Yesus Adalah Wujud Pernyataan Allah yang Tertinggi

January 7, 2014 - Alfred E. Boling

Betapa seringnya kita berpikir sebagaimana yang kita percayai bahwa Yesus adalah Tuhan, Imam, bahkan Raja, sehingga kita mungkin jarang, atau mungkin tidak pernah sama sekali berpikir bahwa Ia juga adalah Nabi.

Tiga ayat pertama dari kitab Ibrani merupakan suatu ungkapan yang sangat istimewa sebagai Kitab yang berpusat pada Kristus (Christ Centered Book) dalam memperkenalkan kenabianNya. Ayat-ayat itu berbunyi sebagai berikut:

“Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia berbicara kepada kita dengan perantaraan anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan penopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi” (Ibrani 1:1-3).

Pemikiran yang mendasar ialah “Allah berbicara.” Allah tidak pernah berdiam diri. Ia menyatakan diriNya dan segala sesuatu yang penting bagi keselamatan manusia. Ia berbicara melalui para nabi, dan kemudian Ia berbicara melalui PutraNya. Putra Allah yang unik ini hadir dengan enam ciri khas yang sangat menakjubkan. Ciri-ciriNya sebagai berikut: (1). Ia adalah pewaris kekekalan Penentu nasib alam semesta; (2). Ia adalah Pencipta, sumber yang membentuk segala sesuatu; (3). Ia adalah Tuhan, sama dengan Allah Bapa, memantulkan cahaya kemuliaan Allah Bapa; (4). Sifat dasarNya (Nature) adalah Tuhan; (5). Ia memimpin, menuntun, melindungi, dan mengendalikan segala yang telah diciptakanNya; (6). Ia adalah Penebus dan Juruselamat. Poin yang terakhir menekankan mengenai tugas keimamatanNya, tugas pengantaraanNya, serta kemuliaanNya yang akan datang. Bayangkan, apa yang akan terjadi terhadap kita sebagai orang berdosa, jika Allah tidak berbicara melalui nabiNya, dan juga melalui AnakNya; jika Kristus tidak datang ke dunia ini, jika Kristus tidak menyatakan Allah? Tentunya kita tidak mempunyai harapan seperti yang kita miliki sekarang.

Ayat Alkitab di atas menunjukkan bahwa ada penyataan Allah “pada waktu lalu,” dan juga penyataan Allah di “akhir zaman,” yang tentunya pada saat penulis kitab Ibrani masih hidup.

Penyataan Allah “pada waktu lalu kepada leluhur kita” belumlah lengkap, terpisah-pisah, bahagian demi bahagian. Wahyu yang diberikan dalam porsi sedikit demi sedikit sebagaimana yang dibutuhkan, dan juga sebagaimana si penerima dapat menerimanya. Alkitab menunjukkan bahwa memang demikianlah yang terjadi. Kitab Kejadian 1:29, 30 merupakn catatan pertama dari penggalan wahyu atau penyataan Allah kepada mnusia, dan itu terdiri dari berkat dan firman dalam bentuk petunjuk atau aturan, kepada nenek moyang pertama manusia. Dalam empat kitab Nabi Musa berikutnya (Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan), kita dapati banyak kata-kata seperti “Allah berbicara kepada Musa,” atau kata-kata yang serupa, sebanyak 180 kali. Di dalam kitab Yeremiah juga terdapat kata-kata “Demikianlah firman Tuhan” lebih dari 400 kali. Oleh karena itu tentu saja adalah benar bahwa Allah telah berbicara berkali-kali, dalam banyak porsi di waktu yang lalu.

Allah tidak saja berbicara pada waktu yang berbeda, tetapi juga melalui “cara yang berbeda-beda.” Hal ini memberi kesan bahwa Allah tidak saja berbicara pada saat Ia mau berbicara, apa yang Ia mau bicarakan, atau melalui siapa Ia mau berbicara, tetapi juga melalui cara apa saja yang dapat Ia ginakan untuk berbicara, termasuk ketika Ia berbicara secara pribadi, muka dengan muka. Alkitab mencatat tentang theophany atau penyataan (penampakan) Allah. Satu hal lagi, yaitu bahwa Allah juga berbicara melalui pekerjaan dan tindakanNya melalui sejarah. Di samping cara-cara di atas, Allah juga berbicara melaui Urim dan Tumim, khayal, mimpi, dan banyak simbol-simbol yang lain lagi.

