Yahudi (Mat. 26:47).

“Perjamuan Tuhan menggantikan perayaan Paskah zaman Perjanjian Lama. Paskah menemukan kegenapannya bilamana Kristus, Domba Paskah itu, menyerahkan hidup-Nya. Sebelum kematian-Nya, Kristus sendiri yang menetapkan pergantian itu, perayaan besar dari gereja Perjanjian Baru di bawah janji yang baru. Sama seperti perayaan Paskah itu memperingati kelepasan bangsa Israel dari perhambaan di Mesir, demikianlah Perjamuan Tuhan memperingati kelepasan dari Mesir rohani, perhambaan dosa” [alinea pertama].

Baptisan mini. Sebagaimana Paskah diperintahkan untuk dirayakan oleh umat Israel dalam rangka memperingati kelepasan mereka dari negeri perbudakan Mesir, demikianlah Perjamuan Tuhan (Perjamuan Suci) diperintahkan Yesus supaya dilakukan setiap kali untuk memperingati kematian-Nya yang membebaskan kita dari perhambaan dosa. “‘Inilah tubuh-Ku yang diserahkan untuk kalian. Lakukanlah ini untuk mengenang Aku.’ Begitu pula setelah habis makan, Ia mengambil piala anggur lalu berkata, ‘Anggur ini adalah perjanjian Allah yang baru, disahkan dengan darah-Ku. Setiap kali kalian minum ini, lakukanlah ini untuk mengenang Aku'” (1Kor. 11:24-25, BIMK).

Seperti telah kita pelajari dalam pelajaran hari Senin, baptisan juga melambangkan pertobatan dan pengampunan dosa. Perjamuan Suci yang merayakan kematian penebusan Yesus, yang dilambangkan dengan roti tidak beragi sebagai tubuh-Nya dan air anggur sebagai darah-Nya, bukan sekadar perayaan peringatan biasa tetapi juga mengandung makna penyucian dosa. Bagi saya pribadi, Perjamuan Suci adalah “baptisan mini” di mana dosa-dosa saya beroleh pengampunan dari Allah melalui kematian penebusan Yesus ketika saya mengambil bagian oleh memakan “tubuh-Nya” dan meminum “darah-Nya” dalam upacara kudus ini. Setiap hari kita berbuat dosa–dalam berbagai bentuk dan dengan beragam alasan–tetapi saya tidak perlu harus menjalani baptisan secara diselamkan ke dalam air berulang-ulang supaya semua dosa saya itu dibersihkan, namun melalui keikutsertaan dalam upacara Perjamuan Suci yang kita lakukan dengan iman maka seluruh dosa-dosa saya itu dihapuskan. Karena itu setiap kali usai mengikuti Perjamuan Suci saya merasa dengan yakin bahwa segala dosa saya telah dibersihkan seluruhnya, dan saya kembali menjadi seorang yang telah “dilahirkan kembali” (Yoh. 3:3, 7) sebagai “manusia baru yang terus-menerus diperbarui” (Kol. 3:10).

Itulah sebabnya saya seringkali merasa “takjub” dengan orang-orang Kristen yang dengan sengaja tidak mengikuti Perjamuan Suci karena berbagai alasan, kebanyakan alasan yang terkesan dibuat-dibuat. Ada yang berkata “tidak siap” mengikuti Perjamuan Suci berhubung masih punya dosa, ada pula yang merasa terhalang oleh “hubungan yang belum beres” dengan sesama saudara seiman. Tetapi, saudara-saudara, kalau ada kesempatan yang paling baik untuk menyelesaikan masalah dosa ataupun perselisihan, maka Perjamuan Suci adalah waktu yang paling tepat. Mengambil bagian dalam upacara Perjamuan Suci adalah perintah Yesus. Firman-Nya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” (Yoh. 6:53-56; huruf miring ditambahkan).

“Di sini kita melihat, dengan jelas, aspek pengganti dari kematian Kristus. Tubuh-Nya dihancurkan dan darah-Nya dicurahkan bagi kita; di kayu salib Dia menanggung apa yang seharusnya adalah bagian kita. Setiap kali kita turut serta dalam Perjamuan Tuhan, kita harus selalu mengingat apa yang Kristus telah laksanakan demi kita” [alinea ketiga].

Apa yang kita pelajari tentang makna Perjamuan Tuhan (Perjamuan Suci)?

1. Perjamuan Suci adalah Paskah yang diperbarui di dalam Perjanjian Baru. Sebagaimana Paskah harus dirayakan oleh orang Yahudi untuk memperingati kelepasan mereka dari perbudakan secara fisik di Mesir, Perjamuan Suci harus dirayakan oleh umat percaya untuk memperingati kelepasan kita dari perbudakan dosa di dunia ini.

