Yesus adalah sumber hikmat

January 25, 2016 - Yesus

Oleh Lianto Napitupulu

 

Mari sejenak kita menenangkan hati dan pikiran kita dari segala pekerjaan dan rutinitas yang kita lakukan untuk renungan buka Sabat di sore ini. Ayat yang menjadi inti renungan buka Sabat sore ini dari Kolose 2:1-5, sebagaimana di dalam ayat ini tertulis tentang hikmat dan pengetahuan yang datangnya dari Allah melalui Yesus Kristus Tuhan kita. Ada 4 hal yang dapat menjadi  pedoman kita, atau lebih mudah kita sebut dengan 4 M yang dapat menjadi bagian kehidupan kita  sepanjang minggu ini.

 

M1 (Menerima):

Hikmat adalah kekuatan untuk memperoleh sukses seutuhnya. Tetapi hikmat yang dari dunia sangat terbatas, kecuali hikmat Allah saja yang tidak tak terbatas. Hikmat manusia hanya mampu membuat seseorang SUKSES secara MANUSIAWI. Namun hikmat Allah yang membuat kita untuk hidup sukses seutuhnya, baik secara rohani, jiwani dan jasmani. Tetapi dari manakah kita memperoleh hikmat Allah? Hanya di dalam Yesuslah kita dapat memperoleh hikmat. Sebab Yesus adalah sumber hikmat kita. Ketika kita memperoleh hikmat secara maksimal karena kehidupan yang dibangun berdasarkan firman Tuhan, maka kita akan hidup dalam takut akan Allah. Mari, pergunakanlah renungan 4M sore ini untuk mencari hikmat Allah dan hiduplah di dalam hikmat tersebut.

 

M2 (Merenungkan):
(1). Siapakah rahasia Allah yang perlu kita kenal? (ayat 2)
(2). Mengapa Yesus disebut sebagai rahasia Allah? (ayat 3)
(3). Dengan apakah orang akan diperdaya sampai ia kehilangan rahasia Allah tersebut? (ayat 4-          5).

 

M3 (Melakukan):
Sudahkah Anda menyadari dan menghargai hikmat Allah yang tersembunyi di dalam Yesus? Tuliskan berkat apa yang Anda dapatkan dari renungan firman hari ini.

 

M4 (Membagikan):
Bagikan kepada 3 orang rekan Anda tentang berkat yang anda dapatkan hari ini.

 

            Ada begitu banyak kata mengenai hikmat ini di dalam Alkitab, satu yang perlu kita perhatikan adalah di dalam Amsal 1:7, “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.” Ayat yang begitu indah jika kita baca perlahan akan kata-katanya, Yesuslah sumber hikmat itu baik dalam perkataan-Nya di dalam Alkitab, dalam perbuatan-Nya, semua yang ada pada Yesus adalah sumber hikmat. Ada satu cerita ilustrasi di bawah ini :

 

Kekuatan kata-kata:

Sekelompok katak berjalan melewati hutan, dan dua di antaranya terperosok ke dalam sebuah sumur yang dalam. Katak yang lain berkumpul di sekitar sumur itu. Ketika mereka melihat betapa dalamnya sumur itu, mereka berkata pada kedua katak itu sebaiknya mereka mati saja.

Kedua katak itu tidak menghiraukan komentar kawan-kawannya itu dan berusaha melompat keluar dari sumur dengan segenap kekuatan mereka. Katak-katak yang lain berteriak agar mereka menyerah, sebaiknya mereka mati saja. Akhirnya salah satu katak mengikuti yang diteriakkan teman-temannya dan menyerah. Ia jatuh dan mati.

Katak yang lain terus meloncat sekuat ia bisa. Sekali lagi, kawan-kawannya berteriak agar katak itu menghentikan usahanya yang sia-sia dan mati saja. Tetapi katak itu berusaha makin kuat dan akhirnya berhasil keluar. Setelah berada di luar, katak-katak yang lain bertanya, “Kau dengarkah teriakan kami?” Katak itu menjelaskan pada kawan-kawannya bahwa ia tuli. Ia mengira bahwa kawan-kawannya itu menyemangati dia terus menerus.

Cerita ini mengajarkan kita dua hal:

Melalui Yesus sebagai sumber hikmat di dalam kehidupan kita dan melalui kuasa-Nya juga diberikan akal budi serta kebijaksanaan sehingga kita berbicara tentang hal yang baik dan yang tidak baik.

  1. Lidah kita memiliki kekuatan mati dan hidup. Kata-kata yang membangkitkan semangat pada seseorang yang sedang dalam kesulitan dapat mengangkat dia dan menolong dia melewati hari-harinya.
  2. Kata-kata yang meruntuhkan semangat dapat membunuh orang itu. Hati-hatilah pada apa yang Anda ucapkan. Berbicaralah positif pada orang-orang yang Anda jumpai.

Biarlah kiranya melalui Yesus sebagai sumber hikmat, kata-kata kita perlu direnungkan, bagaimana orang yang menerima kata-kata kita dapat melakukan apa yang Yesus perbuat pada waktu boleh menjadi bagian dari orang tersebut dan berpengharapan di dalam Yesus senantiasa. Inilah yang menjadi bagian di dalam keidupan kita masing-masing.

 

Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. (Yakobus 3:9-10)

 

 

-Lianto Napitupulu

Leave a Reply