“YESUS KRISTUS, FIGUR KETAATAN HUKUM”

April 13, 2014 - Loddy Lintong

“KRISTUS DAN HUKUM MUSA”

PENDAHULUAN

Sikap Yesus terhadap Torah. Iman Kristiani meyakini bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang menjelma sebagai manusia biasa dengan missi utama untuk penebusan dosa manusia. Adalah kehendak Allah sendiri bahwa Yesus lahir dari keturunan Daud (Yes. 9:6-7) di kota kecil Betlehem (Mi. 5:2). Jadi, secara keturunan Yesus adalah seorang Yahudi. Dan sebagai orang Yahudi, Yesus bukan saja tunduk pada Torah tetapi juga membela hukum Musa itu. “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya,” kata-Nya (Mat. 5:17).

“Seperti tiap orang Yahudi yang setia di abad pertama, Yesus tunduk kepada hukum Musa. Dibesarkan dalam satu rumahtangga dengan orangtua Yahudi yang taat, Ia menghargai sepenuhnya warisan duniawi-Nya yang kaya itu yang berakar pada takdir Ilahi. Ia tahu bahwa Allah sendiri yang sudah mengilhami Musa untuk menuliskan hukum-hukum ini dengan maksud untuk menciptakan suatu masyarakat yang memantulkan kehendak-Nya serta menjadi seperti mercusuar bagi bangsa-bangsa. Ia menuruti dengan setia secara kata demi kata dari hukum itu” [alinea ketiga: empat kalimat pertama].

Namun di seluruh injil kita sering membaca tentang tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh golongan elit masyarakat Yahudi–kaum Farisi, ahli Taurat, dan orang Saduki–yang selalu hendak memojokkan Yesus seolah-olah Dia adalah pelanggar hukum Musa. Ini bukan masalah perbedaan pandangan antara Yesus dengan elit Yahudi terhadap hukum Musa, melainkan masalah prasangka. Selain itu, sebagaimana kita pelajari pada pelajaran pekan lalu, tuduhan pelanggaran hukum yang mereka lontarkan itu bukan menyangkut esensi dari hukum melainkan lebih pada penafsiran.

Pena inspirasi menulis: “Bilamana Kristus menyampaikan khotbah di atas bukit, orang-orang Farisi hadir dan mencermati setiap perkataan. Juruselamat membaca pikiran mereka; Ia tahu bahwa mereka sedang mengeraskan hati untuk menolak terang. Mereka berkata dalam hati mereka, ‘Dia bertentangan dengan hukum. Kita tidak akan mengajarkan hal yang demikian.’ Tetapi sementara mereka menahan amarah, mereka terkesima ketika mendengar jawaban atas pikiran mereka yang tak terucapkan itu: ‘Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.'” (Ellen G. White, Review and Herald, 15 November 1898).

Minggu, 6 April

MENAATI HUKUM SEJAK KANAK-KANAK (Sunat dan Penyerahan)

Sunat sebagai tanda. Kewajiban sunat di kalangan orang Yahudi didasarkan pada hukum Musa, atau Torah, yang dalam PL terdapat dalam Kejadian 17:10-12. “Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun…” (huruf miring ditambahkan). Hukum ini terus dilaksanakan oleh keturunan Abraham sampai sekarang ini. Bahkan ada sebagian orang Kristen, yang merayakan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus, juga memperingati hari penyunatan Yesus, yaitu hari kedelapan yang jatuh pada tanggal 1 Januari. Mereka merayakannya sebagai sebuah liturgi yang dinamakan “Pesta Sunat” (Feast of Circumcision) atau “Pesta Nama Kudus” (Feast of Holy Name), meskipun mereka sendiri tidak disunat.

“Kebenaran ini memberi kita suatu pengertian yang lebih baik tentang hari-hari permulaan dari kehidupan Yesus. Kitab-kitab Injil menunjukkan bahwa Yusuf dan Maria dipilih untuk menjadi orangtua duniawi Yesus setidaknya karena kesalehan mereka. Yusuf digambarkan sebagai ‘seorang yang tulus hati’ (Mat. 1:19), dan Maria disebut mendapat ‘kasih karunia di hadapan Allah’ (Luk. 1:30). Tatkala Yesus berumur delapan hari, orangtua-Nya mengadakan upacara pemberian nama dan sunat dengan cara yang sama seperti telah dialami oleh laki-laki Ibrani yang tak terhitung jumlahnya itu di masa lampau” [alinea kedua].