2. Perjamuan Suci melambangkan kematian Yesus Kristus sebagai korban pengganti manusia berdosa dan “yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29), itulah sebabnya Perjamuan Suci juga mengandung makna penghapusan dosa. Sebagaimana kematian penebusan Yesus itu harus diterima oleh iman, demikian juga Perjamuan Suci sebagai upacara penghapusan dosa harus diterima dalam iman.

3. Meskipun mengikuti Perjamuan Suci adalah perintah Yesus, perlu persiapan diri dan hati. “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu” (1Kor. 11:27, 28).

Kamis, 29 November

MEMBAYANGKAN PERJAMUAN DI SURGA (Antisipasi Kedatangan Kedua Kali)

Upacara pentahbisan. Yesus memandang upacara Perjamuan Suci itu bukan saja sebatas peringatan akan kematian penebusan-Nya tetapi juga sebagai suatu upacara pentahbisan. Firman-Nya, “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1Kor. 11:26; huruf miring ditambahkan). Kata asli yang diterjemahkan dengan memberitakan di sini adalah καταγγέλλω, kataggellō, sebuah kata-kerja yang artinya mengumumkan atau menyebarluaskan yang berkonotasi pemberitaan injil sebagaimana digunakan dalam 1Kor. 9:14 dan Kis. 17:23. Kata ini berhubungan erat dengan ἄγγελος, aggelos, sebuah kata-benda maskulin yang berarti jurukabar, seorang yang diutus atau malaikat, utusan dari Allah. Jadi, melalui upacara Perjamuan Tuhan di mana kita turut mengambil bagian itu anda dan saya secara sadar atau tidak telah menjadi jurukabar Allah. Turut makan roti yang mengibaratkan tubuh Kristus, dan meminum air anggur yang melambangkan darah-Nya, itu pada dasarnya adalah pentahbisan diri kita sebagai utusan-utusan Allah!

Upacara Perjamuan Suci menjadi peringatan atas kematian penebusan Yesus Kristus di Golgota yang sudah terjadi, dan melalui upacara peringatan itu pengharapan akan kedatangan-Nya yang kedua kali terus dihidupkan dan terpelihara. Anda dan saya hidup di antara dua peristiwa penting dalam sejarah umat manusia itu, dua peristiwa yang tak terpisahkan dan saling melengkapi. “Perjamuan Suci, dalam pengertian tertentu, merentang jarak antara Golgota dan Kedatangan Kedua Kali. Setiap kali kita mengambi bagian dalam Perjamuan Suci, kita merenungkan Salib dan apa yang telah dilaksanakannya bagi kita. Namun, apa yang sudah dilakukan bagi kita itu tidak dapat dipisahkan dari Kedatangan Kedua Kali. Bahkan, apa yang Yesus lakukan di Salib itu untuk kita tidak mencapai puncaknya sampai pada Kedatangan Kedua Kali” [alinea kedua].

Upacara pemersatu. Dari perspektif berbeda, rasul Paulus melihat Perjamuan Suci merupakan upacara pemersatu di antara umat percaya sebagai “satu tubuh” di dalam Kristus. Sang rasul menulis, “Pada waktu kita minum anggur dengan mengucap terima kasih kepada Allah, bukankah itu menunjukkan bahwa kita bersatu dengan Kristus dalam kematian-Nya? Dan pada waktu kita membagi-bagikan roti untuk dimakan bersama-sama, bukankah itu menunjukkan bahwa kita bersatu dalam tubuh Kristus? Oleh karena hanya ada satu roti, dan kita semua makan dari roti yang satu itu juga, maka kita yang banyak ini merupakan satu tubuh” (1Kor. 10:16-17, BIMK).

Perjamuan bersama dengan “memecahkan roti” merupakan tradisi umat Kristen yang mula-mula, termasuk dengan mengadakan semacam potluck di rumah-rumah anggota secara bergilir (Kis. 2:42, 46). Begitu juga ketika dalam suasana Paskah–di kalangan orang Yahudi disebut hari raya “Roti Tidak Beragi” karena kewajiban untuk merayakannya dengan memakan roti berbentuk pipih tanpa ragi–umat Kristen di Troas berkumpul pada hari Minggu untuk makan bersama menjamu Paulus (Kis. 20:6, 7). Tetapi apa yang terjadi di jemaat Korintus sehingga mendapat celaan keras dari Paulus itu bukanlah acara makan bersama seperti potluck, melainkan itu adalah upacara Perjamuan Tuhan yang sakral tetapi dilakukan secara sembrono akibat adanya perpecahan di antara mereka (1Kor. 11:18-29). “Apakah kamu tidak mempunyai rumah sendiri untuk makan dan minum? Atau maukah kamu menghinakan Jemaat Allah dan memalukan orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa?” tegur sang rasul (ay. 22).

