“YESUS, PENGANTARA DAN PEMBELA SEJATI”

November 26, 2013 - Loddy Lintong

“KRISTUS, IMAM KITA”

Kristus, Imam Besar surgawi. Rencana keselamatan–yaitu penebusan dosa manusia–telah dimulaikan di surga dan akan diselesaikan juga di surga. Ucapan Yesus bahwa Diri-Nya diutus oleh Bapa di surga (Yoh. 5:36-38; 6:38-40) mengindikasikan bahwa kedatangan-Nya ke dunia ini adalah untuk melaksanakan missi Allah Bapa, yaitu missi penyelamatan manusia, dan bahwa itu adalah sebuah rencana surgawi. Sesudah missi di dunia ini selesai, Yesus kembali ke surga untuk melaksanakan tahap lanjut dari rencana keselamatan itu di sana.

“Sesudah kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Bait Suci surgawi, Kristus memasuki tahap baru dari rencana Penebusan (Ibr. 2:17). Dengan syarat mutlak pengorbanan-Nya itu dipenuhi, Ia pun dinobatkan sebagai imam dan memulai pelayanan keimamatan-Nya supaya sekarang dengan korban-Nya yang sempurna mengantarai mereka yang oleh iman terbungkus oleh darah-Nya” [alinea pertama: dua kalimat pertama].

Sementara kematian-Nya di salib Golgota membuat Yesus Kristus memenuhi syarat untuk menjadi Imam Besar surgawi dan Pembela umat-Nya, pelayanan keimamatan di surga merupakan proses lanjutan dari rencana keselamatan. Jadi, penebusan dan penyelamatan manusia berdosa tidak diselesaikan di kayu salib tetapi di Bait Suci surgawi, yaitu melalui prosedur keimamatan yang juga disebut masa penghakiman (1Ptr. 4:17; Why. 14:7). Sebagaimana rencana keselamatan itu tidak selesai di kayu salib, tapi masih harus dilanjutkan dalam Bait Suci surgawi, demikian juga keselamatan itu tidak cukup hanya dengan hanya percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat tetapi harus ditindaklanjuti dengan pertobatan. Bertobat artinya berhenti berbuat dosa, dan seterusnya hidup dalam penyerahan diri kepada Yesus Kristus yang kini menjadi Pengantara dan Pembela kita di surga.

“Sesungguhnya, kita bisa beroleh penghiburan besar dengan mengetahui bahwa Yesus sekarang berdiri di hadapan Allah, menggunakan jasa-jasa pengorbanan-Nya demi kita. Pekabaran Bait Suci menyajikan pengharapan dan dorongan bahkan bagi pengikut-pengikut-Nya yang paling lemah” [alinea kedua: dua kalimat terakhir].

Minggu, 17 November
BUKAN IMAM BESAR BIASA (Imam Besar Kita)

Keimamatan Kristus. Seperti sudah kita pelajari terdahulu tentang upacara kurban di Bait Suci PL, tugas seorang imam adalah untuk menjadi pengantara antara seorang berdosa untuk memohon pengampunan dari Allah. Imam biasa menjalankan pelayanan keimamatan harian, sedangkan imam besar melaksanakan pelayanan keimamatan tahunan pada hari yang disebut “Hari Pendamaian” atau “Yom Kippur” dalam bahasa Ibrani. Kalau imam biasa melayani orang Israel purba secara perorangan, imam besar melayani segenap umat Israel purba sebagai satu bangsa. Walaupun Yesus menjalankan pelayanan keimamatan sebagai “Imam Besar” di surga tidak berarti bahwa Dia hanya melayani umat-Nya secara kolektif, tapi juga melayani umat-Nya secara pribadi.

Dalam tradisi PL seorang imam besar harus ditentukan berdasarkan kriteria yang ditetapkan Allah dan baru akan menjalankan tugasnya setelah ditahbiskan. Yesus pun bisa melayani sebagai “Imam Besar” dalam “Bait Suci” surgawi karena sudah memenuhi kriteria yang ditentukan bagi-Nya, sebab Dia “telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah” (Ef. 5:2). Sebagaimana imam besar zaman dulu harus mempersembahkan satu kurban, “karena itu Yesus perlu mempunyai sesuatu untuk dipersembahkan” (Ibr. 8:3), dan hal itu “telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban” (Ibr. 7:27). Meski sudah memenuhi syarat, Yesus tidak mengangkat diri-Nya sebagai Imam Besar surgawi tetapi oleh Allah Bapa sendiri (Ibr. 5:5). “Ia dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah, menurut peraturan Melkisedek” (Ibr. 5:10), dan sesuai dengan peraturan Melkisedek juga, Yesus “menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya” (Ibr. 6:20, bandingkan dengan Mzm. 110:4).