Akan halnya pemberian nama kepada Yesus pada hari Ia disunat itu merujuk kepada pesan seorang malaikat kepada Yusuf, “engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Mat. 1:21). Sebenarnya, nama-Nya dalam bahasa Ibrani adalah Yeshuah yang artinya “Tuhan adalah keselamatan,” tetapi PB yang ditulis dalam bahasa Grika menerjemahkan nama itu menjadi Iēsous, dan “Yesus” adalah pengindonesiaan dari nama Grika “Iēsous.” Mungkin anda pernah melihat sebuah kristogram (monogram nama suci) bertanda “IHS” yang tidak lain adalah singkatan dari Iesus Hominum Salvator atau “Yesus Juruselamat Manusia” dalam bahasa Latin. Menurut tradisi Yahudi pemberian nama anak dilakukan oleh orangtua, oleh ayahnya (Kej. 16:15; Kel. 2:22) atau ibunya (Kej. 29:32-35; 1Sam. 1:20), tapi terkadang juga oleh orang lain yang tidak ada hubungan keluarga (Kel. 2:10; Rut 4:17). Tapi dalam hal Yesus sebagai Juruselamat itu adalah nama surgawi.

Penyerahan anak sulung. Hal kedua yang dicatat dalam Alkitab tentang apa yang dilakukan oleh Yusuf dan Maria sehubungan dengan Yesus ketika masih bayi ialah upacara penyerahan anak. “Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan…” (Luk. 2:22-23; huruf miring ditambahkan). Yesus diserahkan kepada Tuhan karena Dia adalah anak sulung, dan di dalam Torah ditentukan bahwa waktu untuk penyerahan anak laki-laki sulung ialah “bila sudah genap hari-hari pentahiran” diri sang ibu (Im. 12:6). Hukum Musa menetapkan bahwa seorang ibu yang melahirkan anak laki-laki harus melewatkan 7 hari masa kenajisan (ay. 2), ditambah dengan 33 hari masa pentahiran (ay. 4), sehingga seluruhnya menjadi 40 hari. Seorang ibu yang melahirkan anak perempuan masa kenajisan dan pentahirannya lebih panjang, yaitu 2 minggu masa kenajisan ditambah 66 hari masa pentahiran, seluruhnya 80 hari (ay. 5). Jadi, hari penyerahan Yesus tidak bersamaan dengan hari Dia disunat.

Lukas 2:20-22 adalah tiga ayat yang menceritakan tiga peristiwa berbeda menyangkut Yesus ketika masih bayi, yaitu tentang hari kelahiran-Nya (ay. 20), hari khitan-Nya (ay. 21), dan hari penyerahan-Nya (ay. 22). Perbedaan itu ditandai dengan kata awal “dan” pada ayat 21 dan 22 dalam versi TB (Terjemahan Baru). Kalau anda membaca ayat-ayat tersebut dalam PB versi BIMK (Bahasa Indonesia Masa Kini) maka anda akan dapati bahwa ketiga ayat tersebut dipisahkan dalam tiga perikop berbeda. Jadi, Yusuf dan Maria baru bisa menunaikan hukum Musa tentang penyerahan Yesus sebagai anak laki-laki yang sulung di bait suci sesudah ibu-Nya melewatkan masa pentahirannya, sebab selama masa kenajisan dan pentahiran Maria belum berakhir “tidak boleh ia kena kepada sesuatu apapun yang kudus dan tidak boleh ia masuk ke tempat kudus” (Im. 12:4).

“Alkitab itu jelas bahwa Maria adalah seorang perawan ketika dia dipilih untuk menjadi ibu Yesus (Luk. 1:27); jadi, Yesus adalah anak pertama yang membuka kandungannya. Menurut Keluaran 13, setiap anak sulung di antara umat Israel (apakah itu hewan ataupun manusia) harus dipersembahkan kepada Tuhan…Sebagai orang Yahudi yang saleh, Maria dan Yusuf dengan teliti memenuhi kewajiban hukum Musa dan memastikan bahwa Anak Allah itu menyandang tanda-tanda perjanjian itu” [alinea terakhir: dua kalimat pertama dan kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang Yesus yang sejak bayi sudah menggenapi tuntutan Hukum Musa?

1. Dari sejak lahir Yesus sudah dibiasakan untuk mengikuti hukum Musa (Torah) karena sebagai manusia Dia adalah orang Yahudi. Tentu peran orangtua duniawi Yesus, Yusuf dan Maria, dalam hal ini sangat penting. Sepanjang masa kanak-kanak dan masa remaja Yesus telah diajar juga untuk taat hukum.

2. Dalam skenario besar untuk menyelamatkan umat manusia yang berdosa, Allah telah mengutus Putra-Nya untuk menjelma sebagai manusia. Yusuf dan Maria dipilih oleh Allah sendiri untuk menjadi orangtua duniawi Anak Allah karena kesalehan dan ketaatan mereka pada hukum-Nya (Torah).