Perjamuan di surga. Yesus mengakhiri acara Perjamuan Tuhan itu dengan suatu pernyataan, “Akan tetapi Aku berkata kepadamu: mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku” (Mat. 26:29). Sehabis berkata demikian Yesus pun mengakhiri upacara kudus itu dengan sebuah nyanyian (ay. 30). Kita tidak mempunyai petunjuk apapun perihal lagu penutup seperti apa yang mereka dengungkan dalam keheningan malam di ruang atas itu, sangat mungkin rombongan kecil itu menyanyikan salah satu kidung Mazmur yang secara tradisional dihafal oleh setiap orang Yahudi. Tapi yang lebih menarik bagi saya ialah membayangkan Yesus mengangkat suara memuji Bapa-Nya di surga, sungguh itu sesuatu yang menakjubkan!

“Yesus berjanji bahwa Ia tidak akan minum lagi air anggur ini sampai Dia meminum anggur yang baru bersama kita di dalam kerajaan kekal. Bilamana kita mengenang siapa Dia, Pencipta alam semesta (Kol. 1:16), janji ini jadi semakin mencengangkan. Jadi, di samping segala sesuatu yang ditunjukkan oleh Perjamuan Suci itu, upacara ini seharusnya juga mengarahkan kepada kita pengharapan besar yang menanti kita pada Kedatangan Yesus yang Kedua kali” [alinea terakhir: tiga kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang Perjamuan Suci dan hal-hal yang dirujuknya?

1. Selain sebagai “baptisan mini” yang menghapus dosa, Perjamuan Suci adalah juga suatu upacara yang menahbiskan setiap orang yang mengambil bagian menjadi sebagai utusan Tuhan untuk memberitakan kepada dunia tentang kematian penebusan yang telah dijalani-Nya bagi kita, bahwa “setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16).

2. Perjamuan Suci juga merupakan upacara pemersatu umat Tuhan yang mengambil bagian. Dengan turut memakan roti yang melambangkan tubuh Kristus dan meminum air anggur yang mengibaratkan darah-Nya, kita sebagai “tubuh Kristus” dipersatukan melalui kematian dan kebangkitan-Nya.

3. Perjamuan Suci melambangkan perjamuan besar yang akan dinikmati oleh umat tebusan di dalam kerajaan surga di mana kita akan makan sehidangan dengan Yesus Kristus dalam “perjamuan kawin Anak Domba” (Why. 19:9). Pastikanlah bahwa anda berada di antara hadirin yang diundang!

Jumat, 30 November

PENUTUP

Dua tonggak iman. Baptisan mengubah seorang manusia lama yang berdosa menjadi manusia baru yang dosa-dosanya diampuni; perjamuan suci memelihara dan menyegarkan kembali pembaruan itu secara berkesinambungan. Pada saat menjalani baptisan, kita mengumandangkan kepada dunia bahwa kita telah menjadi pengikut Kristus; dan ketika kita mengambil bagian dalam upacara-upacara perjamuan suci, dari waktu ke waktu kita memberitakan kepada dunia tentang kematian penebusan Yesus Kristus yang menghapuskan dosa isi dunia. Inilah dua tonggak iman yang menopang keberadaan kita sebagai satu umat, yaitu orang-orang percaya yang sudah menjadi manusia baru dan yang terus-menerus diperbarui.

“Baptisan adalah upacara yang paling sakral dan penting, dan harus ada pemahaman menyeluruh akan maknanya. Itu berarti pertobatan atas dosa, dan pintu masuk kepada suatu kehidupan yang baru di dalam Kristus Yesus…Paskah mengunjuk ke belakang kepada kelepasan umat Israel, dan secara khusus juga mengunjuk ke depan kepada Kristus, Anak Domba Allah yang tersembelih untuk penebusan umat manusia yang telah jatuh. Darah yang dipercikkan di pintu-pintu rumah melambangkan darah penebusan Kristus, dan juga ketergantungan orang berdosa yang terus-menerus pada jasa-jasa dari darah itu demi keselamatan dari kuasa Setan dan untuk penebusan akhir” [alinea pertama: dua kalimat pertama; alinea kedua].

Jadi, sementara baptisan yang kita jalani satu kali itu menahbiskan anda dan saya menjadi bagian dari tubuh Kristus (Gereja), partisipasi kita setiap kali dalam upacara perjamuan suci memelihara secara terus-menerus hubungan kita dengan tubuh Kristus itu. Tidak cukup menjadi “manusia baru” hanya satu kali saja, tetapi kita perlu untuk selalu melakukan rekondisi atas kehidupan rohani kita agar tetap baru.

“Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka…Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2Kor. 5:14-15, 17).

(Oleh Loddy Lintong/California, 28 November 2012)

2 thoughts on “UPACARA DAN RITUAL GEREJA

  1. Saya sangat mudah mendapat pengatahuan dalam maksud isi injil dengan adanya kemudahan ini

Leave a Reply