Yang Tidak Tergoncangkan

Sejak tanggal 15 Agustus 2004, negara bagian Florida, Amerika Serikat sudah digoncang empat kali. Bukan saja Amerika Serikat yang digoncang, Rusia bahkan Indonesia pun tepatnya di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta goyang. Sekalipun negara-negara di dunia goncang di mana-mana, tetapi ada yang tidak mungkin berobah atau bergoncang seperti menurut nubuatan Alkitab dalam Buku Ibrani.
Ungkapan “Satu kali lagi” menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan (Ibrani 12:27). Nas ini memastikan bahwa segala sesuatu akan digoncang, kecuali … Apakah yang tidak dapat digoncangkan? Tidak lain adalah Negara (Kerajaan) Tuhan Allah. “Jadi karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan,” (ayat 28). Kerajaan Allah adalah Kerajaan Hati (The Kingdom of the Heart) juga disebut Kerajaan Kemurahan (The Kingdom of Grace). Bilamana seseorang menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadi, ia menjadi warga Kerajaan Hati. Yesus bertakhta dalam hatinya dan mengendalikan kehidupannya. Selama Yesus diizinkan dirajakan dalam hatinya, ia tidak mungkin goyang, sebab bukan lagi dia yang hidup melainkan Yesus.
Saya suka memotret Yohanes yang penuh damai sentosa bersandar pada dada Raja Kedamaian (The Prince of Peace). Bersandar pada dada adalah lambang keakraban dan ketergantungan sepenuhnya. Kekuatiran dan tekanan (stress) hilang. Apakah mungkin Yohanes bertanya: Bagaimana dengan masa depan saya? Bagaimana waktu saya bergumul menjelang putus nafas? Apakah Tuhan akan mencegah kematian saya? Dulu pada waktu Lazarus hampir putus nafas, Yesus katakan, “tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya” (Yohanes 11:15). Siapa yang harus belajar percaya? Murid-murid termasuk Yohanes. Percaya pada apa? Percaya pada kuasa kebangkitan Kristus (ayat 25). Apa hasilnya keputusan Yesus tidak mencegah matinya Lazarus? Supaya Maria, Marta dan Yohanes dapat melihat kemuliaan Allah. Kesanggupan Yesus mencegah putus nafas adalah mulia, tapi membangkitkan orang mati untuk hidup kekal, lebih mulia. Jadi, bagi umat Allah yang bersandar pada dada Yesus, tidak selamanya Ia mencegah putus nafas, karena Allah mudah membangkitkan. Bila putus nafasnya anak, suami, atau isteri saudara tidak dicegah Yesus, belajarlah percaya pada kuasa kebangkitan yang dimiliki Yesus. Dengan kata lain seorang warga Kerajaan Hati tidak akan goyah sekalipun diizinkan “tidur” oleh Putera Kebangkitan.
Apakah lagi yang tidak mungkin goncang? Kerajaan Kemuliaan (The Kingdom of Glory) yang didoakan oleh umat Allah setiap hari, “Datanglah Kerajaan-Mu.” Kedatangan Kerajaan Kemuliaan itu adalah puncak penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan pernyataan kemuliaan Allah yang Maha Besar dan Juruselamat kita Yesus Kristus. Segala sesuatu digoncang sampai pada Kerajaan Batu (yang tidak dapat digoncangkan) itu tiba. Umat Tuhan sudah berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu” selama lebih dua ribu tahun lalu. Apakah Tuhan akan menjawab? Tanda-tanda menyatakan bahwa Tuhan akan segera menjawab. Pada waktu itu kita akan bersorak dan berseru: “Inilah Allah kita yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan, marilah kita bersorak-sorak.”
Sementara bumi goyang dari tempatnya (Yesaya 13:13), umat Allah terangkat meninggalkannya menuju Kerajaan Kemuliaan yang dari jauh dengan mata iman mereka sudah memandangnya sebelumnya. “Dalam iman mereka semua ini (saksi-saksi iman yang disebut dalam Ibrani pasal 11) telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu (Kerajaan Kemuliaan), tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini” (Ibrani 11:13). Mereka yang telah memegang “green card” atau “American Citizen” pun masih dianggap orang asing, musafir di bumi yang goyang ini.
Pengalaman penulis sering diminta mendampingi orang Indonesia selaku penerjemah baik menghadap pengacara di kantornya maupun hakim di pengadilan. Beberapa orang Indonesia di Amerika Serikat sesudah “interview” menerima surat dari Homeland Security yang berisi: “Welcome to the United States,” si penerima surat mencucurkan airmata kesenangan dan mengadakan syukuran, tidak takut ditangkap dan dideportasi. Apalagi jika seseorang sesudah “individual court” lalu hakim memutuskan “granted,” seakan-akan.dia merasa sudah masuk New Earth padahal dia baru masuk New World. Cepat atau lambat tangan kita akan melambai “good bye.” Walaupun sudah “granted,” tapi masih “grounded” (ditanahkan) juga. Alangkah bahagianya orang yang sudah “granted” dan mendapat “passport” untuk masuk bumi yang baru. Dari yang disebut New World masuk ke New Earth, bahagia di Amerika Serikat dan di akhirat. Biarlah kita selalu ingat bahwa di depan kita ada neraka untuk dihindari dan surga untuk direbut. “We have a hell to shun and a heaven to gain!” Jadi, agar kita menjadi warga Kerajaan Hati dan warga Kerajaan Kemuliaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita bersandar pada dada Yesus, karena “setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci” (1 Yohanes 3:3)
EVERT KAMUH

Leave a Reply