“Kitab dalam Perjanjian Baru yang paling banyak berbicara tentang Kristus sebagai Imam adalah kitab Ibrani. Dasar kekuatan Perjanjian Lama bagi kitab Ibrani terdiri atas dua ayat yang dikutip dari Mazmur 110. Ayat 1 digunakan untuk menegaskan bahwa Kristus ditinggikan di atas segala sesuatu karena Ia duduk di sebelah kanan Allah” [alinea kesatu: tiga kalimat pertama].

Imam Melkisedek. Siapakah Melkisedek? Nama “Melkisedek” muncul dua kali dalam PL (Kej. 14:18 dan Mzm. 110:4), dan sembilan kali dalam PB yang semuanya terdapat dalam kitab Ibrani (pasal 5, 6 & 7). Semua ayat dalam Alkitab yang menyebut tentang Melkisedek mengacu kepada dua jabatan, yaitu sebagai imam dan raja, dan semuanya merujuk kepada Yesus Kristus. Tapi satu hal yang menarik bahwa meskipun Melkisedek disebut sebagai “imam” dan “raja” namun dia bukanlah seorang Yahudi, sebab dia bukan keturunan Abraham, bahkan dia yang telah memberkati Abraham (waktu itu namanya masih Abram) setelah kembali dari peperangan mengalahkan gerombolan Kedarlaomer yang telah menjarah penduduk kota Sodom termasuk keluarga Lot, keponakan Abraham (Kej. 14:19), bahkan kepadanya nenek moyang bangsa Israel itu membayar persepuluhan dari hasil pertempuran tersebut (ay. 20). Tampaknya Melkisedek bukan sosok yang asing bagi Abraham maupun raja Sodom, mungkin saja sebelum itu mereka pernah mengenalnya dalam suatu peristiwa tertentu.

Secara etimologis (asal kata), “Melksedek” terdiri atas dua kata Ibrani, מַלְכִּי־צֶדֶק, malki-tsedeq, yang secara harfiah berarti “rajaku adalah kebenaran” yang kemudian disederhanakan menjadi “Raja Kebenaran.” Dia adalah “raja Salem” (Salem artinya “Damai”), sebuah kata yang berkaitan dengan nama kota Yerusalem. Namun pada waktu yang sama Melkisedek disebut pula sebagai “imam Allah yang Mahatinggi” yang memberikan roti dan air anggur kepada Abraham (Kej. 14:18). Kitab Kejadian pasal 14 juga mencatat bahwa Melkisedek sesudah memberkati Abraham (ay. 19) kemudian memuji Allah yang Mahatinggi (ay. 20). Kita melihat di sini bahwa dalam pengertian tertentu Melkisedek sebagai imam telah melaksanakan fungsi pengantaraan, yakni mengantarai Abraham dan Allah.

“Yesus menggenapi baik keimamatan agung Harun maupun keimamatan agung Melkisedek dalam cara yang lebih baik daripada keduanya, atau dari keimamatan yang pernah ada atau bisa lakukan. Kedua bayangan (type) itu menemukan kegenapannya(antitype) dalam diri Kristus” [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang Yesus Kristus sebagai Imam Besar surgawi?
1. Sesudah mempersembahkan diri-Nya sebagai Kurban yang nyata di bumi demi keselamatan umat manusia, Yesus Kristus kembali ke surga untuk melaksanakan tahap lanjut dari rencana keselamatan di mana Dia bertindak selaku Imam Besar dalam “Bait Suci surgawi.”
2. Pembandingan keimamatan Yesus Kristus dengan keimamatan Harun adalah dari sudut prosedural sebagai Imam Besar, dan pembandingan dengan keimamatan Melkisedek ialah menyangkut kedudukan sebagai Imam Besar yang lebih tinggi dari Harun dan para imam besar sesudahnya.
3. Seperti halnya jabatan imam besar dalam PL berperan sebagai pengantara antara manusia dengan Allah, demikianlah Yesus Kristus sebagai “Imam Besar surgawi” juga memerankan fungsi yang sama untuk mengantarai kita dengan Allah dalam rangka pengampunan dosa.