3. Setelah dewasa Yesus tetap memperlihatkan ketaatan-Nya pada setiap hukum Allah yang berlaku pada masa itu di lingkungan bangsa-Nya (yaitu hukum moral, hukum upacara agama, dan hukum sipil) untuk memberi teladan kepada manusia bahwa menurut hukum Allah itu penting.

Senin, 7 April

DIRAYAKAN SEBAGAI PERINGATAN (Hari-hari Raya Orang Yahudi–Yoh. 5:1)

Memperingati hari pembebasan. Hukum Musa mewajibkan orang Israel untuk memperingati 7 hari raya nasional yang tercatat dalam Imamat 23. Masing-masing adalah Paskah [Ibrani; Pesach]–1 hari (ay. 5), Roti Tidak Beragi [Ibr.: Chaq HaMotzi]–7 hari (ay. 6), Hasil Raya Menuai [Ibr.: Reshit Katzir] (ay. 10-11), Hari Raya Tujuh Minggu [Ibr.:Shavu’ot; Grika: Pentakosta, artinya “kelimapuluh”]–50 hari (ay. 16-17), Hari Terompet [Ibr.: Yom Teru’ah] (ay. 24-25), Hari Pendamaian [Ibr.: Yom Kippur]–1 hari (ay. 27-28), dan Hari Raya Pondok Daun [Ibr.: Sukkot]–7 hari (ay. 34). Ketujuh hari raya ini tercakup dalam perintah Tuhan melalui Musa di gunung Sinai, dan merupakan bagian dari hukum upacara agama, di mana empat perayaan pertama berlangsung dalam musim semi dan tiga perayaan kedua dalam musim gugur.

Tetapi selain itu orang Yahudi juga merayakan hari-hari raya lainnya yang ditambahkan atas dasar tradisi–bukan berdasarkan Torah–seperti Pesta Lampu (Ibr.: Chanukah] untuk memperingati pengudusan kembali bait suci Yerusalem dari pencemaran yang dilakukan oleh Anthiokus Epifanes dari Yunani, Hari Raya Undian [Ibr.: Purim] untuk memperingati perlawanan bangsa Yahudi terhadap Haman seperti tertulis dalam kitab Ester, dan Tahun Baru Yahudi [Ibr.: Rosh Hashanah].

“Periode pertama dari hari raya utama dalam tahun kalender Yahudi adalah hari raya Roti Tidak Beragi yang diawali dengan Paskah. Perayaan ini untuk memperingati kelepasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir ketika malaikat maut melewatkan rumah-rumah dari mereka yang membubuhi tanda darah pada tiang pintu. Injil mencatat tiga kesempatan ketika Yesus merayakan Paskah (Luk. 2:41-43, Yoh. 2:13-23, Mat. 26:17-20)” [alinea pertama].

Merujuk kepada Yesus Kristus. Sesungguhnya inti dari Torah adalah Yesus Kristus, dan semua perayaan-perayaan yang diperintahkan kepada bangsa Israel itu dirancang Allah untuk pembelajaran yang merujuk kepada Mesias sebagai Juruselamat. Dalam perkataan lain, perayaan-perayaan itu merupakan “bayangan” dari apa yang akan digenapi oleh Yesus Kristus, bukan saja demi kepentingan bangsa Israel tapi juga untuk segenap manusia. Mari kita telaah satu demi satu:

1. Paskah–Skala bangsa Israel: Pembebasan dari perbudakan Mesir (Im. 23:5)–Kegenapan dalam Kristus: Kemerdekaan dari perbudakan dosa (Yoh. 8:36).

2. Roti Tidak Beragi–Skala bangsa Israel: Selama tujuh hari makan roti bundar yang tidak beragi (Im. 23:6)–Kegenapan dalam Kristus: Ragi, lambang dari dosa, telah dibersihkan melalui kematian Yesus sebagai “Anak Domba Paskah” (1Kor. 5:7-8).

3. Hari Raya Menuai–Skala bangsa Israel: Setiap panen pertama di negeri Kanaan harus dipisahkan untuk Tuhan (Kel. 23:16; Im. 23:10-11)–Kegenapan dalam Kristus: Kebangkitan Yesus sebagai “buah sulung” dari orang-orang saleh yang akan dibangkitkan (1Kor. 15:20).

4. Hari Raya 7 Minggu–Skala bangsa Israel: Membawa persembahan unjukan sesudah hari ke-50 (Im. 23:15-17)–Kegenapan dalam Kristus: Pencurahan Roh Kudus (Hari Pentakosta) sesudah 50 hari kebangkitan Yesus.