Tetapi cara yang lebih umum yang digunakan oleh Allah dalam berbicara kepada manusia ialah melalui nabi. Abraham adalah orang pertama di mana Allah sendiri yang menyebutnya nabi. Ia adalah orang pertama yang menerima panggilan dari Allah serta orang pertama yang dicatat di dalam Alkitab bahwa “datanglah firman Tuhan kepada Abraham” (baca Kejadian 15:1; 20:7). Seratusan nabi yang sezaman dengan Ahab, Izebel, Elia, disebutkan di dalam 1 Raja-raja 18. Nabi-nabi disebutkan 26 kali di dalam 2 Tawarikh, dengan 20 nama secara khusus diberikan sebagai tambahan kepada “para pelihat” yang tidak dikenal, “jurukabar,” dan “hamba Allah.” Jika kita tinggal di Palestina pada waktu itu, kita mungkin tinggal besebelahan dengan seorang nabi, atau berhubungan dengan salah satu dari mereka. Kata nabi muncul 31 kali dalam buku Kisah Para Rasul, dan 14 kali di dalam tulisan rasul Paulus. Kata kerja “bernubuat” digunakan 38 kali di dalam buku Kisah Para Rasul, dan 11 kali di dalam tulisn rasul Paulus, kebanyakan di dalam surat kepada Jemaat di Korentus.

Para nabi bukan saja juru bicara Allah, tetapi juga adalah pengantara antara Allah dan manusia. Ketika nabi berbicara melalui inspirasi yang bersumber dari Allah, maka itu berarti Allah yang berbicara. Hal inilah yang membuat orang-orang di Tesalonika percaya akan pekabaran rasul Paulus, dan rasul Paulus sendiri percaya kepada apa yang ia kabarkan (1 Tesalonika 2:13).

Setelah penyataan Allah yang tidak lengkap dan bervariasi ini, maka tibalah saatnya dunia menjadi tujuan penyataan Allah dengan cara yang baru, bukan melalui firman yang diucapkan, atau yang tertulis, tetapi melalui “firman yang hidup,” yaitu Putra Allah sendiri. Kedatangan Yesus ke dalam dunia ini adalah untuk memperkenalkan kerajaanNya, kerajaan yang awal dan yang akhir, dan juga memulihkan manusia dari perhambaan dosa. Penulis kitab Ibrani menggunakan kata “zaman akhir,” yang kemudian diterjemahkan secara bervariasi, seperti: “sekarang, pada zaman ini,” atau “di hari-hari terakhir,” dan “di akhir zaman” (1 Petrus 1:20; 2 Petrus 3:3; Yudas 18).

Penulis kitab Ibrani secara jelas membedakan penyataan Allah melalui cara lama, yang tidak lengkap, sedikit demi sedikit, dari cara penyataan Allah yang baru, melalui PutraNya. Penyataan Allah melalui PutraNya ini lebih luas, lebih berhasil, murni, berwibawa, serta tidak pernah salah. Martin Luther yang mempercayai keabsahan Alkitab pernah berkata bahwa Yesus adalah inti dari firman Allah, sehingga Dia sendirilah yang tidak mempunyai kesalahan. Allah Bapa sendiri mengumumkan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Matius 17:5). Penyataan Allah Bapa ini menjadi sangat penting karena diucapakan pada saat Yesus sedang bersama dua orang nabi yang lain, yaitu Musa dan Elia.

Yesus adalah yang terbesar dari semua nabi. Buktinya ialah bahwa kata “nabi’ yang ditujukan kepada Yesus mempunyai makna yang jauh melebihi makna atau arti kata itu secara umum. Hal ini karena Yesus adalah Nabi, jurubahasa Allah yang terbaik, wujud penjelmaan Allah yang tertinggi, dan penyataan (wahyu) Allah ayang terakhir.

Yesus adalah Nabi yang benar dari Allah, jurubicara, jurubahasa, dan penganatara antara Allah dan manusia. Semua nabi, bahkan nabi yang muncul setelah Yesus sekalipun, adalah bayangan dari nabi yang terbesar, yaitu Yesus Kristus. Dia adalah wujud (antitype) dari nabi yang lebih dahulu hadir di Perjanjian Lama.