Senin, 18 November
DWI FUNGSI KEIMAMATAN KRISTUS (Pembela dan Pengantara)

Doktrin pembelaan dan pengantaraan. Istilah “pembela” berkaitan dengan suasana pengadilan (dalam konteks Alkitab: penghakiman), sedangkan “pengantara” menyangkut pelayanan dalam Bait Suci. Di surga, Yesus menjalankan kedua fungsi ini secara simultan–Ia adalah “pembela” dan sekaligus juga “pengantara” demi kepentingan manusia (tepatnya: demi kepentingan umat-Nya). Sebagai pembela, Yesus membela umat-Nya dari tuduhan Setan bahwa kita harus binasa oleh sebab dosa-dosa kita, dan Yesus mematahkan dalil Setan itu dengan menyodorkan fakta bahwa Dia sudah menjalankan hukuman mati itu di salib sebagai “kurban pengganti.” Sebagai pengantara, Yesus menjadi penghubung umat-Nya untuk memohon pengampunan dosa dari Allah Bapa, juga atas dasar yang sama, yaitu bahwa Dia sudah mati untuk menebus kita.

Rasul Paulus mengutarakan doktrin pembelaan dan pengantaraan ini dalam kata-kata yang sangat membesarkan hati serta nyaman didengar: “Apakah yang dapat dikatakan sekarang tentang semuanya itu? Kalau Allah memihak pada kita, siapakah dapat melawan kita? Anak-Nya sendiri tidak disayangkan-Nya, melainkan diserahkan-Nya untuk kepentingan kita semua; masakan Ia tidak akan memberikan kepada kita segala sesuatu yang lainnya? Siapakah yang dapat menggugat kita umat yang dipilih oleh Allah, kalau Allah sendiri menyatakan bahwa kita tidak bersalah? Apakah ada orang yang mau menyalahkan kita? Kristus Yesus nanti yang membela kita! Dialah yang sudah mati, atau malah Dialah yang sudah dihidupkan kembali dari kematian dan berada pada Allah di tempat yang berkuasa” (Rm. 8:31-34, BIMK).

“Yesus Kristus berada di pihak kita. Yesus adalah jawaban terhadap rasa takut akan penghukuman, karena Ia sudah mati, sudah dibangkitkan, dan sekarang secara terus-menerus memohon bagi kita dalam Bait Suci surgawi di sebelah kanan Allah” [alinea kedua: dua kalimat terakhir].

Pembela yang benar. Mengenai pelayanan Yesus Kristus sebagai pembela manusia dalam pengadilan surgawi, hal itu didukung oleh pernyataan yang tegas dari rasul Yohanes. “Anak-anakku! Saya menulis ini kepada kalian supaya kalian jangan berbuat dosa. Tetapi kalau ada yang berbuat dosa, maka kita mempunyai seorang pembela, yaitu Yesus Kristus yang adil itu; Ia akan memohon untuk kita di hadapan Bapa. Dengan perantaraan Yesus Kristus itulah dosa-dosa kita diampuni. Dan bukannya dosa-dosa kita saja, melainkan dosa seluruh umat manusia juga” (1Yoh. 2:1-2, BIMK; huruf miring ditambahkan). Kata “pembela” dalam ayat ini adalah interpretasi dari kata Grika παράκλητος, paraklētos, yang arti harfiahnya ialah “dipanggil untuk mendampingi” seseorang yang membutuhkan pertolongan (Strong, G3875). Perhatikan bahwa kata yang sama itu juga digunakan untuk Roh Kudus sebagai “Penolong” yang Yesus minta dari Bapa untuk mendampingi murid-murid-Nya (Yoh. 14:16, 26; 15:26).

“Pembela kita itu ‘benar,’ yang memberi kita kepastian bahwa Bapa akan mendengarkan permohonan Kristus, sebab Kristus tidak berbuat apa-apa sehingga Bapa-Nya yang benar itu akan menolak. Kristus mengantarai bagi orang-orang yang telah berdosa dengan mengajukan diri-Nya–Dia yang tidak berdosa itu–sebagai Orang Benar yang berdiri menggantikan mereka” [alinea terakhir].