5. Hari Terompet–Skala bangsa Israel: Meniup serunai atau terompet khas dari tanduk, sebagai peringatan (Im. 23:24)–Kegenapan dalam Kristus: Bunyi terompet yang membangkitkan orang mati pada kedatangan Yesus kedua kali (Mat. 24:30-31; 1Tes. 4:13-18; 1Kor. 15:52).

6. Hari Pendamaian–Skala bangsa Israel: Upacara persembahan kurban bakaran istimewa sekali setahun untuk pembersihan bait suci dari dosa (Im. 16:15-22; 23:27-28)–Kegenapan dalam Kristus: Kematian Yesus di kayu salib sebagai Anak Domba Allah untuk menebus dosa seluruh umat manusia (Yoh. 3:16; Ibr. 13:11-2).

7. Hari Raya Pondok Daun–Skala bangsa Israel: Tinggal di dalam pondok-pondok beratapkan daun seminggu lamanya (Im. 23:34-36)–Kegenapan dalam Kristus: Ketika merayakan hari raya ini Yesus mengucapkan undangan untuk mengecap air hidup dari pada-Nya (Yoh. 7:37-38).

“Tentu saja perayaan-perayaan alkitabiah telah lama berakhir, setidaknya sejauh menyangkut orang-orang Kristen. Semua itu sudah digenapi dalam Kristus. Namun, kita dapat belajar sangat banyak dengan mempelajarinya dan melalui pekabaran-pekabaran yang dikandungnya, sebab semua itu mengajarkan kita pelajaran-pelajaran tentang kasih karunia Allah yang menyelamatkan dan kuasa-Nya yang memberi kelepasan” [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang hari-hari raya orang Yahudi?

1. Tuhan merancang hari-hari raya untuk diperingati oleh bangsa Israel sebagai peringatan akan pengalaman masa lalu mereka. Setiap negara di zaman moderen ini memiliki hari-hari raya untuk mengenang perjalanan sejarah bangsanya.

2. Dalam hal hari-hari raya bangsa Israel yang tercantum dalam Torah, selain sebagai peringatan itu juga menjadi pelajaran akan apa yang akan datang di masa depan, khususnya menyangkut kedatangan Mesias dan apa yang akan dilakukan-Nya bagi mereka.

3. Sebagai orang Kristen, peristiwa bersejarah yang harus selalu dikenang adalah kematian Yesus di kayu salib sebagai Juruselamat dunia dan Penebus dosa manusia. Selain itu kita juga harus mengingat pengajaran-pengajaran-Nya, terutama janji-Nya untuk datang kembali (Yoh. 14:1-3).

Selasa, 8 April

KETAATAN YESUS SEBAGAI ANAK (Yesus di Bait Suci)

Masa kecil Yesus. Di seluruh PB hanya kitab-kitab injil saja yang mencatat tentang masa kecil Yesus, itupun sangat sedikit dan tanpa informasi apapun dalam injil Markus. Apa yang kita tahu ialah bahwa beberapa hari setelah lahir di Betlehem orangtua-Nya membawa Yesus mengungsi ke Mesir (Mat. 2:14), kemudian kembali ke Nazaret (Mat. 2:23; Luk. 2:39). Sebagai kanak-kanak Yesus bertumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas dan bijak (Luk. 2:40), dan setiap tahun ikut orangtua-Nya merayakan Paskah di Yerusalem (ay. 41). Ketika berusia 12 tahun bersama orangtua-Nya pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah, Yesus mencengangkan bukan saja para alim-ulama tapi juga orangtua-Nya sendiri (ay. 46-48).

Paskah adalah perayaan penting bagi orang Yahudi yang mewajibkan kaum pria dewasa untuk melakukan perjalanan ziarah ke Yerusalem. Fakta bahwa Yusuf dan Maria mengajak Yesus yang berumur 12 tahun untuk ikut, sebagaimana yang dilakukan setiap tahun, menunjukkan bahwa orangtua Yesus adalah orang yang taat hukum (Hukum Musa atau Torah). Sebagian orang berspekulasi bahwa dalam perjalanan kali ini Yesus juga telah menjalani upacara tradisional yang di kalangan orang Yahudi disebut bar mitzvah (arti harfiahnya: “son of the commandments” atau “anak hukum”) di mana seorang anak laki-laki dianggap sudah mencapai usia akil-baliq (untuk anak perempuan disebut bat mitzvah atau”daughter of the commandments”). Namun pendapat ini patut diragukan karena dua alasan: pertama, upacara bar mitzvah adalah untuk anak laki-laki yang sudah berumur 13 tahun, sedangkan saat itu Yesus baru berusia 12 tahun; kedua, tradisi ini baru diadakan sejak abad ke-13.