Banyak orang sederhana, yang tidak terdidik, orang-orang dari kelas masyarakat bawah, tetapi Roh Kudus menerangi pikiran mereka, sehingga mereka mengakui jabatan kenabian Yesus. Menurut pikiran raja Herodes, Yesus adalah Yohanes pembaptis yang telah bangkit, namun orang-orang yang sederhana ini mempunyai pemikiran yang lebih jelas, sehingga mereka mengatakan bahwa Dia adalah seorang njabi (baca Markus 6:15, 16). Setelah Yesus membangkitkan orang mati di Nain, orang banyak memberikan reaksi terhadap peristiwa ini dengan berkata: “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah melawat umat-Nya” (Lukas 7:16). Pada hari Minggu ketika Yesus bangkit, Kleopas bersama teman seperjalanannya memberi jawaban kepada Orang yang mereka temui di tengah perjalanan, tentang apa yang terjadi terhadap “Yesus orang Nazaret.” Menurut Kleopas, “Dia adalah seorang nabi yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa” nya (Lukas 24:19). Wanita di sumur Yakub mengekspresikan keyakinannya terhadap perkataan Yesus dengan berkata: “Tuhan, nyatalah sekarang padaku, bahwa Engkau adalah seorang nabi” (Yohanes 4:19). Ketika Yesus memberi makan kepada banyak orang hanya dengan sedikit roti dan ikan secara mujizat, mereka yang hadir ini kemudian memberikan rekasi dengan berkata: “Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia” (Yohanes 6:14). Pada puncak perayaan Pondok Daun di Yerusalem, banyak orang berkata: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang” (Yohanes 7:40), dan yang lain berkata: “Ia ini Mesias” (ayat 41). Kemudian seorang yang tadinya buta, tetapi telah disembuhkan oleh Yesus, dibawa kepada orang Farisi, dan ketika mereka meminta dia untuk mengatakan apa pendapatnya tentang Yesus, ia kemudian menjawab: “Ia adalah seorang nabi” (Yohanes 9:17).

Masyarakat biasa secara serentak menyatakan keyakinan mereka bahwa Yesus adalah seorang nabi, tetapi para ahli Taurat, para imam, para pemimpin agama Yahudi, serta para theolog pada zaman itu tidak melihat Yesus sebagai nabi, karena senantiasa berupaya untuk mendapatkan jabatan, popularitas, dan kekuasaan, serta kedudukan duniawi. Inilah masalah kepemimpinan pada waktu itu, yang seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi kita dewasa ini. Masyarakat biasa di jalan-jalan, para nelayan, orang-orang berdosa, orang buta, serta wanita yang dikucilkan oleh masyarakat, mereka semua mengakui bahwa Yesus adalah seorang nabi, tetapi para pemimpin agama menuduhNya dengan berkata bahwa Dia bersekutu dengan Setan; betapa sesuatu yang sangat berlawanan.

Ketika penulis kitab Ibrani mengatakan: “Pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan anak-Nya,” ia tidak memperkenalkan dirinya sendiri, tetapi yang dimaksudknnya ialah Yesus Kristus Anak Allah itu. Adalah benar bahwa Yesus lebih mulia dari semua nabi, lebih mulia dari nabi besar Musa sekalipun (Ibrani 3:1-6), Ia lebih mulia dari para malaikat, bahkan yang paling mulia dari para malaikat sekalipun (Ibrani 1:5-14; 2:5-18). Ia lebih besar daripada Harun, yang tertinggi dari para imam besar. KeimamatanNya jauh lebih baik (Ibrani 7:11-8:12). KaabahNya tidak seperti yang terdapat di dalam Perjanjian Lama, yang adalah merupakan bayangan, tetapi kaabahNya adalah yang nyata, yang terdapat di sorga (Ibrani 9:1-28).

Yosephus, sejarawan Yahudi, menyebut Daniel sebagai “nabi terbesar dari segala nabi,” tetapi ternyata Yosephus salah, karena Yesus adalah nabi yang terbesar, Alkitab menyatakan hal ini.

Di sini, kebutuhan akan seorang pengantara antara Allah dan manusia, dinyatakan. Allah sendiri yang mengumumkan penjelmaan melalui suatu janji dalam suasana yang sangat mengagumkan. Dalam mengisahkan kembali peristiwa Sinai, Musa mengingatkan orang Israel dengan mengatakan: “Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saurada-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan. Tepat seperti yang kamu minta dahulu kepada TUHAN, Allahmu, di gunung Horeb, pada hari perkumpulan dengan berkata: Tidak mau aku mendengar suara TUHAN, Allahku, dan api yang besar ini tidak mau aku melihatnya lagi, supaya jangan aku mati. Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; seorang nabi akan Kubangkitkan dari antara mereka dari saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan berkata kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya” (Ulangan 18:15-18). Dialah Yesus, yang oleh orang-orang biasa di zamanNya dikenal sebagai tukang kayu, atau anak tukang kayu dari Nazaret.