Pena inspirasi menulis: “Sementara kita mengakui di hadapan Allah penghargaan kita akan jasa-jasa Kristus, bau yang harum bercampur pada pengantaraan kita itu. Sementara kita menghampiri Allah melalui kebaikan dari jasa-jasa Sang Penebus, Kristus menarik kita dekat ke sisi-Nya, merangkul kita dengan tangan kemanusiaan-Nya, sementara dengan lengan keilahian-Nya Ia meraih takhta Yang Tak Terhingga itu. Ia menaruh jasa-jasa-Nya sebagai dupa yang harum dalam pedupaan di tangan kita untuk mendorong permohonan-permohonan kita. Ia berjanji untuk mendengar dan menjawab permintaan-permintaan kita” (Ellen G. White, Signs of the Times, 14 April 1909).

Apa yang kita pelajari tentang Kristus sebagai Pengantara dan Pembela kita?
1. Sebagai pembela, Yesus mewakili kita dalam persidangan surgawi; sebagai pengantara, Yesus mewakili kita dalam permohonan pengampunan dosa di Bait Suci surgawi. Dwi fungsi ini dapat dijalankan Yesus Kristus secara bersamaan waktunya oleh karena takhta Allah adalah “ruang penghakiman” dan sekaligus “Bait Suci.”
2. Yesus Kristus dapat menjalankan fungsi sebagai Pembela orang berdosa sebab Dia sudah lebih dulu menjalani hukuman yang seharusnya ditimpakan atas manusia berdosa. Yesus juga bisa melaksanakan fungsi sebagai Pengantara karena Dia mempunyai suatu kurban untuk dipersembahkan, yaitu diri-Nya sendiri.
3. Pelayanan Kristus di bumi ini selama 4-5 tahun terakhir kehidupan-Nya tercatat dalam empat injil dan sebagian kecil kitab Kisah Para Rasul, tetapi pelayanan Kristus di surga selama hampir 2000 tahun terakhir ini hanya tertuang dalam beberapa pasal kitab Ibrani dan beberapa kitab PB lainnya secara sporadis. Namun kita harus serius mempelajarinya karena apa yang Kristus kerjakan di surga berkaitan langsung dengan kepentingan kita saat ini.

Selasa, 19 November
MENJEMBATANI MANUSIA DENGAN ALLAH (Pengantara)

Satu Allah, satu Pengantara. Dalam suratnya kepada Timotius, rasul Paulus menyarankan agar orang-orang Kristen rajin mendoakan pemerintah dan para pemimpin politik di tempat di mana mereka tinggal, supaya “kita dapat hidup tenang dan tenteram” untuk menjalankan peribadatan (1Tim. 2:2), dan menyebut hal itu “berkenan kepada Allah” (ay. 3). Pada bagian selanjutnya sang rasul beranjak kepada gagasan tentang keselamatan manusia dari sudut pandang Allah, yaitu bahwa Dia “menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (ay. 4). Apa hubungannya antara mendoakan pemerintah dan para pemimpin masyarakat dengan kehendak Allah supaya semua orang diselamatkan? Dengan campur tangan Allah dalam menggerakkan hati para pemimpin itu kita bisa lebih sukses dalam melaksanakan tugas penginjilan dan penyebaran kebenaran sehingga banyak orang dapat diselamatkan.

Selanjutnya beralih kepada bagaimana manusia itu diselamatkan. Tulisnya, “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan” (ay. 5-6; huruf miring ditambahkan). Kata Grika yang diterjemahkan dengan “pengantara” (BIMK: “penengah”) dalam ayat ini adalah μεσίτης, mesitēs, yaitu seseorang yang “menengahi” antara dua pihak, khususnya dalam persengketaan (Strong, G3316). Manusia bermusuhan dengan Allah karena dosa, sebab “dosa ialah pelanggaran hukum Allah” (1Yoh. 3:4); manusia bermusuhan dengan Allah akibat keinginan daging yang kita turuti, sebab “keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah” (Rm. 8:7); manusia bermusuhan dengan Allah oleh karena kita bersahabat dengan dunia, sebab “persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah” (Yak. 4:4). Itulah sebabnya kita memerlukan Penengah atau Pengantara untuk mendamaikan kita kembali dengan Allah.