Jarak perjalanan dari tempat tinggal Yesus di Nazaret ke ibukota Yerusalem adalah sekitar 80 mil atau 128 Km, karena itu harus ditempuh dalam waktu tiga hari berjalan kaki. Alkitab mencatat bahwa Yusuf dan Maria baru menyadari ketidakhadiran Yesus dalam perjalanan pulang itu setelah satu hari penuh perjalanan (Luk. 2:44), dan baru menemukan Dia setelah tiga hari (ay. 46), jadi mereka kehilangan Dia selama tiga hari. Perhitungannya: satu hari setelah berangkat dari Yerusalem, satu hari perjalanan kembali ke Yerusalem, dan satu hari untuk mencari-Nya di Yerusalem karena sebelumnya mereka tidak sangka kalau Yesus masih berada di dalam Bait Suci. Dalam peristiwa ini hanya orangtua Yesus yang gelisah karena kehilangan Dia, tetapi di kemudian hari seluruh alam semesta kehilangan Yesus selama tiga hari sejak hari kematian-Nya sampai hari kebangkitan-Nya (Mat. 17:22-23; Luk. 24:7, 46). Sebab selama Yesus di dalam kubur Dia tidak berada di manapun di seluruh alam semesta ini maupun di surga! Sebagaimana Yesus pernah katakan: “Kamu akan mencari Aku, tetapi tidak akan bertemu dengan Aku, sebab kamu tidak dapat datang ke tempat di mana Aku berada” (Yoh. 7:34).

Dalam rumah Bapa-Ku. Meskipun keluarga Yusuf dan Maria setiap tahun pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah, kunjungan mereka kali ini menjadi istimewa karena insiden “kehilangan” Yesus. Alkitab mencatat: “Tiap-tiap tahun orangtua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orangtua-Nya. Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka. Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia” (Luk. 2:41-45; huruf miring ditambahkan).

Inilah satu-satunya catatan Alkitab yang secara tegas menyebutkan umur Yesus. Tampaknya baru kali inilah Yesus ketinggalan, sebab kalau di tahun-tahun sebelumnya Dia pernah ketinggalan tentu waktu hendak berangkat pulang itu Yusuf dan Maria sudah memeriksa lebih dulu bahwa Yesus ada bersama mereka. Rupanya Yesus juga seorang anak yang suka berteman dan biasa berjalan bersama teman-teman atau sanak keluarga yang lain sehingga orangtua-Nya menyangka Yesus ada bersama mereka. Ketika Yusuf dan Maria menemukan Dia di dalam Bait Allah sedang bersoal-jawab dengan para alim ulama, seperti juga orang-orang lain yang menyaksikan-Nya kedua orangtuanya pun dibuat terheran-heran (ay. 47-48).

Tetapi, hal yang paling mencengangkan ialah soal-jawab antara Yesus dengan orangtua-Nya: “Lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: ‘Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.’ Jawab-Nya kepada mereka: ‘Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?'” (ay. 48-49; huruf miring ditambahkan). Jawaban Yesus itu membuat kedua orangtua-Nya bertambah heran dan tidak mengerti (ay. 50). Belasan tahun kemudian, tatkala Yesus sudah dewasa dan sedang melaksanakan pekerjaan Bapa semawi-Nya, lalu ibu-Nya bersama saudara-saudara-Nya datang hendak menemui Dia, Yesus berkata kepada orang yang memberitahukan hal itu kepada-Nya: “‘Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?'” Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: ‘Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku'” (Mat. 12:48-50).

Apa yang kita pelajari tentang peristiwa penting dalam kehidupan Yesus ketika berusia 12 tahun?

1. Catatan Alkitab tentang masa kanak-kanak Yesus sangat minim, meskipun begitu peristiwa yang terjadi pada waktu Dia berumur 12 tahun mengandung pelajaran sangat penting. Yesus bukan saja sudah dipenuhi dengan hikmat Allah, tapi Dia juga tahu untuk apa hikmat itu harus digunakan.

2. Ketika menjelma menjadi manusia biasa Yesus “telah mengosongkan diri-Nya sendiri…dan menjadi sama dengan manusia” (Flp. 2:7). Jadi, Yesus bertumbuh dan belajar seperti umumnya anak-anak. Namun, Dia “penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya” (Luk. 2:40).

3. Pelajaran penting bagi orangtua Yesus–dan bagi kita semua–ialah bahwa sebagaimana Yesus lebih mementingkan untuk berada di rumah Bapa semawi (Luk. 2:49) dan melaksanakan kehendak Bapa di surga (Mat. 12:50), kita pun harus memelihara sikap demikian.