Di Sinai, halilintar menyambar, guntur bergelegar, dan bunyi terompet terdengar. Gunung itu berasap dan terbakar, namun tertutup oleh awan tebal. Musa berbicara dan jawaban Allah terdengar jelas. Reaksi bangsa Israel terhadap peristiwa itu adalah: “Engkaulah berbicara dengan kami, maka kami akan mendengar; tetapi janganlah Allah berbicara dengan kami, nanti kami mati” (Keluaran 20:19). Pada waktu itulah Yesus yang adalah nabi dan pengantra itu diumumkan. Ada perbedaan antara Sinai, dan bukit di mana Yesus pernah berkhotbah. Di bukit itu tidak ada pembatas yang dibentang, tidak ada guntur dan halilintar, tidak ada orang yang ketakutan. Yang jelas tidak ada jarak antara Allah dan manusia. Manusia dengan bebas datang kepada Allah, karena jalan menuju Dia terbuka, ya, terbuka melalui penyataan PutraNya, Yesus Kristus.

Allah menciptakan manusia untuk belajar, percaya, dan menurut. Untuk belajar kita membutuhkan guru, untuk percaya kita membutuhkan seorang sahabat, dan untuk menurut kita membutuhkan pemimpin. Allah menyediakan ketiga hal ini untuk kita dalam satu pribadi, yaitu Yesus Kristus. Dia adalah Guru yang terbesar, dan Allah meminta kita untuk belajar dari padaNya (Matius 11:29). Yesus adalah sahabat terindah bagi semua manusia, dan sahabat yang terindah yang rela memberikan nyawaNya untuk kita (Markus 10:45; 15:37). Dalam kapasitasNya sebagai Pemimpin, Ia adalah pemimpin rohani, Imam Besar yang memimpin, menuntun, dan membawa umatNya untuk memperkenalkan mereka kepada Allah Bapa, dan mewakili mereka di hadapan Allah sebagai pengantara. Yesus adalah pemimpin terbesar dan Raja di atas segala raja. Di dalam Yesus kita memperoleh penyataan Allah yang tertinggi. Nabi, Guru, Imam, Sahabat, Raja, dan Pemimpin; semuanya terdapat di dalam satu oknum, yaitu Yesus Kristus!

Yesus adalah Nabi yang menyatakan Allah lebih dari yang dapat dilakukan oleh siapapun, dan Raja yang menuntun dan membimbing kita lebih dari yang dapat dilakukan oleh siapapun. Di zaman Perjanjian Lama, nabi, imam dan raja, dipilih untuk tugas mereka masing-masing. Sekarang ini, seorang yang tertinggi, Guru yang ideal, wujud penyataan Allah yang tertinggi, telah memilih kita bukan saja untuk meneguhkan kerajaanNya bersama-sama dengan kita, tetapi juga akan memberikan kekuasaan kepada kita untuk “memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia di dalam kerajaan yang akan datang (Wahyu 19:6). Yesus adalah wujud penyataan Allah yang takterbandingkan untuk mewujudkan rencana keselamatan manusia yang disediakan oleh Allah.

Rasul Petrus mengutip apa yang Allah telah katakan melalui nabi Musa tentang akan datangnya nabi yang unik ini: “Dan akan terjadi, bahwa semua orang yang tidak mendengarkan nabi itu akan dibasmi dari umat kita” (Kisah 3:23).

Berterimakasihlah kepada Allah untuk kabar baik ini, bahwa karena kita memiliki Yesus Kristus, Putra Allah, yaitu wujud penyataan Allah yang tertinggi; kita pasti tidak akan dibasmi. Rasul Yohanes juga mengatakan bahwa: “Barang siapa memiliki Anak, ia memiliki hidup” (1 Yohanes 5:12). Jika kita memiliki hidup melalui Yesus, Anak Allah itu, kita akan tetap mendengarkan Allah, dan tentunya dalam hal ini, mendengarkan Yesus.

Betapa indahnya bahwa Allah berbicara melalui PutraNya untuk keselamatan kita. Betapa pentingnya mendengar, belajar, percaya, dan mengikuti Dia. Dia adalah yang terbesar di antar para nabi, yaitu wujud penyataan Allah yang tertinggi, Yesus Kristus, Pengantara dan Juruselamat kita.

Ketika terjadi gempa bumi yang hebat sehingga pintu penjara di Filipi terbuka, kepala penjara itu ketakutan dan hendak membunuh diri, karena khawatir para tawanan telah melarikan diri. Ketika didapatinya bahwa ternyata para tahanan itu masih berada di dalam penjara, ia merasa takut bercmpur kagum. Ketika mengantar mereka keluar, kepala penjara ini bertanya kepada mereka, ““Tuan-tuan, apa yang harus aku perbuat, supaya selamat?” Jawab Paulus: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu”” (Kisah Para Rasul 16:30, 31 baca ayat 19-40).

Jika kita percaya kepada Yesus dengan segenap hati maka keselamatan akan menjadi bahagian kita, yaitu kehidupan kekal abadi dalam kerajaan surga.jesus

› tags: yesus /

Leave a Reply