“Kristus disebut seorang Penengah antara Allah dan manusia. Tidak ada yang lain lagi karena memang tidak ada lain yang diperlukan. Melalui kedudukan Kristus sebagai Pengantara, keselamatan dan pengetahuan akan kebenaran tersedia untuk semua (1Tim. 2:4). Pertanyaan yang penting bagi kita semua ialah apakah kita mau atau tidak mau memanfaatkan apa yang Kristus sudah tawarkan kepada masing-masing kita, terlepas dari status, ras, tabiat, atau perbuatan masa lalu kita” [alinea kesatu].

Didamaikan berdasarkan perjanjian yang baru. Sebagai pengantara atau penengah tentu saja fungsinya adalah untuk mendamaikan kedua pihak yang berseteru, dan itulah yang yang dilakukan oleh Yesus Kristus sebagai Imam Besar surgawi. Pelayanan keimamatan Yesus dilakukan menurut “perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan atas janji yang lebih tinggi” (Ibr. 8:6), yaitu “suatu perjanjian yang baru” (Ibr. 9:15), oleh karena Dia adalah “Pengantara perjanjian baru” (Ibr. 12:24).

“Ia telah mengadakan pendamaian. Walaupun dosa telah merusak persekutuan yang erat antara manusia dengan Allah dan akan membawa kepada kebinasaan umat manusia, Kristus datang untuk memulihkan hubungan itu. Inilah pendamaian itu. Dialah satu-satunya tautan antara Allah dengan manusia, dan melalui tautan ini kita dapat menikmati suatu hubungan perjanjian sepenuhnya dengan Tuhan” [alinea ketiga: empat kalimat terakhir].

Pena inspirasi menulis: “Membungkus keilahian-Nya dengan kemanusiawian, Ia datang ke bumi untuk disebut Anak Manusia dan Anak Allah. Ia adalah jaminan bagi manusia, dutabesar bagi Allah–jaminan bagi manusia untuk dipuaskan oleh kebenaran-Nya dalam tuntutan hukum atas nama manusia, dan mewakili Allah untuk menyatakan tabiat-Nya kepada manusia yang sudah jatuh” (Ellen G. White, Review and Herald, 22 Desember 1891).

Apa yang kita pelajari tentang Yesus Kristus sebagai Pengantara manusia?
1. Karena dosa maka manusia telah merusak hubungan dengan Allah, tapi perdamaian adalah ikhtiar Allah. “Dan melalui Anak itu pula Allah memutuskan untuk membuat segala sesuatu berbaik kembali dengan Dia–baik segala sesuatu yang di bumi, maupun yang di surga. Allah melakukan itu melalui kematian Anak-Nya di kayu salib” (Kol. 1:20, BIMK).
2. Yesus sendiri berhak untuk bertindak sebagai Pengantara dalam “perseteruan” antara manusia dengan Allah oleh sebab Dia telah “menanggung dosa kita, supaya kita berbaik kembali dengan Allah karena bersatu dengan Kristus” (2Kor. 5:21, BIMK).
3. Pendamaian yang dilakukan melalui pengantaraan Yesus Kristus itu didasarkan pada suatu perjanjian yang baru, perjanjian yang lebih mulia dan janji yang lebih tinggi. Perjanjian yang lama antara Allah dan manusia batal akibat kegagalan manusia memelihara perjanjian itu, dalam perjanjian yang baru ini tidak akan ada pembatalan.

Rabu, 20 November
KUALITAS KEIMAMATAN KRISTUS (Imam Besar Agung)

Sifat Imam Besar yang Agung. “Imam Besar” (Ibr. 2:17) hanyalah salah satu dari banyak gelar yang disandang oleh Yesus Kristus. Di seluruh Alkitab terdapat sekitar 200 predikat yang dikenakan pada Yesus, semuanya berhubungan dengan sifat dan fungsi-Nya. Di antaranya adalah Terang Dunia (Yoh. 8:12), Batu Penjuru (Ef. 2:20), Raja Damai (Yes. 9:6), Roti Hidup (Yoh. 6:35, 48), Penebus (Rm. 11:26), Pengantara (1Tim. 2:5), Juruselamat (Luk. 2:11), serta Anak Allah yang menerangkan keilahian-Nya (Luk. 1:35; Yoh. 1:49) dan Anak Manusia yang menegaskan kemanusiaan-Nya ketika berada di dunia (Yoh. 5:27). Dalam Ibrani 4:14, gelar Yesus Kristus ditingkatkan lagi dari “Imam Besar” menjadi “Imam Besar Agung.”