Rabu, 9 April

ANTARA KEWAJIBAN DAN KEBIJAKAN (Pajak)

Pajak dalam hukum Musa. Ketika memerintahkan Musa untuk membangun Bait Suci, Allah menginstruksikan pengumpulan dana dengan cara mewajibkan setiap laki-laki berumur 20 tahun ke atas agar membayar “uang pendamaian” (Kel. 30:12; BIMK: “uang tebusan”) seberat “setengah syikal” (ay. 13). Pada zaman purba yang disebut dengan “uang” itu adalah nilai intrinsik dari logam berharga, perak atau emas. Satu syikal beratnya adalah 11 gram, jadi setengah syikal sama dengan 5,5 gram. Ini adalah sebuah “persembahan khusus” (ay. 14; BIMK: “sumbangan khusus”) yang dipungut secara merata tanpa melihat apakah dia orang kaya atau miskin (ay. 15), dan menjadi semacam “uang pendamaian” (ay. 16; BIMK: “uang tebusan”) bagi nyawa orang itu. Persembahan wajib ini berbeda dari persepuluhan yang diatur dalam kitab Maleakhi pasal 3.

Allah menentukan bahwa pungutan wajib itu harus digunakan “untuk ibadah dalam Kemah Pertemuan” (ay. 16). Ini bisa berarti bahwa uang tersebut dapat digunakan untuk pembangunan Bait Suci darurat yang digunakan selama perjalanan pengembaraan di padang gurun menuju Kanaan, atau juga sebagai dana penyelenggaraan upacara-upacara peribadatan di Bait Suci itu. Namun yang pasti bagi Allah persembahan itu “menjadi peringatan di hadapan TUHAN untuk mengingat kepada orang Israel” (ay. 16).

“Aspek upacara agama berarti bahwa Bait Suci merupakan pusat dari kehidupan keagamaan orang Yahudi. Bahkan, pada abad pertama, Bait Suci kemungkinan adalah satu-satunya bangunan tertinggal yang memberikan kepada bangsa Yahudi suatu perasaan jatidiri nasional” [alinea pertama: dua kalimat terakhir].

Pajak menurut Yesus. Satu-satunya keterangan dalam Alkitab yang menceritakan tentang Yesus membayar pajak adalah Matius 17:24-27. Tetapi ini bukan pajak yang dibayarkan kepada negara (dalam hal ini pemerintah Romawi), melainkan kepada Bait Suci sebagai sumbangan wajib yang diatur dalam hukum Musa seperti yang kita bahas di atas (Kel. 30:12-16). Kata Grika yang diterjemahkan dengan “bea dua dirham” dalam Matius 17:24 versi TB, atau “pajak Rumah Tuhan” dalam versi BIMK, adalah didrachma atau dua drachma, yaitu sekeping uang perak Yunani yang setara dengan setengah syikal perak uang Yahudi masa itu.

Entah kaget atau sok tahu, ketika petugas pemungut persembahan untuk Bait Suci (mungkin sekarang: diakon) itu bertanya kepada Petrus, “Apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?” (Mat. 17:24), tanpa berpikir panjang langsung saja murid yang terkenal dengan spontanitasnya itu menjawab, “Memang membayar” (ay. 25). Tetapi Yesus yang berada di dalam rumah dan mengetahui hal itu tampaknya tidak setuju dengan jawaban Petrus. Yesus kemudian mengajukan pertanyaan yang menyadarkan murid-Nya itu, bahwa sesungguhnya Yesus sebagai Anak Allah tidak wajib membayar persembahan khusus untuk Bait Allah. “Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka,pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kau pancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga” (ay. 27; huruf miring ditambahkan).

“Walaupun demikian, Yesus memilih untuk mematuhi pihak berwenang dan menyuruh Petrus untuk mengambil uang pajak itu dari mulut ikan pertama yang ditangkapnya. Uang syikal dalam mulut ikan itu cukup untuk mencakup uang pajak baik untuk Yesus maupun Petrus” [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang Yesus dan pajak?

1. Selain persepuluhan, orang Israel purba juga membayar persembahan wajib untuk Bait Suci; persepuluhan untuk menopang hidup para pelayan pekerjaan Tuhan, persembahan untuk menyokong pekerjaan dalam rumah Tuhan. Persepuluhan bersifat proporsional, sepuluh persen dari pendapatan; persembahan nilainya merata.

2. Petrus yang berjiwa patriotik itu terlalu gegabah menjawab bahwa Yesus membayar “bea dua dirham” itu, hanya karena tidak mau Gurunya dipersalahkan. Tampaknya Yesus tidak pernah membayarnya, karena memang Dia tidak wajib membayarnya. Tapi kecerobohan Petrus telah membuat Yesus “terpaksa” membayar.

3. Sebenarnya Yesus bisa saja keluar menghadapi pemungut bea itu dan menegaskan siapa Dirinya, tetapi Yesus memilih untuk menunjukkan ketaatan-Nya sebagai warga Yahudi. Pemimpin yang baik tidak akan bersikap “mentang-mentang” melainkan dengan rendah hati memberi teladan.

Kamis, 10 April

MENEPIS TUDUHAN SEBAGAI PELANGGAR HUKUM (Penegakan Hukum*)

(*Judul asli: “Law Enforcement”)

Menghadapi jebakan. Entah berapa kali Yesus menghadapi jebakan orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang sengaja menyuguhkan kasus-kasus yang secara faktual mempertentangkan kententuan-ketentuan hukum antara Torah (hukum agama) dengan undang-undang kerajaan Romawi (hukum positif). Sambil menyeret seorang perempuan PSK ke hadapan Yesus, mereka berkata: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” (Yoh. 8:4-5). Menurut hukum Musa perempuan itu harus dirajam sampai mati (Ul. 22:23-24), tetapi menurut undang-undang Romawi hukuman mati hanya dapat dilaksanakan atas putusan hakim di pengadilan sipil.

Dalam kedua kasus ini–dan juga kasus-kasus lainnya–kalau Yesus tidak menuruti ketentuan dalam Torah maka Ia akan dicap pelanggar hukum, tetapi jika Yesus tidak menaati hukum Romawi selaku penguasa-penjajah maka Ia pun akan dituduh melawan hukum. Apakah ini “situasi buah simalakama” (kalau dimakan ayah mati, kalau tidak dimakan ibu yang mati), alias keadaan yang serba salah, maju kena, mundur kena? Bagi anda dan saya mungkin ya, tapi bagi Yesus tidak! Anggapan bahwa Yesus akan menjadi serba salah dengan kasus itu hanya ada dalam pikiran kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat, nyatanya setelah Yesus menuliskan di atas tanah dosa-dosa mereka sambil berkata, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh. 8:7), para penjebak itulah yang menjadi serba salah dan satu demi satu minggat secara diam-diam (ay. 9).

“Dia tidak mengatakan bahwa perempuan itu tidak boleh dirajam; Ia hanya sekadar memaksa orang-orang itu untuk melihat pelanggaran-pelanggaran hukum mereka sendiri. Bahkan pembebasan perempuan itu selaras dengan hukum Musa, sebab tidak seorangpun yang menuduh, dan sedikitnya diperlukan dua orang saksi untuk menjalankan peradilan (Ul. 17:6)” [alinea kedua: dua kalimat terakhir].

Hukum Musa dan perceraian. Pada waktu yang lain, orang Farisi dan ahli Taurat mendatangi Yesus sambil mengajukan pertanyaan menjebak soal mengawini kembali seorang perempuan yang pernah diceraikan, yang berdasarkan hukum Musa adalah perzinaan (Ul. 24:1-4) tetapi dalam hukum Romawi itu sah. Pendeknya, mereka berusaha untuk menggiring Yesus ke dalam situasi yang dilematis dengan tujuan untuk dapat mempersalahkan Dia.

Pada waktu orang Farisi mencobai Yesus dengan bertanya soal perceraian (Mat. 19:3), gantinya Yesus menggiring pikiran mereka kepada perkawinan sebagai rencana Allah dengan menyinggung penciptaan Adam dan Hawa sebagai pasangan pertama (ay. 5-6). Perceraian mungkin adalah cara yang tak terhindarkan kalau hubungan rumahtangga begitu parah dan tidak mungkin lagi untuk diperbaiki, tetapi bila dari awal seseorang sudah dan terus berpikir untuk bercerai maka perceraian akan lebih mudah terjadi. Yesus menyebut cara berpikir seperti itu sebagai sikap keras kepala (ay. 8), sambil menegaskan: “Barangsiapa menceraikan istrinya, kecuali karena zina, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zina” (ay. 9).

“Ketika orang-orang Farisi menunjukkan hukum Musa dalam Ulangan 24:1-4, Yesus membuat semuanya makin jelas. Tidak pernah Musa memerintahkan bahwa perceraian itu diperbolehkan. Namun, karena ketegaran hati bangsa itu maka Musamengizinkan perceraian (Mat. 19:8). Jadi, kita lihat di sini bahwa meskipun Yesus mengkritisi salah satu hukum Musa, Ia tidak mengesampingkannya. Yesus adalah seorang Yahudi yang setia dalam segala hal, taat pada hukum-hukum Musa” [alinea terakhir: lima kalimat terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang cara Yesus menghadapi jebakan hukum dari orang Farisi?