Dalam sebutan sebagai Imam Besar, bahkan Imam Besar yang Agung, tersirat dua hal utama: (1) seorang yang berfungsi sebagai Pengantara antara manusia dengan Allah, dan (2) seorang yang kudus atau diasingkan untuk suatu maksud istimewa. Yesus Kristus adalah Imam Besar Agung yang seperti Melkisedek ditahbiskan di luar ketentuan Hukum Musa yang diberikan di Sinai (Ibr. 5:6), tapi seperti halnya imam-imam dari suku Lewi itu Yesus juga mempersembahkan satu kurban sebagaimana dituntut oleh Hukum Musa ketika Ia mempersembahkan diri-Nya untuk mati bagi dosa-dosa kita (Ibr. 7:27). Namun, berbeda dengan imam-imam orang Lewi yang harus terus-menerus mempersembahkan kurban bagi diri mereka sendiri, Yesus cukup melakukannya satu kali untuk selamanya (Ibr. 9:12).

Keunggulan Yesus Kristus sebagai Imam Besar bukan karena kedekatan-Nya dengan Allah sehubungan dengan status-Nya yang asli sebagai Anak Allah ataupun karena Dia berasal dari surga, tetapi keunggulan-Nya terletak pada dua hal ini: (1) Yesus tidak pernah berbuat dosa, dan (2) Dia sudah mempersembahkan diri-Nya untuk mati sebagai kurban di salib. “Yesus adalah ‘Imam Besar Agung’ (Ibr. 4:14). Dia lebih unggul terhadap semua imam besar dan penguasa-penguasa dunia. Alkitab memberikan sejumlah ciri sifat kepada Yesus sebagai Imam Besar Agung” [alinea kesatu].

Keimamatan Yesus di surga. Beberapa saat menjelang kematian-Nya di atas salib, Yesus yang sudah lemas akibat deraan fisik yang dialami-Nya masih sempat berkata lemah, “Sudah selesai” (Yoh. 19:30). Dalam bahasa Grika kuno frase ini hanya tertulis dalam satu kata, Τετέλεσται, Tetelestai, yang artinya “sudah diselesaikan,” sebuah pernyataan yang secara tradisional diucapkan oleh seorang pemenang sehabis menyelesaikan suatu pertarungan. Kematian Yesus di kayu salib itu adalah kemenangan bagi rencana keselamatan bagi manusia berdosa. Tetapi sementara salib Kristus menyempurnakan dan mensahkan rencana keselamatan Allah tersebut, salib belum menjadi akhir dari seluruh rencana maha mulia itu. Tugas lain menunggu Yesus di surga, yaitu pelayanan keimamatan-Nya dalam Bait Suci surgawi.

“Bagi kita. Kristus tampil di Bait Suci surgawi di hadapan Allah ‘guna kepentingan kita’ (Ibr. 9:24), dan Ia mengadakan pengantaraan bagi kita (Ibr. 7:25). Bersyukur kepada Allah bahwa kita mempunyai Wakil ilahi untuk tampil dalam penghakiman di tempat kita” [alinea terakhir].

Pena inspirasi menulis: “Persembahan-persembahan kurban bayangan dari bait suci orang Yahudi tidak lagi memiliki makna. Pendamaian secara harian dan tahunan tidak perlu lagi. Tetapi oleh karena perbuatan dosa yang terus berlangsung, kurban penebusan dari Pengantara surgawi itu penting. Yesus, Imam Besar kita yang Agung, bertugas untuk kita di hadapan Allah, mempersembahkan atas nama kita darah-Nya yang tercurah” (Ellen G. White, The Youth’s Instructor, 16 April 1903).

Apa yang kita pelajari tentang pelayanan Yesus sebagai Imam Besar Agung di surga?
1. Kualitas keimamatan Kristus di Bait Suci surgawi mengungguli semua pelayanan keimamatan di Bait Suci duniawi karena, sebagai Imam Besar, Yesus tidak perlu mempersembahkan kurban bagi diri-Nya oleh sebab Dia tidak pernah berdosa, dan kurban yang dipersembahkan-Nya bukanlah hewan melainkan diri-Nya sendiri.
2. Keimamatan Kristus tidak didasarkan pada Hukum Musa seperti yang berlaku bagi para imam dan imam besar PL, tetapi keimamatan-Nya didasarkan pada “peraturan Melkisedek” (Ibr. 5:6; 6:20), dan “Ia dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah” (Ibr. 5:10).
3. Kematian Yesus di kayu salib mengakhiri fase penebusan dosa manusia; kebangkitan-Nya mengawali fase pelayanan keimamatan-Nya untuk pengampunan dosa manusia. Kriteria dan persyaratan sebagai Imam Besar surgawi dipenuhi Yesus Kristus dalam kehidupan dan pelayanan-Nya di dunia ini.