1. Menjebak orang lain adalah salah satu perbuatan paling keji yang dapat dilakukan seseorang. Kalau itu dilakukan secara beramai-ramai terhadap satu orang, apalagi secara berulang-ulang, bagaimana anda menyebut perbuatan itu? Itulah yang dilakukan oleh orang Farisi dan ahli Taurat terhadap Yesus.

2. Dalam kasus wanita PSK (pekerja seks komersial) yang dihadapkan kepada Yesus, orang Farisi dan para ahli Taurat itu bukan hendak menuntut tindakan penegakan hukum dari Yesus, melainkan pemanfaatan hukum untuk mencari kesalahan Yesus. Berapa seringkah kita memanipulasi Firman Tuhan untuk mempersalahkan orang lain?

3. Kepiawaian Yesus menghadapi jebakan orang Farisi dan ahli Taurat, dan sekaligus juga menunjukkan penguasaan-Nya akan hukum Musa, terlihat ketika Ia menerangkan soal perkawinan, perceraian, dan perzinaan. Musa tidak memerintahkan perceraian tetapi mengizinkannya karena sikap keras kepala bangsa itu.

Jumat, 11 April

PENUTUP

Peringatan bagi manusia yang pelupa. Manusia diciptakan Allah dengan sempurna, tetapi dosa mengakibatkan kemerosotan terhadap manusia dalam segala aspek. Manusia jadi makhluk yang paling pelupa di seluruh jagad, dan karena itu harus sering diingatkan. Elizabeth Loftus, psikolog Amerika yang terkenal dengan penelitiannya dalam soal daya ingat manusia, menyimpulkan bahwa penyebab utama mengapa seseorang gagal mengingat kembali sesuatu ialah karena jarang mengakses memori tersebut yang tersimpan di otak. Menurutnya, suatu memori yang jarang di-retrieve (didapatkan kembali) lama kelamaan akan lenyap dari ingatan, sesuatu yang disebutnya decay theory (teori pembusukan).

Semua perayaan yang harus diperingati oleh bangsa Israel adalah cara Allah untuk mengingatkan mereka akan perbuatan Allah di masa lalu demi kepentingan mereka. Misalnya perihal malapetaka yang direncanakan-Nya terhadap anak-anak sulung bangsa Mesir tetapi meluputkan keluarga-keluarga bangsa Israel, sebuah peristiwa yang harus mereka peringati di kemudian hari sebagai hari raya Paskah. Allah berfirman: “Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai hari raya bagi TUHAN turun-temurun. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya” (Kel. 12:14; huruf miring ditambahkan).

Perayaan Paskah adalah salah satu dari tiga perayaan yang mengharuskan setiap laki-laki dewasa orang Yahudi berziarah ke kota Yerusalem, dua lainnya adalah perayaan Roti Tidak Beragi dan Pondok Daun. Allah berfirman: “Tiga kali setahun setiap orang laki-laki di antaramu harus menghadap hadirat TUHAN, Allahmu, ke tempat yang akan dipilih-Nya, yakni pada hari raya Roti Tidak Beragi, pada hari raya Tujuh Minggu dan pada hari raya Pondok Daun. Janganlah ia menghadap hadirat TUHAN dengan tangan hampa, tetapi masing-masing dengan sekedar persembahan, sesuai dengan berkat yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu” (Ul. 16:16-17).

“Tiga kali setahun orang Yahudi dituntut berhimpun di Yerusalem untuk maksud keagamaan. Dalam keadaan terselubung dengan tiang awan, Pemimpin Israel yang tidak kelihatan itu telah memberikan petunjuk-petunjuk sehubungan dengan pertemuan-pertemuan ini…Adalah rencana Allah agar perayaan-perayaan ini hendaknya mengingatkan pikiran orang banyak itu kepada-Nya” [alinea pertama: dua kalimat pertama dan kalimat terakhir].

Kita mempelajari sejarah bangsa Israel purba sebagai umat Allah yang gagal, agar kita sebagai umat Tuhan masa kini tidak mengulangi kegagalan mereka. Bagi mereka, Allah telah menyediakan perayaan-perayaan keagamaan sebagai modus untuk mengingatkan mereka; bagi kita, Allah telah menyediakan firman-Nya untuk didalami sebagai pelajaran tertulis untuk mengingatkan kita.

“Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu di mana zaman akhir telah tiba. Sebab itu, siapa yang menyangka bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1Kor. 10:11-12).

Leave a Reply