Kamis, 21 November
KRISTUS ADALAH SOLUSI (Satu Persembahan Kurban)

Jalan keluar atas dosa. Kalau ada satu masalah yang barangkali “memusingkan” Allah maka itu adalah masalah dosa manusia. Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, sebenarnya Allah mempunyai tiga opsi (pilihan) untuk menyelesaikannya. Pertama, membinasakan pasangan manusia pertama itu lalu menciptakan pengganti mereka; kedua, meninggalkan planet Bumi ini bersama isinya sampai hancur binasa sesuai hukum yang Allah tetapkan atas dosa; ketiga, mengikhtiarkan rencana keselamatan atas pasangan manusia pertama beserta keturunan mereka. Allah memilih opsi yang ketiga, dengan segala konsekuensinya!

Masalah dosa bersifat dilematis karena dua sifat Allah yang menyatu dan tak terpisahkan, yaitu kasih dan adil. Allah itu kasih (1Yoh. 4:8), dan Allah itu adil (1Yoh. 1:9). Kasih Allah menuntut pengampunan atas dosa manusia, dan pada saat yang sama keadilan Allah menuntut hukuman atas orang berdosa. Maka untuk mengimplementasikan keduanya, menerapkan asas yang satu tanpa mengabaikan yang lainnya, Allah dalam hikmat-Nya yang tak terbatas telah mengadakan jalan keluar atas dosa melalui apa yang disebut “kasih karunia Allah” dalam Yesus Kristus. Rasul Paulus sangat tepat ketika menyimpulkan formula ini: “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm. 6:23; huruf miring ditambahkan). Dalam gaya bahasa yang khas pemazmur berkata: “Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman” (Mzm. 85:11; huruf miring ditambahkan).

“Dosa adalah sesuatu yang terlalu dahsyat untuk sekadar diatasi oleh kematian binatang (betapapun menyedihkan dan malangnya kematian-kematian itu). Gantinya, semua darah yang ditumpahkan itu merujuk kepada satu-satunya jalan keluar bagi dosa, dan itu adalah kematian Yesus sendiri. Bahwa hal itu menuntut kematian-Nya, kematian dari Dia yang setara dengan Allah (Flp. 2:6) dalam rangka penebusan atas dosa, menunjukkan alangkah buruknya dosa itu sesungguhnya” [alinea kesatu: tiga kalimat terakhir].

Hanya oleh darah Kristus. Sementara upacara penyembelihan hewan untuk kurban bakaran adalah perintah Allah demi pengampunan dosa di zaman Israel purba, sebuah ritual keagamaan yang efektif secara terbatas, pengampunan dosa yang bersifat komprehensif dan obyektif harus melalui penumpahan darah Kristus yang disebut “Anak Domba Allah” (Yoh. 1:29). Hanya oleh darah Kristus saja dosa manusia benar-benar diampuni bahkan dihapuskan untuk selama-lamanya (Rm. 6:10). “Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup” (Ibr. 9:13-14).

“Banyak kebenaran penting bergema dengan nyaring dari ayat-ayat ini, salah satunya yang paling penting ialah bahwa kematian binatang-binatang itu tidaklah cukup untuk mengatasi masalah dosa. ‘Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapus dosa’ (Ibr. 10:4). Darah binatang-binatang itu hanya menunjuk kepada jalan keluar; darah binatang itu sendiri bukan jalan keluar. Solusinya adalah Yesus, kematian-Nya, dan kemudian pelayanan-Nya di Bait Suci surgawi demi kepentingan kita” [alinea kedua].

Pena inspirasi menulis: “Yesus adalah Pembela kita, Imam Besar kita, Pengantara kita. Posisi kita adalah seperti bangsa Israel pada Hari Pendamaian. Bilamana imam besar memasuki bilik mahasuci yang melambangkan tempat di mana Imam Besar kita sedang melakukan pembelaan sekarang ini, dan memercikkan darah yang mendamaikan itu ke atas tutup pendamaian, tidak ada kurban pendamaian yang dipersembahkan di luar. Sementara imam itu mengadakan pengantaraan dengan Allah setiap hati harus tertunduk dalam penyesalan akan dosa, memohon pengampunan atas pelanggaran” (Ellen G. White,Signs of the Times, 28 Juni 1899).

Apa yang kita pelajari tentang satu korban yang menghapuskan seluruh dosa manusia?
1. Rencana keselamatan melalui pengampunan dosa oleh kematian Yesus Kristus adalah ikthiar Allah. Manusia yang berbuat dosa, Allah yang mencarikan jalan keluarnya. Dalam melakukan itu sifat kasih dan keadilan Allah bukan saja tetap terjaga tapi bahkan semakin dipertegas.
2. Upacara persembahan kurban di Bait Suci pada zaman PL adalah perintah Allah melalui Musa, karena itu upacara tersebut efektif bagi pengampunan dosa untuk tahap dan lingkup yang terbatas. Melalui darah Kristus yang tercurah di kayu salib pengampunan dosa oleh darah binatang itu disahkan, dan pengampunan dosa berlaku lebih komprehensif.
3. Sekarang ini kita hidup dalam “masa Hari Pendamaian” di mana Yesus Kristus berada pada tahap “bilik mahasuci” untuk memohon pengampunan atas dosa kita semua, tiap-tiap hari. Menyadari akan hal itu maka seharusnyalah hati kita senantiasa dalam suasana pertobatan dan penyesalan akan dosa sebagaimana umat Israel pada zaman Musa.

Jumat, 22 November
PENUTUP

Imam Besar yang penuh pengertian. Bagi mereka yang meragukan kemanusiaan Kristus ketika hidup di dunia ini perlu menyimak kembali dengan lebih seksama peristiwa ketika Yesus digoda oleh Setan (Mat. 4:1-11). Yesus digoda dengan nafsu jasmani (mengubah batu jadi roti, dalam keadaan lapar setelah berpuasa 40 hari), digoda untuk memamerkan kekuasaan dengan perilaku yang konyol (melompat dari bubungan Bait Suci supaya malaikat-malaikat datang menolong), dan digoda dengan harta dunia (asalkan mau menyembah Setan satu kali saja). Pikirkanlah, kalau saat itu Yesus adalah sebagai Anak Allah dan bukan dalam keadaan kemanusiaan, bukankah Setan sangat bodoh untuk menggoda Penguasa alam semesta ini dengan hal-hal yang tidak berarti itu? Anda tidak bisa “menggoda” seorang milyarder dengan uang sejuta rupiah untuk mau sujud kepada anda, bukan?

Bersyukur kepada Tuhan bahwa anda dan saya mempunyai Imam Besar, Pengantara dan Pembela kita, yang mengerti apa artinya digoda oleh Setan karena Dia pernah mengalaminya sendiri tetapi tidak jatuh dengan godaan itu. Namun Yesus mengerti kalau anda dan saya bisa terjebak dalam muslihat Setan dan jatuh ke dalam dosa, sekalipun hati-Nya bersedih namun Dia mau membela kita dan mengantarai kita dengan Allah Bapa untuk mendapatkan pengampunan. Sebab Yesus adalah Imam Besar yang penuh pengertian dan pengasihan.

“Yesus adalah pengantara yang berbelas kasihan, imam besar yang murah hati dan setia. Dia yang adalah Penguasa surga–Raja Kemuliaan–dapat memandang kepada manusia yang fana, sasaran penggodaan Setan, menyadari bahwa dia telah merasakan dahsyatnya tipu daya Setan” [alinea kesatu: dua kalimat terakhir].

“Saya menulis kepadamu, Anak-anak, sebab dosamu sudah diampuni karena Kristus. Saya menulis kepadamu, Bapak-bapak, sebab kalian mengenal Dia yang sudah ada sejak awal mula. Saya menulis kepadamu, Orang-orang muda, sebab kalian sudah mengalahkan Si Jahat. Saya menulis kepadamu, Anak-anak, sebab kalian mengenal Allah Bapa. Saya menulis kepadamu, Bapak-bapak, sebab kalian mengenal Sabda yang sudah ada sejak awal mula. Saya menulis kepadamu, Orang-orang muda, sebab kalian kuat. Perkataan Allah ada di dalam hatimu, dan kalian sudah mengalahkan Si Jahat” (1Yoh. 2:12-14, BIMK).

Leave a Reply